PANGGUNG, SENI, DAN ANTROPOLOGI

(Sesi diskusi seminar Panggung, Seni dan Antropogi) Foto: Lavienia Rieska

(Sesi diskusi seminar Panggung, Seni dan Antropogi)
Foto: Lavienia Rieska

 

Kamis, 22 September 2016, di Bale Rumawat, Dipati Ukur, telah dilangsungkan sebuah seminar mengenai panggung, seni, dan antropologi. Seminar yang diselenggarakan oleh Departemen Seni Antropologi ini mendatangkan seorang antropolog, Lono Simatupang, dan legenda seni tari, Didik Nini Thowok, serta Selly Riawanti sebagai moderator. Dimulai pukul 09.00 WIB, seminar ini mendapatkan antusiasme yang tinggi dari peserta yang pada umumnya memiliki ketertarikan di bidang seni. Selain bertujuan untuk mengenalkan Ilmu Antropologi ke masyarakat, seminar ini  juga bertujuan mengangkat batasan mengenai seni yang berkaitan dengan kehidupan manusia sendiri.

Lono Simatupang, memulai seminar dengan materi tentang seni pertunjukan. Salah satu karyanya yang berjudul “Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni Budaya” merupakan inspirasi dibuatnya seminar ini. Seminar kemudian dilanjutkan oleh Didik Nini Thowok. Dengan logat khas Jawanya, beliau mengangkat isu menarik mengenai seni pertunjukan tari crossgender. Tari crossgender merupakan tari di mana karakter perempuan diperankan oleh laki-laki, dan sebaliknya. Didik Nini Thowok merupakan salah satu pengguna awal kata crossgender dalam bukunya yang terbit pada 2004. Menurutnya, alasan kenapa masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya menerima dan menghargai keberadaan seni tari crossgender karena kesalahpahaman yang telah ditanamkan sejak dini. Hanya karena seseorang berpakaian dan berdandan seperti lawan jenis, bukan berarti mereka adalah “banci”.

Setelah memperlihatkan berbagai tarian crossgender dari beebagai negara, seperti tarian Jepang, India, bahkan Sunda, seminar dilanjutkan dengan sesi diskusi. Sebuah pertanyaan menarik diajukan oleh serang peserta yang mempertanyakan perbedaan esensi seni tradisional dan modern, ia menganggap bahwa seni modern terkesan dangkal dan tidak memiliki esensi sedalam seni tradisional.

Sebagai seorang yang percaya akan pentingnya ritual, Didik berpendapat bahwa tradisi lama seperti ritual dalam proses menguasai sebuah seni tari dapat mempengaruhi energi si penari nantinya, yang akan disebarkan kepada penonton. Seni tari bukan sekadar mempelajari teknik-teknik dan gerakan tarian. “Jangan jadi seniman latah,” ujarnya. Hendaknya kita konsisten mengembalikan hal-hal yang memiliki makna dan arti yang dalam seperti dahulu.

“Carilah modernitas dari tradisi.”  Begitulah pesan yang dilontarkan oleh Lono Simatupang. Kebanyakan seni modern saat ini terkesan dangkal karena ada dorongan yang terlalu besar  untuk menghibur sehingga tidak ada kesempatan untuk mengendap seperti tradisi yang memiliki bobot.

Antusiasme peserta pun terlihat sepanjang sesi diskusi, beragam pertanyaan seputar tema seni banyak dilontarkan kepada kedua pembicara. Putri selaku ketua panitia mengaku cukup puas dan senang karena tujuan dari seminar Panggung, Seni dan Antropologi tersebut dinilai sudah tercapai. Ia juga mengungkapkan harapannya terhadap masyarakat untuk bisa selalu mencintai serta melestarikan kesenian khas Indonesia, tidak hanya ketika kesenian tersebut dicuri atau diakui oleh negara lain.(Mbul/Ica)

Komentar