Parade GSSTF 2015 : Kolaborasi Wujudkan Asa

Penampilan Musikalisasi Puisi Asa. (Foto oleh : Resti Putrian)

Penampilan Musikalisasi Puisi Asa. (Foto oleh : Resti Putrian)

Jumat, 29 Mei 2015 – Salah satu UKM kesenian yang ada di Unpad, yaitu GSSTF (Gelanggang Seni Sastra, Teater, dan Film) mengadakan sebuah agenda rutin yang diberi tajuk “Parade GSSTF; Kolaborasi Wujudkan Asa”. Acara tersebut merupakan acara tahunan yang diselenggarakan di bulan Mei.Parade GSSTF 2015 di laksanakan di Aula PSBJ FIB Unpad. 

“Konsep yang diangkat bergantung trend tahunan. Tahun ini kita mengangkat tema tentang harapan/asa. Kita mengangkat tema ini karena ada salah satu anggota GSSTF yang menulis naskah drama mengenai harapan, yang memenangkan juara satu di suatu ajang perlombaan penulisan naskah. Setelah dibaca-baca ternyata menarik, nah jadinya kita mengangkat tema besar acara ini yaitu ‘Harapan’, dengan subtemanya ‘Kolaborasi Wujudkan Asa’,” tutur Endah Nurhamidah selaku pimpinan produksi acara tersebut.

Acara tersebut diisi oleh sejumlah penampilan yang ditampilkan oleh anggota aktif GSSTF. Penampilan tersebut yaitu sebuah teatrikal puisi “Malu (aku) Jadi Orang Indonesia” karya Taufiq Ismail, musikalisasi puisi “Asa”, sebuah drama berjudul “Takdir. Pengakuan. Halte”, dua buah film “Hope (s)”, dan “Entitas Konsesi”, , sebuah monolog yang berjudul “Tolong”, dan penampilan musik dari grup ‘Symphony Tengah Malam’. Diikuti oleh 30 orang lebih penampil, acara kolaborasi ini terkemas dengan menarik dan apik. Hanya ada beberapa kesalahan teknis yang seharusnya memang dihindari.

Dimulai dengan penampilan dari Symphony Tengah Malam yang menyambut penonton dengan membawakan lagu kartun seperti lagu Crayon Sinchan, dan Captain Tsubatsa, rangkaian acara ini digelar dengan sajian yang apik dan berbeda.

Dengan tidak hanya menekankan unsur teaternya, penampilan musik dan dekorasi ruangan yang disuguhkan memberi suasana berkelas dan unik. Ketika masuk pintu ruangan, penonton disambut dengan lorong hitam dan disambut oleh lelaki berwajah cemong ala pemeran pantomim, kemudian penonton juga disambut oleh nuansa ruangan gelap nan eksotis khas gedung pertunjukan.

“Acaranya keren, karena setiap penampilan ada musik pengiringnya yang mendukung penampilan tersebut, terutama dalam memberi efek emosi yang memuncak. Setiap penampilannya juga ga gampang ditebak akhirnya. Kurangnya sih, MCnya yang pertama sedikit garing, suaranya juga kadang tenggelam. Banyak suara-suara yang mengganggu pementasan, terutama efek musik yang terlalu keras, tapi musiknya keren”. Jawab Nisa, salah satu penonton, ketika dimintai pendapat tentang acara tersebut.

Di penghujung acara, penonton dibuat terkesan oleh penampilan sebuah monolog yang berjudul “Tolong” yang dipentaskan dengan apik, dan penampilan dari Symphony Tengah Malam yang juga membuat penonton seolah melepas ketegangan selama menonton pertunjukkan tersebut. (Suci dan Kevin)

Komentar