Ngobrol Bareng Ketua Baru BEM Gama FIB: Dari Program Kerja, Kimi no Nawa, Hingga Polemik UKT

Fadel Imam
Wawancara Kabem Gama FIB

Muhammad Rizki Ramadhan, atau akrab dipanggil Kang Iki merupakan mahasiswa jurusan Sastra Arab angkatan 2018, yang kini menjabat menjadi ketua BEM Fakultas Ilmu Budaya untuk masa bakti 2020-2021 setelah dilantik pada hari Kamis (24/12/20) oleh Panitia Pemilihan Umum (PPU). Sebelum dilantik menjadi ketua BEM FIB, beliau pernah menjabat sebagai ketua DKM AL-Mushlih pada tahun 2020 lalu. Untuk mengetahui program dan langkah-langkahnya pada setahun ke depan, Pena Budaya melakukan wawancara khusus dengan Rizki.

Bagaimana proses Anda hingga akhirnya berkeinginan untuk menjadi seorang ketua BEM? Dan jika melihat beratnya tugas menjadi seorang ketua BEM, hal apa yang menjadi motivasi Anda mencalonkan diri menjadi Ketua BEM Gama FIB?

Ketua BEM merupakan hal yang menantang dan saya suka berada di bawah tekanan dan tantangan yang mana bisa buat saya terus berkembang, dan dari dulu saya sudah menargetkan untuk menjadi ketua BEM supaya bisa belajar terus menerus dan berorganisasi karena juga saya merasa bertanggung jawab untuk mengabdi ke FIB sebelum mengabdi ke masyarakat, karena saya merasa FIB sudah ngasih banyak hal seperti ilmu di Sekpim, dikasih tempat di DKM AL-Mushlih dan lain sebagainya. Selain itu saya juga ingin menebar kebermanfaatan di BEM Gama nantinya meskipun saya tahu pasti saya memiliki banyak kekurangan.

Dari segala program kerja yang telah anda susun, manakah yang akan menjadi program gebrakan untuk ke depannya, termasuk yang menjadi prioritas dalam 100 hari pertama menjadi ketua BEM?

Kalau bicara masalah program, itu kan sifatnya dinamis. Pada prinsipnya saya ingin mengembangkan kualitas internal dan SDM-nya dulu, dan point penting lainnya kita mencoba untuk menanamkan kesadaran bersama bahwa di FIB itu penting untuk berjalan bareng-bareng. Khususnya bagi BEM sebagai jembatan dari berbagai jurusan yang ada, harus bisa memanjangkan sayap agar menjangkau semua himpunan atau jurusan yang ada. Dan dari situ kita bisa merancang program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat FIB. Tapi bukan berarti kami belum ada program. Sudah ada program, namun perlu dikaji lagi agar dapat tepat sasaran dan tepat guna.

Melihat kondisi seperti ini yang berada pada titik ketidakpastian sehingga tidak memungkinkannya untuk perkuliahan tatap muka, kira-kira program apa yang cocok dan efektif untuk Anda jalankan selama masa perkuliahan daring?

Program yang cocok tentunya program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat FIB dan berawal dari keresahan atau kondisi ideal yang ingin dicapai. Contohnya permasalahan di Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang salah satunya belum bisa menangkap materi dari dosen. Yang mana ini dapat bersumber dari pihak dosen maupun mahasiswa itu sendiri. Dan BEM mencoba menjadi titik tengah untuk memfasilitasi program kerjasama bareng dosen, membangun jembatan dari elemen-elemen yang ada dan bangkit dari permasalahan-permasalahan yang ada nantinya.

Selanjutnya, adakah evaluasi dari kepengurusan sebelumnya? Dan bagaimana Anda mengelola evaluasi tersebut hingga menemukan jawaban atau solusi yang berkaitan hal tersebut?

Kepengurusan BEM itu seperti puzzle dan menghasilkan karakteristik yang berbeda. Seperti ada yang fokus dalam keilmuan, lalu kemudian ada juga yang bercorak sastra. Tapi kalau saya lebih ke hal yang dibutuhkan saja dan memfasilitasinya dengan melakukan pendekatan persuasif.

Mengenai program FIB Unpad Care, boleh dijelaskan seperti apa program itu? Dan mengapa memilih untuk dipisahkan dengan akun utama BEM Gama FIB yang sudah memiliki jangkauan yang lebih luas?

Ini juga merupakan evaluasi dari kepengurusan sebelumnya. Tahun kemarin kan hanya ada di Line, nah setelah dievaluasi ternyata aplikasi Line sudah tidak terlalu relevan dengan masyarakat FIB yang lebih aktif di Instagram, dengan harapan informasi akan lebih cepat tersebar dan lebih mudah diterima. Kenapa dipisah? karena fokusnya yang berbeda. Jika akun utama BEM menyediakan
informasi atau edukasi yang lebih umum, FIB Unpad Care lebih ke pelayanan, advokasi dan tempat curhatnya anak-anak FIB.

Menjadi ketua BEM tentunya membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik untuk dapat berkoordinasi dengan banyak pihak. Bagaimana cara Anda mengelola organisasi sehingga dapat mengajak rekan kerja untuk lebih bekerja keras dalam menjalankan suatu pekerjaan?

Lebih menekankan dengan cara mengajak dengan mindset keluarga agar beban pun hilang, tidak terlalu profesionalitas, tidak langsung what and how tetapi dimulai dengan why . Dan kalau saya lebih menekankan kepada tipe pemimpin yang melayani. Lebih suka turun ke bawah untuk membersamai teman-teman.

Kadang kala organisasi menjadi rintangan untuk bisa fokus pada kegiatan akademik di kelas. Ada tips atau saran dari Anda tentang manajemen waktu antara belajar dan berorganisasi?

