New Normal dalam Puisi “Hujan Bulan Juni”

Bulan Juni sudah tiba, hampir tiga bulan penuh beberapa masyarakat Indonesia mendekam di rumahnya masing-masing. Dengan kedongkolan yang sama tentang korona dan tahun 2020 yang semakin lama semakin mendekati kiamat kubra, bulan Juni kali ini seperti memberikan harapan baru terkait penanganan virus korona ini, tentunya dengan istilah yang baru lagi yaitu: new normal dan sudah dishahihkan Ivan Lanin ke dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi kenormalan baru atau kelaziman baru. 

Di akhir Mei, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan baru untuk menangani kasus korona ini walaupun sebenarnya kebijakannya itu-itu aja, nggak “new” sama sekali. New normal versi pemerintah ini sebenarnya sama-sama saja; jaga jarak, mengikuti protokol kesehatan, pakai masker, dan lain sebagainya. Terlihat pemerintah seperti memaksakan kebijakan ini, tapi apapun tabiatnya, jelas ini adalah harapan baru yang baik bagi kita semua.

Sebelum kebijakan new normal ini mulai diterapkan oleh pak Luhut Jokowi, ternyata Joko yang lain, yaitu pak Sapardi Joko Damono, sudah lebih dahulu memprakarsai ide ini ke dalam sebuah puisi fenomenal yang saya rasa hampir semua orang Indonesia mengetahuinya; “Hujan Bulan Juni”.

Pada mulanya, puisi ini tentu dianggap tidak normal, terutama bagi orang-orang tahun 80an yang sepertinya tak pernah merasakan hujan di bulan Juni. Tahun saat Sapardi menulis puisi tersebut, hujan di bulan Juni adalah keniscayaan, sebab bagaimana mungkin hujan akan terjadi di puncak musim kemarau? Bahkan mungkin cuaca sekali pun pada zaman itu sudah diatur oleh rezim yang sedang berkuasa hihihi Wallahu’alam bishawab~

Ketidaknormalan tentang waktu turun hujan itu perlahan menjadi kenormalan yang baru dan diterima di masyarakat kita sekarang. Hujan ternyata memang bisa saja terjadi di bulan Juni, bahkan bisa lebih lebat dan lebih galau dibanding bulan-bulan yang dianggap musim hujan.

Inspirasi tersebut dibenarkan oleh pak Sapardi ketika diwawancarai Kumparan. Ia selalu menjalani Juni yang kemarau dan kering, ketika suatu saat di bulan Juni hujan, pak Sapardi langsung menulis puisi “Hujan Bulan Juni”. Puisi tersebut kemudian semakin dikenal masyarakat ketika dimusikalisasi oleh Ari Reda, sampai-sampai diadaptasi menjadi sebuah film.

Seperti judulnya, fenomena puisi “Hujan Bulan Juni” selalu muncul di bulan Juni, apalagi kalau beneran hujan turun di bulan Juni. Buru-buru deh para pemburu konten indie mengabadikan kejadian itu dengan instastory disertai puisi “Hujan Bulan Juni” di dalamnya. Tak lupa filter aesthetic buatan sendiri dengan jam atau suhu di sekitarnya seolah-olah bakal ada yang peduli. Ada pula yang mungkin langsung mendeklamasikan puisi ini di tengah derai hujan ala-ala sinetron India, biar beda dari yang lain, dan tak lupa mengunggahnya biar gak percuma hujan-hujanan.

Selain judulnya yang new normal, dari segi makna, puisi ini juga menceritakan tentang ketabahan, mirip seperti apa yang kita rasakan sekarang, tabah menahan rindu bertemu pasangan teman seperti rintik rindu hujan bulan Juni kepada pohon yang berbunga itu.

Pak Sapardi seperti sudah memprediksi bahwa pada saat hujan terjadi di bulan Juni, orang-orang bakal menahan sabar dan rindu, tapi tentu akan dibayar dengan sebuah hadiah yang bisa membalas segala ketabahan itu. Semoga saja bukan sepeda.

Di bait ketiga, pak Sapardi juga memprediksi tentang peraturan pemerintah agar masyarakat mengurangi keluar rumah jika tidak punya kepentingan mendesak, “tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni. dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu.”

Hujan bulan Juni pada bait tersebut diibaratkan layaknya petugas Satpol PP dan polisi yang siap menghapus menindak para masyarakat yang ragu-ragu di jalan itu.

Puisi “Hujan Bulan Juni” diakhiri dengan bait bernada pasrah sekaligus optimis di tengah kesabaran dan rutinitas baru yang berulang-ulang. “dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.” Seakan-akan menjadi kata pamungkas, bahwa apapun virusnya, berserah diri solusinya.

Selain penyair, pak Sapardi memang sepertinya peramal yang lebih jitu ketimbang Dilan. Tanpa kita sadari, dengan puisinya, ia mencoba mendeskripsikan tatanan dunia baru, kelaziman baru, atau new normal. Semoga saja ketika hujan turun di bulan Juni ini, korona bisa diserap akar pohon bunga itu. (Bin/Zai)

0

Komentar

Ananda Bintang

Seorang mahasiswa Sastra Indonesia Unpad 2019 yang sesekali menulis dan suka membaca