Musik Rap Itu Bukan Baca Mantra, Bos!

Kiral Fathfarold Salsabil
285 views

Ketika kita mendengarkan radio atau tidak sengaja ke-shuffle, kadang kala ada suatu saat kita mendengar nada dari musik bertempo jedak-jeduk dengan cara bernyanyi yang begitu cepat dan kadang membuat kita yang mendengarnya jadi mengernyitkan dahi dan memasang telinga lebar-lebar.

Rap atau Rapping adalah cabang dari kultur hip-hop yang di dalamnya sendiri memiliki subkultur lain seperti DJing (Disk Jockey Mixing), B-boying/B-Girling (populer dengan sebutan ‘Breakdancing’), Grafitti, dan lain sebagainya.

Bagi sebagian orang, musik rap hanyalah komat-kamit omong kosong yang lebih mirip seperti baca mantra. Bagi sebagian orang lagi, musik rap hanyalah dunia penuh glamour sarat akan kekerasan, seks, hingga rasisme. Tapi bagi saya, anggapan itu tentu saja keliru. Musik rap memiliki keindahan dan keunikan yang mungkin tidak banyak orang sadari.

#1 Lirik

Lirik menjadi sebuah bahan utama dari musik rap. Tak jarang, para musisi atau seniman melakukan rap hanya dengan beatboxing atau sederhananya, akapela. Layaknya sebuah puisi, lirik pada musik rap juga memiliki makna dan permainan kata. Jika kita mendengar dengan saksama atau mungkin menganalisis lirik pada lagu rap, kita akan menyadari bahwa banyak sekali kata yang berirama. Bukan hanya itu saja, lirik dalam lagu rap juga banyak menggunakan metafora dan analogi di dalamnya.

Dikenal sebagai Lyrical Genius, Eminem menulis begitu banyak lagu dan menggunakan banyak kosa kata, juga seni lainnya. Dalam lagunya yang berjudul “Kamikaze”, misalnya, dia menggunakan analogi atau perumpamaan di dalamnya seperti dalam lirik berikut; “Like a fighter jet lined with explosives that’ll strike any moment, headed right at opponents and I’m the f*ckin’ pilot that flown it”. Dengan maksud bahwa dia (Eminem), siap menghadapi dan menerjang siapapun lawan di depannya. Serem juga, ya, dipikir-pikir.

XXXTENTACION, dalam lagunya yang berjudul “Jocelyn Flores” yang ia tulis untuk mendiang temannya, juga menggunakan metafora. Seperti dalam lirik berikut; “I’m in pain, wanna put ten shots in my brain, I’ve been trippin’ ’bout some things, can’t change”. Lirik metaforis tersebut digunakan sebagai ekspresi penyesalan dan kesedihan mendalam “X” setelah kehilangan kawannya tersebut.

#2 Subgenre Rap

Dalam musik rap juga banyak sekali ragam gaya dalam penyajiannya. Ada yang terdengar sangat berisik dengan suara teriakan dan beat yang agresif, sampai beat yang terdengar begitu menenangkan dengan rap dalam tempo yang pelan. Beberapa subgenre rap yang populer dan mungkin pernah kalian dengar: Lo-fi hip-hop (ini cocok untuk anak senja), Gangsta/Thug rap (biasanya isinya kekerasan dan amarah), Emo rap, Melodical rap (ini beda tipis sama R&B), hingga Caviar/Flex rap (ini isinya pamer lifestyle pokoknya).

#3 Lagu Rap Sebagai ‘Medium’

Hingga saat ini, seperti musik-musik lainnya, rap juga dijadikan sebagai media untuk “berbicara” tentang berbagai hal. Tidak jarang, banyak musisi rap yang menyuarakan pandangannya mengenai berbagai macam gerakan sosial hingga politik. Bahkan, kini, sudah banyak juga lagu rap yang membawa isu kesehatan mental. Tentu saja tidak menutup fakta bahwa rap juga tidak selamanya harus membahas hal berat. Terkadang, hal-hal ringan penuh drama seperti kehidupan sehari-hari dan pengekspresian perasaan masih menjadi bahan yang sering diulas.

Logic, dalam lagunya yang berjudul “1-800-273-8255”, membawa isu tentang kesehatan mental. Bahkan, judul lagu tersebut diambil dari panggilan darurat untuk pencegahan bunuh diri. Dalam liriknya, dia menulis, “I want you to be alive, I want you to be alive, you don’t gotta die today, you don’t gotta die” yang di mana menjadi sebuah respon terhadap cerita yang dia tulis pada bagian awal lagu, “And my life don’t even matter, I know it, I know it, I know I’m hurting deep down, but can’t show it

Salah satu contoh lagu yang memuat dua isu sekaligus di dalamnya adalah lagu “I’m not racist” oleh Joyner Lucas. Cukup sulit untuk mengutip liriknya yang menggambarkan keseluruhan lagu ini. Namun secara garis besar, lagu ini berisi tentang percakapan dua orang mengenai ras dan politik yang bertujuan agar kita sadar bahwa pada akhirnya kita adalah manusia yang sama. Untuk lagu ini, mending kalian denger sendiri aja lagunya ini sambil menghayati lirik demi liriknya, ya, hehe.

Ada nggak sih lagu rap yang bahas hal sederhana tentang keresahan di kehidupan sosial, misalnya? Lagu “Everybody Hates Me” oleh Tom Macdonald barangkali sangat mewakilkan.

White people hate me, they say that I’m using my privilege for evil, I get it, hey. Black people hate me, they say that I’m racist, my feelings don’t match with their message, whoa. Feminists hate me because I believe that their movement is angry and sexist, whoo

Dalam liriknya, kita diberikan macam-macam perspektif orang dalam membenci orang lain. Kita juga dibuat sadar bahwa selalu ada alasan orang lain untuk menyebarkan kebencian.

Sekarang, kamu udah tahu, kan, kalau rap itu bukan kumur-kumur apalagi baca mantra! Nah, kayanya nggak lengkap kalau udah baca artikel ini tapi nggak langsung nyobain denger lagunya. Jadi, sekarang kalian bisa langsung ke layanan streaming musik terfavorit kalian dan cari kategori hip-hop atau rap yaaa! Buat yang sebelumnya udah pernah denger atau emang suka, bisa banget nih terus eksplorasi kultur ini, mungkin kamu mau nyoba datang ke kampus nanti pas udah offline dengan fesyen ala ala hip-hop star yang gombrang-gombreng itu haha.

Editor: Raihan Rizkuloh Gantiar Putra

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya

Inspirasi Budaya Padjadjaran