Semester 5 dan Masalah Keintelektualan FIB

M Dzaky Abdullah
169 views
Semester 5 yang menyebalkan

Kamis, 14 Oktober, saya dibangunkan denting besi-ke-besi jam weker pada pukul 06.00. Lalu saya mandi, tidak lupa menggosok gigi, dan merapikan tempat tidurku. Lalu datang lah pukul 08.00, yang sebenarnya tidak ada yang istimewa kecuali datangnya notifikasi Google Classroom mata kuliah Kemahiran Bahasa Indonesia Tulis, yang isinya kurang lebih begini, “tidak ada pertemuan kelas, coba kalian berlatih menulis paragraf deduktif mengenai keadaan kamar kalian.”

Dan seperti biasa, di kolom komentar—juga di grup WhatsApp kelas-kelas lainnya di hari itu—dipenuhi dengan, “Baik, terima kasih, Pak.”

Pukul 08.10 saya duduk di depan layar laptop, latihan menulis paragraf sudah saya selesaikan. Baru saya menyadari, di halaman terakhir salindia yang diunggah oleh bapak dosen, tenggat waktu yang diberikan untuk satu paragraf tersebut adalah satu minggu. Satu paragraf, 8 kalimat, 168 jam. 21 jam per kalimat. Betapa lapang hatinya beliau!

Jam 14.20, masuk jadwal kelas MKWF (Mata Kuliah Wajib Fakultas), kebetulan saya mengambil mata kuliah Kepariwisataan. Pada saat itu, saya sedang di Perpustakaan Batu Api dan sedang bertemu dengan sejawat jurusan saya, ia mengambil MKWF Diplomasi Budaya.

Sejujurnya, MKWF semester 5 ini sama sekali tidak berada dalam peminatan saya. Sama sekali bukan tujuan awal saya berkuliah di fakultas sastra. Saya, yang lebih suka meringkuk di rumah saat musim liburan, yang tidak bisa dan tidak mau berjualan, yang tidak berminat berdiplomasi, tidak begitu tertarik dengan premis-premis mata kuliah Kepariwisataan, Diplomasi Budaya, dan Kewirausahaan.

Saya yang sebenarnya sedang bengong mengikuti kelas, tiba-tiba terpincut kata-kata dosen yang keluar lewat earphone saya. Beliau melemparkan pertanyaan retoris kepada 400 mahasiswa yang ada di ruangan Zoom itu; mengenai pengalamannya berwisata ke Singapura. “Bagaimana bisa negara sekecil itu menjadi tujuan wisata yang sangat strategis? Sampai-sampai orang-orang Indonesia rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk mengunjungi negara tetangganya itu,” tanyanya. Dari nadanya, beliau kagum.

Kebetulan, pada hari sebelumnya, saya baru saja membaca berita mengenai pekerja migran di Singapura yang terjebak di negeri itu dan diperlakukan seperti “budak” selama pandemi. Sebagai kelompok—yang seharusnya—intelektuil, bolehkah kita menyanjung kemewahan negeri orang tanpa memperhitungkan kelas pekerja yang membangun kemewahan itu sendiri, yang terjebak dalam siklus kekerasan simbolis dengan kelas majikannya? Tanya saya balik, menggunakan ilmu yang saya dapatkan dari MKWF lainnya di semester 3, dan tidak saya sampaikan di ruang Zoom itu tentunya.

Saya melirik teman saya di sebelah, wajahnya sama bosannya dengan wajah saya. Lalu saya mengambil notebook hitam yang saya bawa dari dalam tas dan menuliskan wasweswos yang baru saja lewat di pikiran saya. Di halaman kosongnya saya tulis, “MKWF semester 5 lahir dari—dan sebagai manifestasi—kecemasan mahasiswa dan fakultas sastra tentang masa depannya pasca-kelulusan.”

Ia melirik tulisan saya, dan mengangguk.

Lalu saya lanjutkan tulisan acak kadut itu dan saya sodorkan lagi, “Industrialisasi pendidikan tinggi menghasilkan mutu pengajaran yang tidak diniatkan untuk memajukan dunia keintelektualan Indonesia (yang memang belum ada apa-apanya), namun ditujukan untuk menghasilkan angkatan kerja tiap tahunnya yang siap langsung dipekerjakan sehabis lulus.”

Ia melirik tulisan itu, dan tersenyum. Kita berdua mengangguk.

Jam 16.00 kelas MKWF berakhir. Saya yang tadi nongkrong di luar, masuk ke ruang perpustakaan untuk ngobrol dengan Bang Anton. Dari obrolan bersamanya, saya mendapati bahwa kekhawatiran saya mengenai keadaan “intelektual” di FIB ini bukanlah problematika baru, bahkan sudah ada sejak zaman beliau kuliah. Setelah membayar tarif meminjam buku, saya pulang sambil galau.

Malam itu saya mengobrol dengan teman saya yang lain yang kebetulan kehidupan agamanya getol. Di percakapan tersebut sampailah pada pembicaraan tentang kehidupan beragama di Indonesia. Katanya, “Sebenarnya kehidupan agama itu bisa diikuti secara hakikat atau sekadar ritualnya.” Tingkat hakikat, katanya, itu urusan hamba dengan Tuhannya. Sedang, tingkat ritual itu hanya berkecimpung di fasad estetika agama saja. Saya tambah galau.

Saya rasa kehidupan intelektual kita di FIB—setidaknya sejauh 5 semester saya di sini—masih hanya bergerumul di fasad estetika “kemahasiwaan” saja. Tidak banyak ruang yang dibuat oleh warga FIB sendiri, yang dapat menjadi wadah untuk kita ber-fafifuwasweswos mengenai sastra dan budaya. Selain, mungkin, kelas-kelas yang diampu oleh dosen yang memang mantep, dan itu langka.

In my humblest opinion, bahkan pula hal ini berlaku pada ruang-ruang teater yang biasanya berdiri dan didirikan oleh para mahasiswa FIB sendiri. Saat kita berteater, jarang saya temukan para pelakunya mereferensi tokoh-tokoh dan ilmu teater yang sekali dua kali diajarkan selama kuliah. Saya, yang juga mengikuti keteateran FIB sejak maba, melihat budaya keteateran kita hanya sebagai “teater for the sake of teater”.

Di samping itu, hijrahnya para pelaku teater kepada produksi film-film pendek di masa pandemi menunjukan dangkalnya “hakikat” intelektual drama di fakultas sastra ini. Dan setidaknya untuk saya, teater kita terlalu fokus pada glorifikasi pulang jam 3 malam demi seni, daripada kepada teater sebagai sastra itu sendiri.

Untuk terlepas dari belenggu ini, saya rasa, teater kita harus menemukan kualitas yang memisahkan dirinya dari kelompok-kelompok teater non-mahasiswa lainnya.

Tanpa hakikat keintelektualan dalam dunia perkuliahan kita, kelas jam 08.00 hari Kamis, MKWF jam 14.20, dan kelas-kelas di hari lainnya, terasa seperti ritual-ritual yang dilakukan untuk mengumpulkan SKS sahaja. Dibangunkan pagi oleh jam weker untuk mengikuti kelas (Baik, terima kasih, Pak!), lalu tidur malam setelah mengerjakan tugas.

Saya sampaikan kegalauan ini ke teman saya itu. Ia mengangguk

Kita berdua tersenyum.

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya