Buletin TIPIS April 2012 #1

 

Forum Diskusi Mahasiswa (Fordisma) yang dilaksanakan pada tanggal 29 Maret 2012 di teras abu Gedung C sebagai wadah sosialisasi perubahan nama Fakultas Sastra (Fasa) menjadi Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Diundang Reza Dinaputra (Pembantu Dekan 1) dan M. Nasihuddin (ketua BEM GAMA FASA UNPAD periode 2010-2011) sebagai narasumber. Acara serupa direncanakan akan diadakan setiap dua bulan sekali, tentunya dengan mengangkat tema berbeda setiap edisinya.

Berdasarkan penuturan Bapak Reza Dinaputra, Fakultas Sastra berdiri pada tanggal 1 November 1958 dengan tiga progam studi Ilmu Sejarah, Sastra Indonesia/Daerah, dan Satra Inggris. Kemudian dibuka program studi Sastra Mandarin dan Antropologi. Pada tahun 1965 Prodi Sastra Mandarin dibubarkan sedangkan prodi Antropologi dipindahkan ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Tahun 1987 dibuka program studi Usaha Perjalanan Wisata untuk jenjang Diploma III. Penambahan kurikulum kajian budaya dan filologi pada tahun 2000. Perubahan nama dan kurikulum berarti pula adanya kebutuhan tenaga pengajar yang tidak hanya punya pengetahuan kesusastraan saja tetapi juga mengenai kebudayaan.

Menurut beliau gagasan tentang pergantian nama ini sudah berhembus sejak 2002 namun tak mendapatkan perhatian serius. Usulan ini masih sebatas semangat perubahan menuju arah yang lebih baik. Memerlukan proses yang panjang agar perubahan nama ini bisa direalisasikan sekarang pada saat Bapak Dadang Suganda menjabat sebagai Dekan FIB.

Tahun 2010 Senat Universitas Padjadjaran menyetujui rencana terkait perubahan nama Fasa menjadi FIB. Senat Unpad berinisiatif mengadakan sidang terbuka pada 3 Januari 2012 sebagai reaksi lamanya proses persetujuan pergantian nama oleh kemendiknas. Hasilnya Bapak Ganjar Kurnia (Rektor Universitas Padjadjaran) menyetujui untuk mengesahkan Surat Keputusan Perubahan Nama Fasa menjadi FIB pada tanggal 5 Januari 2012. Disaat yang hampir bersamaan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran pun berganti nama menjadi Fakultas Ekonomik dan Bisnis. Dengan nama yang sudah berubah maka mulai tahun ajaran 2012 akan diterapkan sebuah kurikulum yang berbasis kompetensi dengan ditambahkannya empat kompetensi dasar yang harus dimiliki setiap mahasiswa yaitu: kepariwisataan, kewirausahaan, kajian budaya, dan diplomatik. Diharapkan nantinya mahasiswa akan lebih aktif dan aplikatif dalam berkomunikasi menggunakan bahasa yang telah dipelajari di kampus. Akan dibuka juga program studi Arkeologi dan Kepariwisataan untuk jenjang S1, S2 dan S3. Serta setelah pengesahan Surat Keputusan oleh Kementrian Pendidikan, lulusan FIB akan bergelar Sarjana Humaniora (S.Hum).

Pembenahan sarana dan prasarana juga dilakukan: pembangun gedung perkuliahan baru dan renovasi laboratorium bahasa. “Pada tanggal 10 April 2012 nanti akan diadakan peluncuran FIB yang diharapkan diikuti oleh semua [mahasiswa] jenjang (D3 dan S1) dari semua program studi. Dan mulai dari saat ini saya harapkan kalian semua [mahasiswa FIB-red] akan menyuarakan bahwa kalian bangga menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya!” pungkas Bapak Reza.

 

Apa kata Dekan tentang FIB?

Diubahnya nama Fasa menjadi FIB seperti penuturan Prof. Dr. Dadang Suganda sebenarnya sudah lama digagas oleh Bapak Prof. Dr. Edi S. Ekajadti ketika menjabat sebagai Dekan Fasa Unpad periode 1995-2002 silam. Hal tersebut hanya menjadi wacana yang tidak direalisasikan. Tetapi perubahan nama dirasakan menjadi sangat perlu seiring berjalannya waktu. Dan pada kenyataannya yang di pelajari setiap hari tidak hanya ilmu kebahasaannya saja tetapi juga kebudayaan masing-masing jurusan.

