Menyaring Bakat Tersembunyi Lewat Lomba Akting Monolog

Para pemenang lomba akting monolog kategori anak-anak (Foto oleh Nisa Amalia)

Para pemenang lomba akting monolog kategori anak-anak (Foto oleh Nisa Amalia)

Bulan Maret lalu, sebuah gedung baru yang berada di depan shelter Damri Unpad Jatinangor telah selesai dibangun. Gedung yang sudah ramai dibicarakan mahasiswa Unpad sejak awal pembangunannya itu dinamakan Bale Pabukon.Sebagai event pertama yang diselenggarakan di gedung itu, Unpad bekerja sama dengan Ikapi Jabar menghadirkan Pesta Buku Diskon yang diisi oleh berbagai stand penerbit. Pesta buku ini dijadwalkan sepuluh hari yaitu sejak tanggal 27 Maret 2015 sampai 5 April 2015. Acara dengan tagline “Dari Buku Menjadi Ilmu – Dari Ilmu Menjadi Buku” itu juga menyertakan serangkai acara edukatif yang diselenggarakan sejak tanggal  30 Maret sampai 5 April, di antaranya workshop, talkshow, diskusi, bedah buku, parade mendongeng, dan lomba, sedangkan peluncuran Bale Pabukon sendiri diselenggarakan pada tanggal 30 Maret 2015. Di samping itu, acara ini juga menghadirkan pameran replika Mummy Firaun.

Agenda pada hari terakhir, 5 April 2015, yaitu pelaksanaan lomba menggambar, mewarnai, kaligrafi, serta akting monolog komedi. Lomba menggambar, mewarnai, dan kaligrafi yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB ini diikuti oleh sekitar 100 peserta anak-anak dan berakhir pada pukul 13.00 WIB. Acara dilanjutkan dengan lomba akting monolog yang diadakan oleh Majelis Budaya Salman ITB.

Lomba ini diikuti oleh dua kategori yaitu kategori anak-anak dan kategori mahasiswa/umum. Sebelum lomba dimulai, Bapak Ius Kadarusman, selaku juri tunggal dari lomba akting monolog, membacakan beberapa ketentuan lomba terlebih dahulu. Pertama, Naskah monolog yang digunakan untuk lomba adalah sama untuk kedua kategori, yaitu cuplikan dari naskah berjudul “Parlemen Setan” yang pernah dipentaskan bulan Februari lalu. Kedua, penilaian didasarkan kepada pendekatan karakter, teknik vokal, gestur, penghayatan, serta keseluruhan penampilan. Ketiga, panitia telah menyediakan mic, namun bagi para peserta yang tidak menggunakan mic akan mendapat poin lebih. Peserta juga diperbolehkan membawa naskah ke atas panggung.

Peserta terdiri dari 10 orang, telah termasuk kategori anak-anak dan mahasiswa/umum. Penampilan para peserta ini bermacam-macam. Peserta kedua dari kategori anak-anak, Sofia, misalnya, berhasil menarik perhatian penonton dengan penampilannya yang penuh rasa percaya diri, suara yang lantang dan mantap, serta mimik dan gestur yang ekspresif. Ada pula yang terlihat gugup seperti peserta nomor lima bernama Adnan. Namun, keempat peserta terakhir terlihat sangat mampu menangani rasa gugupnya bahkan sampai berimprovisasi di atas panggung, seperti Andi dan Hendra yang menyanyikan sebuah baris dari naskah.

Setelah kesepuluh peserta tampil, juri langsung menghitung nilai yang didapat para peserta. Untuk mengisi waktu kosong sambil menunggu hasil penghitungan, pembawa acara mempersilakan para penonton yang ingin menampilkan sesuatu di atas panggung dan akan diberi souvenir. Andi dan Hendra, peserta lomba akting monolog, naik ke atas panggung dan menyumbangkan sebuah lagu, dilanjut dengan lagu lain yang dinyanyikan oleh seorang penonton. Selain menyanyi, ada juga yang berdongeng, yaitu seorang mahasiswa Sastra Arab angkatan 2014 yang membawakan sebuah dongeng dengan menggunakan bahasa Jawa Kebumen. Mahasiswa Sastra Arab ini berasal dari Komunitas Pendongeng Inspiratif. Meskipun para penonton banyak yang tidak mengerti bahasa Jawa, namun dia berhasil menarik perhatian para penonton serta pengunjung Pesta Buku Diskon.

Akhirnya pengumuman pemenang lomba dibacakan. Pengumuman dimulai dari lomba menggambar dan mewarnai, kemudian dilanjut dengan lomba akting monolog yang disampaikan langsung oleh juri, Pak Ius. Beliau mengatakan bahwa dalam lomba akting monolog ini tidak terdapat pemenang pertama, kedua, ataupun ketiga seperti lomba yang lain. Pasalnya, penilaian didasarkan kepada standarisasi yang telah ditetapkan, bahwa yang menjadi pemenang lomba adalah yang berhasil mendapatkan skor di atas standar sehingga sifatnya tidak membandingkan satu peserta dengan peserta yang lain.

Untuk kategori anak-anak, standar nilainya adalah 330 dan yang berhasil melampaui standar ini adalah Raisa dengan nilai 330, Sofia dengan nilai 335, dan Soni dengan nilai 370. Untuk kategori mahasiswa/umum, standar nilainya 360. Pemenangnya di antaranya Hendra dengan nilai 360, Andi dengan nilai 380, dan Ilham dengan nilai tertinggi yaitu 390. Para pemenang tersebut mendapatkan voucher senilai Rp500.000,00 untuk kelas akting di Salman Academy dan berpeluang untuk melanjutkan perlombaan ke tingkat Jawa Barat yang diadakan bulan depan di Salman ITB. Juga, jika menang di tingkat Jawa Barat, bisa berpeluang untuk mengikuti casting dua film yang diproduksi Salman ITB. Kedua film tersebut masing-masing bertema anak-anak dan remaja, sehingga akan membutuhkan pemeran anak-anak.  Pak Ius berharap semoga para peserta lomba hari ini dapat memperlihatkan kemampuannya sampai akhir dan dapat tampil dalam film nantinya. (NA)

0

Komentar