Menginjak 18 Tahun: Quarter Life Crisis dan Bagaimana Mereka Menyikapinya

Tasya Yulianingsih
54 views

[Artikel ini adalah soft news terbaik dalam Pena Budaya Academy yang diselenggarakan oleh divisi Pengembangan Sumber Daya Organisasi Pena Budaya]

Menjadi dewasa identik dengan kehidupan yang penuh tanggung jawab. Bagi sebagian dari kita,  ia membuat orang-orang dilanda perasaan penuh kecemasan, kesedihan, kebimbangan akan masa depan, dan pada titik tertentu, membikin hidup jadi morat-marit dengan pelbagai masalah rumit yang memaksa kita untuk menghadapinya. 

Ketidaksiapan pada transisi perubahan dari remaja menuju dewasa lazim disebut sebagai quarter life crisis. Umumnya, QLC sering disematkan pada orang-orang yang berumur 20-an. Namun, sebetulnya, ia juga bisa dirasakan oleh orang-orang yang berada di usia 18 tahun, terutama bagi mereka yang baru lulus dari sekolah menengah atas. Saya berbincang-bincang dengan pelajar-pelajar yang baru saja menamatkan masa putih abu-abu mereka terkait “krisis” yang mereka hadapi seusai kelulusan.

Narasumber pertama, Yogi Pratama. Lulusan SMA di Kuningan ini berujar bahwa setelah pensiun dari SMA, ia menjadi semakin cemas soal masa depannya. “Aku lagi merasakan yang  namanya quarter life crisis gitu, aku bingung dengan masa depan mau bagaimana”

Quarter life crisis (QLC) sendiri merupakan fenomena krisis emosional yang terjadi akibat dari ketidaksiapan seseorang pada saat proses transisi dari masa remaja menuju dewasa atau emerging adulthood (Artiningsih & Siti, 2021 dalam  Martin, 2016, PDF). Melihat orang lain yang lebih “sukses”, misalnya, seringkali membuat orang-orang yang diterpa QLC merasakan hidup yang seolah begini-begini saja, jalan di tempat. Seperti yang dirasakan oleh Karenthia, lulusan SMK.

Dia  menceritakan kisahnya ketika sudah lulus sekolah. “Buat aku usia 18 tahun itu seperti ada  di pinggir tebing, aku bisa jatuh, bisa bertahan, atau pergi sampai ke puncak  (tempat yang lebih aman). Aku insecure setelah lulus melihat orang ada yang sibuk kuliah dan  kerja, aku  sendiri sempat ‘jatuh’ karena gagal lolos SNMPTN, gagal tes kerja. Kalaupun ada yang menerimaku bekerja, persyaratannya kurang cocok sama aku seperti ada yang melarangku berkerudung, misalnya. Setiap ada sesuatu yang aku anggap sebagai ‘kegagalan’, aku nangis dan merasa diri aku itu cengeng, ” katanya.

Penerimaan dan Sisi Lain dari QLC

QLC sering dipandang sebagai sesuatu yang menjemukan dan, jika bisa, orang-orang tak mau terjebak di situasi semacam ini. Namun, Caroline Beaton dalam artikelnya yang berjudul Why Millenials Need Quarter-Life Crises di Psychology Today berujar bahwa QLC dapat menjadi semacam pengingat bahwa tak ada yang benar-benar permanen di dunia ini. Karena itu ketidakpastian, termasuk QLC, pasti akan berakhir selama kita terus bergerak maju. 

Demikianlah yang dilakukan oleh Yogi. Ia kerap menyiasati kecemasan soal masa depannya dengan memanggil kembali masa-masa di mana ia punya cukup keberanian untuk melewati pelbagai permasalahan. 

“Tapi, kan, waktu itu dinamis dan terus bergerak maju, mau nggak mau kita harus hadapi. Pasti bisa  kok, coba aja lihat ke belakang, banyak rintangan yang berhasil kita hadapi.” tuturnya.

Penerimaan terhadap QLC, meski sulit, bisa saja menjadi panasea. Alih-alih meratapinya, tetap bergerak maju juga menjadi hal yang dilakukan oleh Karenthia. Meski sempat mengalami masa-masa seperti di “pinggir tebing”, kini ia sudah mendapatkan pekerjaan yang cocok di kota lain dan bisa lebih menikmati proses transisi menuju dewasa tersebut.

“Suatu saat, ketika aku dengar cerita ini itu dari orang lain, (membayangkan) betapa jerih payahnya ibu aku atau  orang tuaku dulu, di situ aku mulai semangat lagi dan terus berusaha dengan prinsip ‘aku  harus bisa bahagiakan orang tua’. Dan alhamdulillah, sekarang aku sudah dikasih yang terbaik sama Allah. Walaupun jauh dari orang tua, tapi yang namanya  proses pendewasaan gimanapun harus dinikmati dan disyukuri” ujarnya kepada saya pada Senin (18/10/2021).

Memang, banyak sekali faktor yang membuat orang-orang mengalami QLC: ekspektasi sosial, mental yang belum matang, situasi keluarga, dan sebagainya. Namun, dari Yogi dan Karenthia, kita bisa melihat bahwa ketika kita berada dalam fase quarter life crisis, penting untuk mencari hal-hal yang bisa  membuat kita semangat kembali untuk meminimalisir kekhawatiran-kekhawatiran tersebut. Hal-hal yang kita dambakan memang tak akan selalu terwujud. 

Editor: Raihan Rizkuloh Gantiar Putra

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya