Sebut “Taiwan”, Siap-siap Karirmu Kandas

Raihan Aulia Ramadhan
113 views
Tzuyu Melody Project

Apa saja nama-nama negara di Asia Timur? Gampang! Jepang, Korea Selatan, Korea Utara, China, dan T*sebagian teks hilang*

Bagi kita orang biasa pada umumnya, tidak susah menyebutkan nama-nama negara Asia Timur. Tapi lain cerita kalau Anda entertainer bentuk apa pun yang punya basis audiens di China. Sekali menyebut nama negara terlarang ini, karir Anda bisa kandas, atau setidaknya bisa terjegal secara signifikan. Lalu, apa nama negara terlarang yang berawal dari huruf T ini?

Taiwan.

Ya, menyebut “Taiwan” adalah dosa besar untuk Anda yang ingin sukses dan mendatangkan pundi-pundi uang dari pasar China. Siapapun Anda, baik streamer, YouTuber, V-Tuber, bahkan idol K-Pop sekalipun. Caci maki akan datang segera setelah Anda menyebutkan T-word.

Bagi K-Popers, bisa tanya Tzuyu dari girl group Twice. 5 tahun lalu, Tzuyu muncul dalam sebuah acara TV di Korea. Anggota Twice yang berasal dari luar Korea membawa bendera masing-masing. Mina, Sana dan Momo yang berasal dari Jepang membawa bendera Jepang. 

Tzuyu, yang berasal dari Taiwan, membawa bendera—coba tebak—Taiwan. Tidak ada yang aneh, bukan? Ya, sampai dua bulan kemudian ketika seorang penyanyi China memposting gambar Tzuyu membawa bendera Taiwan di situs Weibo, warganet China mulai merundung Tzuyu. Endorsement deal dengan produsen smartphone China dibatalkan, agensi JYP menghentikan sementara aktivitasnya di China, dan Tzuyu harus meminta maaf secara terbuka di media massa. Bahkan insiden ini menyebabkan politik Taiwan yang terpecah antara pro-kemerdekaan Taiwan dan pro reunifikasi dengan China menjadi gempar.

Tzuyu (baju hitam). taiwannews.com.tw

Industri entertainment Jepang juga tidak luput dari marabahaya T-word ini. Pada 2020 lalu, virtual YouTuber atau VTubers Jepang dari grup Hololive, Kiryu Coco dan Akai Haato menjadi korban perundungan warganet China. Dalam sebuah livestream terpisah, Coco dan Haato melakukan rekap jumlah subscriber terbanyak berdasarkan negara. Dari sini tentu Anda bisa menebak apa yang terjadi. Ya, negara terlarang dan bendera terlarang muncul secara jelas dalam layar.

Sumber: Akai Haato Youtube.com

Kali ini, walaupun mungkin dampak ekonominya lebih kecil karena barangkali Haato dan Coco tidak sepopuler Twice, perundungannya lebih mengkhawatirkan. Warganet China melakukan doxxing (penyebaran informasi pribadi) kepada kedua VTubers tersebut. Doxxing yang dilakukan contohnya dengan mempublikasikan nama dan wajah asli Coco dan Haato, yang merupakan rahasia paling penting dari seorang VTubers (karena dalam platform ini streamer hanya boleh menggunakan avatar 2D atau 3D). Warganet China mengirimkan lebih dari 16.000 komentar, menuntut Coco dan Haato dipecat dari Hololive. Dampaknya, Coco dan Haato dilarang beraktivitas selama 3 minggu di platform ini.

Kejadian yang terjadi kepada ketiga entertainer tersebut adalah contoh hal yang akan menimpa seorang public figure apabila sembarangan menyebut “Taiwan”, apalagi dalam konteks menyebut “Taiwan” sebagai suatu negara. Tentu timbul pertanyaan: kenapa, sih, sebegitunya?

China Cuma Satu, Tapi yang Mana Dulu?

Di dunia ini, ada dua negara yang mengakui dirinya sebagai “China”: yang beribukota di Beijing (People Republic of China atau PRC) dan yang beribukota di Taipei, pulau Taiwan (Republic of China atau ROC). Yang di Beijing menganggap Taiwan punya dia. Yang di Taipei menganggap semua China punya dia. Lantas, mana yang betul?

Dunia internasional hanya mengakui satu China: yang beribukota di Beijing. Singkat cerita, dahulu, Republic of China (ROC) menguasai seluruh China termasuk Taiwan. Tapi, karena kalah dari kelompok komunis (PRC) dalam perang saudara, mereka akhirnya menyingkir ke pulau Taiwan. Taiwan yang sekarang kita kenal dengan F4 dan Tzuyu-nya, adalah sisa-sisa dari Republic of China.

PRC jelas tidak mengakui Taiwan sebagai negara. Kan, dia dulu ngalahin ROC, berarti semua bekas wilayahnya jadi punya dia, dong. Begitu kira-kira dari sudut pandang PRC. Itulah kenapa PRC murka dengan simbol-simbol yang menunjukkan kalau Taiwan itu bukan bagian dari PRC, seperti bendera dan nama ‘Taiwan’ itu sendiri. ROC masih eksis sampai saat ini di Taiwan dan menjadi negara maju, namun pada umumnya tidak ada hubungan diplomatik secara formal antara ROC dengan negara lainnya (biasanya diwakilkan Kantor Perdagangan)

Geopolitik Vs. Pasar: Ngalah Demi Cuan

Fenomena cancel culture terhadap entertainer yang menyebut ‘Taiwan’ ini mulai terjadi dalam era media sosial. Semakin menguatnya pengaruh China (PRC) dalam pergaulan internasional juga membuat persoalan T-word menjadi penting. China, sebagai negara superpower baru dan negara dengan populasi terbanyak di dunia, tidak bisa dipandang sebelah mata. 

Industri entertainment tidak bisa begitu saja melepaskan pasar China yang sangat besar, walaupun China bisa membuat mereka ‘kerepotan’, seperti yang terjadi dengan Tzuyu, Coco dan Haato. Para talent jelas tidak bisa dituntut untuk selalu melek kepada informasi geopolitik di negara yang bahkan mungkin tidak pernah mereka kunjungi. Ditambah dengan toxic-nya dunia media sosial Asia Timur secara umum, patut disesalkan jika industri entertainment lebih memilih untuk melindungi kepentingan ekonominya dibanding keselamatan talent-nya sendiri.

Perusahaan media bisa berkaca pada kasus Coco dan Haato. Cover (perusahaan induk Hololive) memutuskan untuk menarik diri dari China pada akhir tahun 2020. COVER juga menutup Hololive CN, unit cabang Hololive di China. Beberapa minggu sebelum insiden Coco dan Haato terjadi, Cover mendebutkan 5 virtual YouTuber berbahasa Inggris pertamanya, Hololive EN. Hololive EN ternyata sukses besar. Salah satu VTubers-nya, Mori Calliope, merilis album rap dan berhasil meraih posisi pertama iTunes seluruh dunia (worldwide). 

Tindakan Cover yang menarik diri dari China dan beralih ke pasar lain yang -bisa- lebih loyal, adalah suatu contoh yang dapat diikuti perusahaan media lain. Peralihan tersebut menjadi bukti bahwa ukuran pasar bukanlah segalanya, dan keselamatan talent lebih penting dari kepentingan ekonomi. Menarik untuk melihat masa depan industri entertainment dalam hubungannya dengan pasar China. Is such a demanding and volatile market really worth the price? 

Editor: Raihan Rizkuloh Gantiar Putra

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya