MENGHIDUPKAN KEMBALI PRAM DAN GORKY

Soesilo Toer sedang berkelakar tentang hidupnya semasa susah bersama sang kakak, Pramoedya Ananta Toer, dalam “Pram dan Gorky dalam Kesusasteraan Dunia” pada hari Rabu (07/05), kemarin. Foto: Trisha Adelia

Rabu (10/5) kemarin, Himarus Unpad (Himpunan Mahasiswa Sastra Rusia Unpad) menyelenggarakan bedah buku “Cinta Pertama” karya Maxim Gorky sekaligus diskusi santai mengenai Pramoedya Ananta Toer di gedung D FIB Unpad. Acara bertajuk “Pram dan Gorky dalam Kesusastraan Dunia” ini mengadirkan Ladinata, penerjemah buku “Cinta Pertama”, sang ilustrator buku, Hikmat Gumelar sang proofreader, hingga Soesilo Toer yang merupakan adik kandung yang amat dekat dengan Pram sendiri.

 

Pram dan Gorky adalah dua orang yang berbeda bangsa dan negara, namun disatukan oleh kemiripan yang melekat di diri mereka, yaitu label sosialis-realisme. Keduanya juga memiliki gaya kepenulisan yang mirip karena kesamaan ideologi tersebut. Hal ini menjadi lebih menarik ketika dua tokoh yang sudah mendahului kita itu “dihidupkan kembali” dalam diskusi ini.

 

Santai dan berisi. Begitulah dua kata yang dapat menggambarkan kelangsungan acara tersebut. Di tengah panasnya pembahasan tentang isu penangkapan Ahok–Hikmat Gumelar, sang proofreader buku Cinta Pertama pun menyentil peserta dengan sindiran-sindiran yang segar pada kalimat pembukanya, sehingga peserta tampak begitu antusias mendengarkan. Hikmat juga bertutur bahwa novel “Cinta Pertama” adalah salah satu novel cinta yang melampaui novel-novel yang hanya berkutat seputar “dari mata turun ke hati” seperti yang diusung kebanyakan novel sastra populer. Buku Maxim Gorky ini menceritakan dengan jujur kisah cinta pertama Maxim Gorky usai penderitaan yang ia alami selepas berpisah dengan Olga, sang mantan istri. “Gorky dalam buku ini telah menunjukkan penyikapan kekecewaan yang dewasa dan tidak memusatkan dirinya sebagai protagonis yang serba benar, melainkan menguraikan tokoh-tokoh yang terlibat dalam hidupnya sebagai manusia yang utuh: berdarah daging, memiliki emosi, aspirasi, dan terkadang menyebalkan sebagaimana adanya manusia biasa,” ujar Hikmat Gumelar.

Di sesi kedua, adik Pram, Soesilo Toer kemudian memaparkan kehidupan Pram dari dalam secara singkat dan kemudian bercerita lebih banyak tentang dirinya sebagai orang yang dekat dengan kakaknya yang, kalau katanya sendiri, adalah seorang “persona non grata” (orang yang tak disukai negara). Mendengarkan Soesilo bercerita tentang hidupnya sendiripun tak kalah menarik dari mendengarkan kisah hidup Pram karena Soesilo terbukti telah menjadi penulis sejak umur 15 tahun dan telah menulis nasihat pernikahan yang dimuat di media massa di saat ia baru saja baligh. Tak jarang, penonton dibuat terperangah dengan celetukan-celetukan “nyeleweng” dari adik Pram ini.

 

Dengan bedah buku dan diskusi sastra ini, hadirin dapat memahami betapa buku yang biasanya dibaca dalam kesunyian perpustakaan dan kesendirian dapat dihidupkan pada wacana yang interaktif, ringan, dan tetap berbobot, sehingga pengayaan wacana terus berlangsung seiring bergulirnya waktu dan dapat menggali terus manfaat dari berbagai interpretasi yang dikemukakan oleh rekan-rekan kita. Salam sastra! (TA/FDA)

0

Komentar