Mencari Kemungkinan Terbesar: Mencari Alaska Karya John Green

Azaina
229 views

“I go to seek the Great Perhaps.” —Francois Rabelais

**

“Looking for Alaska”—atau dalam bahasa Indonesia “Mencari Alaska”—menjadi salah satu novel jadul karya John Green yang diterbitkan pertama kali pada Maret 2005 silam. Novel setebal 286 halaman ini dibagi menjadi dua bab besar, yakni Sebelum dan Sesudah, ditambah satu bab ekstra bertajuk Sedikit Kata-Kata Terakhir Tentang Kata-Kata Terakhir.

“Mencari Alaska” menceritakan tentang Miles ‘Pudge’ Halter yang masuk ke sekolah asrama Culver Creek untuk mencari Kemungkinan Besar (bagian dari kata-kata terakhir seorang penyair, Francois Rabelais). Berbeda dengan sekolah lamanya, di Culver Creek, Pudge berhasil membangun pertemanan dengan Kolonel, Takumi, Lara, dan tentu saja Alaska Young.

Isi novel ini sebenarnya tidak mengandung pencarian terhadap Alaska secara harfiah. Alaska, baik negara bagian ataupun Alaska Young, ada di tempatnya masing-masing. “Mencari Alaska” yang dimaksud Green adalah mencari jati diri Alaska; mencari apa yang bergerumul dalam otak gadis seksi yang impulsif itu. “Mencari Alaska” lebih menuntun pembaca untuk menebak-nebak jalan pikir Alaska yang emosinya meledak-ledak.

Berbicara mengenai bagian-bagian dari “Mencari Alaska”, rasanya takbisa lepas dari salah satu mata pelajaran yang kerap Green ceritakan, yakni pelajaran agama. Uniknya, dalam pelajaran ini, siswa Culver Creek langsung mempelajari tiga agama sekaligus, yakni Islam, Buddha, dan Kristen. Disadari atau tidak, pelajaran agama ini cukup memengaruhi jalan cerita. Misalnya saja, pada salah satu bagian penting saat Dr. Hyde, guru pelajaran ini, memberikan tugas esai dari pertanyaan: bagaimana caramu keluar dari labirin penderitaan?

Kalau dipahami lebih jauh, alur novel ini ternyata nggak sebegitu dalamnya seperti bahasa-bahasa yang digunakan oleh John Green. Sederhananya, Pudge dan kawan-kawan hanya mencari berbagai kemungkinan yang membuat Alaska meninggal. Hasil pencarian mereka pun dapat dikatakan “oh, begini doang?”, sebab setelah menguraikan keruwetan teka-teki yang itu-itu lagi—mengapa Alaska menangis saat itu? Mengapa dia marah-marah seperti orang kesetanan? Alaska mabuk berat, lalu ia menabrak mobil polisi, lalu?—John Green hanya menghadirkan sepucuk surat dari Takumi sebagai jawaban atas segalanya. Seluruh teka-teki terkait tragedi itu yang tengah diselesaikan oleh Pudge dan Kolonel, akhirnya terpecahkan secara resmi, sekaligus menjadi akhir dari cerita novel itu sendiri. Padahal, saya (dan mungkin pembaca lain) sudah mendapati hipotesis dalam surat Takumi dibeberapa bagian sebelumnya, yakni saat Pudge, Kolonel, dan Takumi berkumpul di kamar asrama.

Hasilnya, rencana plot twist yang hendak diberikan John Green kepada pembaca malah terasa hambar. Takumi memang mengagetkan, sekaligus agak menyebalkan, dengan memberikan surat tiba-tiba saat ia sudah terbang menuju Jepang. Namun, penjelasan terperinci mengenai tragedi sudah didapat pembaca jauh sebelum bagian itu. Sesudah sebagai segmen pencarian dan pemecah masalah utama perihal Labirin, bab ini malah berakhir ngambang dengan pembaca yang dibiarkan menebak-nebak: jadi, gimana cara Pudge keluar dari Labirin?

Selain cara keluar dari Labirin, Pudge juga selalu mencari-cari Kemungkinan Besar yang ia dambakan sejak masuk ke Culver Creek. Untungnya, lain dari urusan Labirin, pembaca cukup dipuaskan dengan Pudge yang sudah menemukan Kemungkinan Besar-nya di sekolah asrama itu: kehidupan yang lebih berarti dengan serangkaian kejailan dan kegilaan yang dilakukan bersama teman-temannya. Kalau begitu, alih-alih terfokus pada “Alaska”, mungkin novel ini lebih ke “Looking for The Great Perhaps”?

Dengan genre komedi-romantis dan alur khas percintaan remaja, novel-novel John Green sebenarnya bisa saja menjadi novel teenlit ala kaula muda dengan cerita cinta picisan kalau-kalau ia berkarya di Indonesia. Poin plusnya, John Green mampu mengolah diksi dengan sangat baik dan kerap menghadirkan istilah yang jarang digunakan oleh penulis novel dengan kategori remaja. Ditambah—dalam “Looking for Alaska”, misalnya—ia memberi fokus tokoh utama dengan kecintaannya terhadap kata-kata terakhir dan pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban nonretorik.

Editor: Irna Rahmawati
Desain: Azka Nadayna

Baca ketentuan disini jika kalian ingin mengirimkan resensi, cerpen maupun puisi!

Artikel Lainnya