Teman Sekamar

Hanna Azzahra
221 views

Sejak masuk dunia perkuliahan, baru kali ini aku punya teman sekamar. Padahal aku sudah menjadi mahasiswa semester tiga, tapi baru tahun ini aku memutuskan untuk menerima teman sekamar di kamar asramaku yang sebenarnya tidak luas-luas amat ini. Aku sih nggak keberatan, toh, dia teman sekamar yang baik.

            Awalnya memang terasa aneh berada di satu ruangan yang sama dengan orang asing, apalagi karena aku sudah terbiasa tinggal sendirian. Akan tetapi, setelah beberapa hari berlalu, aku rasa aku mulai terbiasa dan malah menyukainya. Teman sekamarku itu tidak banyak protes dengan kebiasaanku begadang sampai pagi buta sambil mendengarkan musik keras-keras. Dia juga tampak tidak terganggu dengan tumpukan sampah di tempat sampahku yang mulai mengeluarkan bau-bau tidak sedap, dan meskipun dia sudah menawarkan untuk membuang sampah-sampah itu untukku, aku menolaknya dan meyakinkannya aku akan membuangnya jika aku sudah niat.

            Dia juga tidak pernah mengeluh karena aku terlalu sering berada di luar dan baru pulang saat tengah malam. Alih-alih menyambutku dengan kesal, dia selalu menyambutku dengan hangat dan kami biasanya akan menghabiskan waktu berdua dengan menonton berita televisi malam hari sambil bertukar cerita tentang kegiatan kami hari itu. Aku sadar bahwa sebenarnya aku yang lebih banyak mengoceh dibandingkan dia, tapi dia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Dia memang pendengar yang sangat baik.

            Jujur saja, aku jadi merasa tidak enak. Aku sudah terlalu banyak merepotkannya dan karena dia sama sekali tidak pernah mengeluh tentang semua kelakuanku sekalipun membuatku semakin merasa bersalah. Dia sudah jadi teman sekamar yang baik, masa aku tidak mau menjadi teman sekamar yang baik juga untuknya?

            Maka dari itu, malam ini, sebelum aku pulang ke asramaku, aku menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah restoran makanan cepat saji dan membeli beberapa burger serta minuman bersoda. Aku yakin dia pasti akan menyukai kejutanku malam ini. Untuk mempersingkat waktu, aku memesan melalui layanan drive-thru. Hanya butuh waktu sepuluh menit sampai akhirnya pesananku tiba. Aku membayarnya dengan uang pas—aku selalu membayar apapun yang aku beli dengan uang pas, dan sebelum si penjaga kasir sempat memberikan struk pembelianku atau melihat wajahku dengan jelas, aku bergegas meninggalkan restoran tersebut.

            Dengan kantung berisi makanan di tanganku, aku berjalan dengan santai menuju kamar asramaku sambil bersiul-bersiul kecil. Suasana asrama terhitung sepi ketika aku tiba. Wajar sih, ini sudah larut malam. Kebanyakan mahasiswa yang tinggal di sini pasti sudah tidur atau sibuk di kamarnya masing-masing.

            Ketika aku sampai pintu depan kamar asramaku, aku mencium bau amis dan busuk yang lumayan menyengat.

            Sial.

            Aku rasa aku harus beli lebih banyak kamper besok pagi.

            “Aku pulang!” seruku, tepat setelah aku masuk kedalam kamar asramaku dan mengunci pintunya rapat-rapat. Seperti biasa, teman sekamarku menyambutku dengan hangat. Aku tersenyum lebar melihatnya.

            “Lihat, aku bawa burger dan soda untuk kita berdua.” kataku, sedikit agak bersemangat. Adrenalin membuat bicaraku jadi tidak jelas. “Kita bisa menikmatinya sambil menonton televisi!”

            Dia membalas perkataanku dengan sebuah senyuman dan anggukan pelan dari kepalanya yang kaku. Ya ampun, bahkan setelah tinggal bersamaku selama ini dia masih saja bersikap malu-malu.

            Benar-benar teman sekamar yang menggemaskan.

            Aku duduk di sampingnya, meraih remot, kemudian menyalakan TV. Ah, kebetulan sekali. Acara berita malam hari yang biasa kami tonton bersama sudah dimulai.

            “Ayo, jangan malu-malu gitu, dong! Ambil saja burgernya sesukamu!” seruku kepada si teman sekamarku itu, tapi kali ini dia hanya membalasnya dengan sebuah anggukan pelan. Matanya menatap lurus ke arah televisi, sepertinya dia sedang serius menyaksikan berita yang sedang tayang.

            “…Telah dua minggu berlalu sejak kasus hilangnya Januar, mahasiswa semester tiga di Fakultas Ilmu Budaya. Keluarga, kerabat serta teman-teman di kampusnya menduga bahwa yang bersangkutan telah menjadi korban dari penculikan yang tengah marak akhir-akhir ini. Pihak kepolisian terus berusaha untuk mencari jejaknya. Januar terakhir kali terlihat memakai kaos t-shirt berwarna biru cerah dan celana jeans di sekitar rumah indekos miliknya. Segera laporkan kepada pihak berwajib jika anda menemukannya.

            Aku menatap teman sekamarku. Senyuman lebar tersungging di bibirku ketika melakukannya.

            Tidak, mereka salah.

            Berita itu salah.

            Januar tidak menghilang, kok.

            “Mereka sok tahu, ya?” tanyaku, tapi kali ini tidak ada balasan apapun darinya.

            Yah, aku mengerti kenapa dia tidak menanggapinya. Dia tahu aku benar. Lagipula, aku juga tidak bisa berharap banyak dari seseorang yang lehernya sudah aku gorok sejak dua minggu yang lalu.

            “Januar, kamu memang teman sekamar yang paling baik. Kita seperti ini terus saja, ya?”

***

Editor: Irna Rahmawati

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya