THEATRON 2015: YANG MUDA YANG BERBUDAYA

Teater dari Sastra Rusia, Masih Lekru sedang beraksi di atas panggung (Foto: Indah)

Jatinangor – Senin, 30 Desember 2015, Teater Mata Mawar kembali menggelar pagelaran teater bernama THEATRON 2015. Theatron merupakan suatu pagelaran teater yang diselenggarakan oleh Teater Mata Mawar dari Sastra Jerman, Universitas Padjadjaran. Acara tahunan yang digelar untuk yang kedua kalinya ini bertempat di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ), Universitas Padjadjaran.  Tahun ini Theatronmengusung tema folklor atau cerita rakyat. “Sekarang kan banyak nih, anak muda yang nggak tahu cerita rakyat, banyak yang nggak mau tahu sama budaya kita sendiri, jadi di sini kita memperkenalkan tema cerita rakyat supaya yang muda bisa tahu nih, ada cerita rakyat bukan hanya di Indonesia, tetapi negara lain juga,” ujar Muhammad Ridwan selaku ketua pelaksana Theatron 2015 yang ditemui selepas acara. Teatron 2015 dimeriahkan oleh 6 UKM Seni Teater yang berasal dari berbagai jurusan di Fakultas Ilmu Budaya, seperti Teater Mata Mawar (Sastra Jerman), Teater Ilmu Sejarah (Ilmu Sejarah), Henshin (Sastra Jepang), Masih Lekru (Sastra Rusia), Teater Djati (Sastra Indonesia), dan TEPASS (Sastra Sunda). Selain itu, acara ini juga diramaikan oleh tiga pengisi acara, antara lain The Joni, Anonix, dan Gigolos. Acara yang dimulai sekitar pukul 13.30 ini dibuka dengan penampilan dari Anonix yang membawakan lagu-lagu akustik. Penampilan teater pertama diisi oleh Teater Mata Mawar dari Sastra Jerman. Dalam pertunjukan kali ini, Teater Mata Mawar menampilkan sebuah drama dari cerita rakyat Jerman berjudul Die Sterntälter.Cerita yang penuh dengan pesan moral mengenai kebaikan ini berkisah tentang seorang anak perempuan yang menjadi miskin setelah ibunya meninggal dan harus melanjutkan kehidupannya serta berbuat baik kepada orang-orang sesuai dengan perkataan Ibunya. Penampilan kedua, yaitu monolog dari Ilmu Sejarah yang berjudul Dewi Kadita. Monolog yang dibawakan oleh Herfyan Wibowo ini bercerita tentang kisah seorang Dewi bernama Dewi Kadita yang diusir dari kerajaan karena menderita penyakit menular. Akibatnya, ia mengasingkan diri untuk menyembuhkan penyakitnya hingga menemukan ramuan kecantikan dan menobatkannya menjadi Ratu Pantai Selatan. Teater Henshindari Sastra Jepang menampilkan dramaberjudul Tanabata. Drama ini bercerita tentang pohon bambu yang mengisahkan asal-usul hari Tanabata. Dibungkus dengan sentuhan romatis yang dibalut komedi, Teater Henshin berhasil menghibur para penonton yang hadir. Sastra Rusia dengan teaternya, Masih Lekru, membawakan drama yang berjudul Pesta Kawin Jenderal. Diambil dari karya Anton Chekhov dan diadaptasi karya saduran W.S. Rendra, cerita ini mengisahkan  tentang seorang janda yang ditinggal suaminya berbulan-bulan, dan mengasingkan dirinya  didalam rumah ditemani oleh pembantunya yang setia. Masih Lekru menggabungkan seni pertunjukan teater dengan musik dan tarian tradisional khas Rusia. Tak hanya teater, dalam acara yang memiliki tagline “yang muda yang berbudaya” ini juga menampilkan pertunjukan musik, seperti The Joni, band yang anggotanya berasal dari FTG ini tampil sesudah Teater Masih Lekru. Setelah The Joni, Teater Djati dari Sastra Indonesia berhasil membuat penonton tercengang dengan dramanya yang berjudul Sekadar. Drama yang disutradarai Ellynda Mufidah ini merupakan kritik atas sikap masyarakat yang sering menyederhanakan suatu masalah. Setelah Teater Djati, tampil Gigolos, kelompok tari saman yang berasal dari FTG ini berhasil menghibur seluruh penonton yang hadir. Tari saman yang dibawakan Gigolos memang berbeda dan unik. Hal ini merupakan upaya untuk mengenalkan budaya Indonesia dengan cara yang menarik. TEPASS, UKM Teater Mahasiswa Sastra Sunda mengakhiri acara Theatron 2015 ini. TEPASS mempersembahkan monolog berjudul Waduk. Dibawakan oleh Wiky Ardiansyah, monolog ini menceritakan isu hangat mengenai keresahan masyarakat terhadap pembuatan Waduk Jatigede, Sumedang yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi polemik. Dengan adanya Theatron, UKM Seni Teater di FIB setidaknya bisa mempunyai wadah untuk menyalurkan kreatifitasnya serta menunjukkan eksistensinya. Tujuan utama Theatron 2015 adalah untuk membuat seni teater lebih diperhatikan dan dipedulikan. Terlepas dari kekurangannya, Theatron 2015 berhasil menunjukkan bahwa masih banyak anak muda yang peduli akan budayanya. (Indah/Ulfa)

0

Komentar