Untitled
Alasan-alasan lain, pertama adanya kekhawatiran akan lulusan Fasa kurang memiliki kompetensi di masyarakat. Kedua terkait akan ada banyak akses program kejasama lapangan kerja dengan alumni. Serta perlunya penyesuaian kurikulum dengan dinamika masyarakat saat ini.

Tahun 2008 dimulailah upaya-upaya realisasi perubahan nama fakultas ini. Diawali dengan sosialisasi dan pembentukan tim pengurus seluruh persyaratan perubahan fakultas. Hasilnya diturunkannya Izin Prinsip Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Nomor 921/D5.1/T/12 tanggal 21 Februari 2011 dan Surat Keputusan Rektor Nomor 350/UN6.RKT/PP/2012 tanggal 5 Januari 2012 yang meresmikan perubahan nama Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Dampak dari perubahan nama ini dalam berbagai bidang yaitu sebagai berikut:

1. Akademik. Penambahan Mata Kuliah Umum (MKU) diplomasi, kewirausahaan, pariwisata, dan kajian budaya dengan mengurangi bobot SKS MKU yang diambil tetapi tidak menghapus MKU yang sudah ada. Kebijakan ini akan mulai diberlakukan pada tahun ajaran 2012/2013. Bagi mahasiswa angkatan 2008, 2009, 2010, dan 2011 diberikan kebebasan untuk mengambil atau tidak MKU baru tersebut. Terkait dengan penambahan Mata Kuliah Jurusan, itu tergantung kebijakan setiap jurusan. Namun yang pasti MKJ baru tersebut harus menititikberatkan pada aspek kebudayaan.
2. Tenaga pengajar. FIB akan bekerjasama dengan beberapa instansi untuk mendatangkan tenaga pengajar bagi tiga MKU tambahan: pakar budaya untuk MKU Kajian Budaya, NHI untuk MKU Pariwisata, KADIN untuk MKU Kewirausahaan, dan FISIP Unpad untuk MKU Diplomasi. Selain itu juga meningkatkan wawasan dosen pengajar FIB dengan mengikutkan pada seminar setiap bulan serta les bahasa Inggris.
3. Fasilitas. Fasilitas-fasilitas tambahan sebagai penunjang pembelajaran akan dipusatkan di Gedung D yang sedang dalam proses pembangunan, meliputi Pusat Linguistik, Budaya, dan Bahasa di lantai 2 dan Museum di lantai pertama. Peemenuhan fasilitas di bidang kepariwisataan akan berkerjasama dengan NHI.
4. Perubahan nama program studi. Masih dalam proses, namun Prodi Sastra Sunda sudah mengusulkan menjadi Prodi Kajian Sunda.
5. Gelar. Perubahan nama gelar lulusan dari sebelumnya Sarjana Sastra (S.S) menjadi Sarjana Humaniora (S.Hum) belum dapat dilakukan untuk saat ini, masih menunggu pengakuan dari nomenklaktur kepegawaian.
6. Penjurusan akademik. Diluar penjurusan yang sudah terlebih dulu ada (linguistik, sastra, dan filologi) akan ditambah dengan diplomasi, kewirausahaan, pariwisata, kajian budaya. Bagi angkatan-angkatan sebelum tahun 2012 dipersilakan untuk mengambil penjurusan baru atau mengambil tema skripsi jurusan yang baru.
7. Prospek kerja. Jaminan lulusan FIB dapat menguasai dan berkomunikasi dengan bahasa yang telah dipelajari dengan langkah konkrit mengadakan tes kebahasaan (TOEFL, DELF/DALF, dan lain-lain) yang diselengglarakan oleh FIB, sehingga
lulusannya mampu bekerja dalam ranah kerja yang berhubungan dengan kebudayaannya.
8. Visi, misi, dan Hymne Fakultas. Sudah ada revisi visi misi, dan hymne Fakultas dan akan disosialisasikan pada saat peluncuran FIB Unpad pada tanggal 10 April 2012.
9. Selain perubahan-perubahan tersebut, muncul wacana penambahan program studi baru di fakultas ini yaitu Program Studi Filsafat, Perfilman (Dokumenter) dan Program Studi Seni (Kotemporer/Tradisional). Tetapi belum dapat direalisasikan karena masih diperlukannya proses pembangunan fisik dan non fisik pada FIB ini. Tulisan “Fakultas Sastra” di Gedung A direncanakan akan tetap dipertahanknan untuk mengingat nilai histotris yang mendalam yang terkandung di dalamnya.
10. Beliau pun berharap setelah perubahan nama fakultas ini, mahasiswa mampu memperkaya kegiatan yang berbasis budaya secara luas guna mengembangkan diri serta siap bahu-membahu dalam pembangunannya ke depan sehingga masyarakat tidak ragu untuk menerima lulusan FIB Unpad kelak. (TIPIS/FA)