Harus bisa memanajemen waktu, diri sendiri, sering buka kalender apa yang harus dilakukan di hari itu, tegas pada diri sendiri, kenalin diri kamu, berdamai dengan sendiri, dan mengevaluasi diri sendiri apa saja yang telah dilakukan di hari ini, di minggu ini, di bulan ini.

Berkenaan dengan situasi pandemi yang belum juga menunjukan tren menurun, menurut Anda apa tantangan terbesar kedepannya bagi BEM Gama FIB khususnya ketika pandemi?

Tantangannya adalah ketidakpastian, dan yang diujinya itu kesiapan. Karena dunia saat ini berjalan cukup cepat dan tidak bisa diprediksi. Dan tantangan untuk BEM, bisakah organisasi itu adaptif terhadap perubahan yang sangat cepat dan harus open minded terhadap suatu permasalahan, dan menjadikan permasalahan itu menjadi sebuah pembelajaran. Itu bisa menjadikan organisasi menjadi lebih maju.

Ketika anda telah selesai sebagai ketua BEM, apa langkah yang akan Anda lakukan? Lalu apa harapan Anda untuk BEM Gama FIB setelahnya?

Harapan terbesar, yang jelas pasti jadi lebih baik, belajar dari kekurangan dari BEM saat ini. Pasti saya juga memiliki amanah untuk membantu teman-teman yang melanjutkan puzzle BEM Fakultas Ilmu Budaya. Memiliki ikatan emosional, tanggung jawab dan tidak lepas tangan dengan BEM setelahnya. Sementara target pribadi saya abis beres BEM itu lulus dan setelahnya terjun ke masyarakat daerah diri dan berbenah diri sendiri.

Fakultas Ilmu Budaya di mata Anda seperti apa?

Seperti nonton Kimi no Na Wa. Ketika melihat meteor yang jatuh dan membentuk warna yang berbeda dan sangat indah. Seperti FIB yang berwarna, berbeda pandangan, pemikiran, dan juga tempat pendewasaan diri. Jadi seandainya, saya sebagai Taki-kun, akang melihat FIB tuh seperti aurora yang memuat berbagai macam warna dan itu indah.

Berkenaan dengan kondisi pandemi di tahun 2021 ini. Kita kan tidak bisa menikmati fasilitas-fasilitas kampus, sedangkan UKT kan harusnya membiayai fasilitas tersebut. Lantas apa yang akan dilakukan BEM Gama untuk meringankan UKT ?

Dari pihak BEM sudah mencoba dari dasar dahulu dengan mencoba mengontak BEM sebelumya. Lalu kami menjalin komunikasi dengan tim UKT FIB atau Tim Task Force UKT dengan menguatkan tim dan berkoordinasi dengan pengurus sebelumnya. Terus hari Rabu (7/1) ada forum ketua lembaga dan menghasilkan konsolidasi terbuka pada hari Kamis (7/1) sebagai persiapan untuk forum bersama rektorat pada hari Jumat (8/1). Namun ternyata, forum itu istilahnya menjadi silaturahmi, menurut ibu-bapak rektorat, karena baru pertama bertemu, dan pembahasan mengenai UKT akan dilakukan pada hari selasa. BEM Gama sendiri membagi fokus pada forum ketua lembaga dan konsolidasi. Dan kami juga telah membagikan survey untuk memperkuat data yang kami punya. Untuk sikap BEM Gama adalah menjadikan masyarakat FIB menjadi subyek. Kami bergerak untuk melayani. Apabila keputusan dari rektorat kurang memuaskan bagi masyarakat FIB, kami akan terus memperjuangkan harapan masyarakat FIB.

Lantas bagaimana respons atau sikap Anda sebagai ketua BEM Gama atau sikap BEM Gama sendiri mengenai polemik UKT Semester Genap yang tengah menjadi pergunjingan ini?

Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi yang terjadi hingga hari ini terkait polemik UKT di Universitas Padjadjaran, melalui ini kami sedang:

1. Memproses kajian Arah argumen kajian kami menyorot poin-poin mengenai kemerosotan ekonomi , kondisi perekonomian mahasiswa dalam pembayaran UKT, status Unpad sebagai PTN-BH, biaya operasional Universitas Padjadjaran selama masa PJJ, Peraturan Kemendikbud No. 25 Tahun 2020, kebijakan Unpad yang belum bisa mengakomodasi kebutuhan Kema Unpad terutama Gama FIB di tahun 2020 kemarin, dan terakhir kami menyoroti apa itu pendidikan dan apa itu keadilan secara filosofis.

2. Menunggu kebijakan Rektorat terkait UKT Selama beberapa hari kemarin, belum ada sama sekali pemberitahuan dari pihak Rektorat mengenai kebijakan UKT. Padahal Mahasiswa Universitas Padjadjaran sangat mengharapkan kepastian akan hal ini mengingat kondisi perekonomian sedang ambruk. Kami sangat menunggu keputusan Rektorat mengenai kebijakan UKT Semester Genap 2020-2021.

3. Jika kebijakan rektorat mengecewakan maka kami akan merilis kajian mengenai polemik UKT dan menentukan sikap secara bijak terhadap rektorat. Kami juga akan melakukan propaganda apabila kebijakan rektorat belum bisa mengakomodasi kebutuhan Kema Unpad, terutama Gama FIB. Apabila kebijakan Rektorat mengenai UKT tidak juga keluar, maka apa yang tercantum pada kalimat pertama dan kedua akan secepatnya dilakukan. (Fadel Muttaqin/Fajar Hikmatiar)

Related Posts

Leave a Comment