 

Pengguntingan Pita FIB

Gelaring Fakultas Ilmu Budaya (10/4) yang bertempat di Pelataran Parkir Fakultas Ilmu Budaya di hadiri oleh Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA., serta para undangan yaitu Dekan FMIPA, FTIP, Fakultas Keperawatan, Fakultas Farmasi serta Dirut Bank BNI. Acara diawali dengan arak-arakan yang meriah, peserta arak-arakan merupakan perwakilan jurusan-jurusan FIB dan lembaga-lembaga kemahasiswaan. Dimulai pukul 08.00 WIB para perserta arak-arakan beranjak dari Balai Santika menuju Fakultas Sastra, sesampainya rombongan arak-arakan di Fakultas Sastra dilaksanakanlah pengguntian pita FIB yang menandakan bahwa Fakultas Ilmu Budaya telah diresmikan dengan penandatanganan prastasti dan peresmian tugu FIB oleh rektor dengan di iringi oleh tarian merak yang sangat indah, maka resmilah Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Budaya.

Kemudian acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne Unpad dan Hymne Sastra yang ditembangkan untuk terakhir kalinya. Setelah itu dilanjutkan oleh sambutan dr.Reiza D. Diena Putra selaku ketua panitia Gelaring FIB. Di acara ini di perkenalkan juga Karategan FIB dan Mars FIB yang di nyanyikan oleh perwakilan civitas FIB kemudian secara simbolis teks Karategan FIB dan Mars FIB yang diserahkan dari pencipta lagu, Lili Suparti M.sn selaku pencipta karategan FIB dan Kunto Sofianto, Ph.D selaku pencipta Mars FIB kepada Dekan FIB, Prof. Dr. Dadang Suganda, M.Hum.

Setelah itu beranjak ke sesi acara berikutnya yaitu pembukaan PILDEK 2012 (Piala Dekan 2012) oleh dekan FIB, Prof. Dr. Dadang Suganda, M.Hum yang diawali dengan parade perwakilan atlet dari setiap cabang olahraga yang di lombakan yaitu cabang bulu tangkis, bola basket, futsal dan sepak bola. Kemudian para undangan, dosen, staf, dan mahasiswa melukis bersama di atas sebuah kanvas besar dalam rangka Berekspresi bersama FIB dalam bahasa rupa. Tidak ketinggalan juga partisipasi himpunan-himpunan mahasiswa dan LK (lembaga kemahasiswaan) yang turut menyemarakkan gelaring FIB dengan menampilkan pentas kreativitas seni.

Rangkaian acara gelaring FIB selesai pada pukul 15.00 WIB, acara ini sekaligus menjadi tonggak sejarah perubahan Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Budaya yang diharapkan dapat menjadi fakultas yang lebih baik dan membawa perubahan positif bagi seluruh elemen civitas akademia FIB. (TIPIS/FA/DR)

Testimoni acara gelaring FIB:
Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA. Rektor Unpad
Perubahan sedianya membawa perubahan- perubahan lainya, apalah arti sebuah nama, seperti bunga rose mau di ganti menjadi apapun namanya harus tetap semerbak. Semoga perubahan ini akan membawa semangat dan juga jangan hanya namanya saja yang berubah

Prof. Dr. Anas Subarnas, MSc., Apt., Dekan Farmasi
Spektakuler, sebuah sejarah yang spektakuler, perubahan ini harus disyukuri oleh mahasiswa dan dosen, acara ini spektakuler karena dari sekian banyak rumpun bisa bersatu

Damayanti Priatin, M.hum, Dosen Sastra Jerman
Perubahan nama itu bagus dan harus menjadi lebih baik, kurikulum dan akademik harus disesuaikan dengan nama, acara ini menyenangkan yang menandai adanya sebuah perubahan

Untitled2Untitled3