MEMBENTUK PRIBADI YANG KRITIS DAN KREATIF DI ZAMAN INFORMASI YANG SUDAH LUAR BIASA MAJU

(Dari kiri) Febri, Gerald (co-founder Kok Bisa?), dan Langit (word engineer Kok Bisa?) sedang berdiskusi mengenai media kreatif dan pengelolaan informasi di Kok Bisa? Channel dalam seminar jurnalistik dan media kreatif BEM GAMA FIB Unpad, rabu (10/05) di Aula PSBJ Unpad. Foto: Alifa Zahra

Rabu (10/05) kemarin, Kementerian Media dan Informasi (Medfo) BEM Gama FIB Unpad mengadakan seminar jurnalistik dan media kreatif dengan tajuk “Satu Kata, Sejuta Makna” di Aula PSBJ FIB Unpad. Seminar tersebut menghadirkan Gumgum Gumelar, sekretaris prodi Jurnalistik Unpad serta Gerald dan Langit dari Kok Bisa? Channel.

Di sesi pertama, Gumgum Gumelar memaparkan materi mengenai berita benar dan berita hoax yang keberadaanya mempengaruhi banyak kehidupan masyarakat. Ia menuturkan bahwa banyaknya berita hoax ini tidak terlepas dari berkembangnya media sosial di kalangan masyarakat sehingga menyebabkan informasi yang ada, baik benar maupun hoax, sangat berlimpah. Selain itu, faktor hilangnya kepercayaan publik terhadap netralisasi pers dan kebenaran dan masih rendahnya literasi media di Indonesia menjadi penyebab lain munculnya banyak berita hoax. Ditambah lagi berita palsu dapat mendatangkan uang. Tak heran, berita hoaks semakin banyak bermunculan.

“Menyebarkan atau memberitakan hoax itu melanggar kode etik jurnalistik,” kata Gumgum.

Hal tersebut diungkapkan Gumgum karena bagi para jurnalis, kebenaran adalah harga mati. Selain melanggar kode etik jurnalistik dan “menawar” harga mati, menyebarkan berita hoax merupakan salah satu tindakan yang melanggar hukum dan dapat dijatuhi hukuman penjara enam tahun hingga denda.

Menurut Gumgum, selain berita yang tidak benar atau dalam kata lain palsu, berita hoax juga bisa merupakan berita benar, namun dihadirkan dalam konteks, situasi yang tidak tepat. Contohnya berita tahun 2016 yang dihadirkan di tahun 2017. Foto pun tak terlepas kaitannya dari berita hoax. Foto yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, foto lama yang dipakai untuk berita di waktu sekarang, juga merupakan bagian dari hoax. Gumgum juga mengungkapkan info yang sering dijadikan berita palsu, yaitu info kesehatan, isu politik, hiburan, dan persaingan bisnis.

Berita palsu dapat dicek dengan memeriksa nama domain dan penanggung jawab (redaksional) dan alamat media tersebut. Media terpercaya biasanya mencantumkan nama-nama penanggunjawab, alamat kantor, bahkan nomor telepon. Memeriksa fakta dari sumber lain, memeriksa foto yang digunakan, memeriksa judul berita (provokatif-bombastik tidaknya), tanggal sumber berita, dan membandingkan dengan berita lain juga bisa dilakukan untuk memeriksa berita palsu.

Berbagai pihak sudah mengambil langkah untuk melawan berita hoax. Dewan pers yang mulai memverifikasi media massa dengan barkode, pemerintah yang bekerjasama dengan Google dan Facebook, Kemkominfo yang memblokir situs penyebar fitnah dan hoax, berbagai perpustakaan yang mengkampanyekan literasi media, serta berbagai komunitas anti-hoax. Mahasiswa-mahasiswi pun dapat mengambil langkah untuk mengurangi penyebaran berita hoax dengan memeriksa informasi dan berhati-hati dalam menyebarkan informasi, terlebih lagi jika informasi tersebut belum tentu benar dan belum pasti bermanfaat.

Sesi kedua seminar jurnalistik dan media kreatif menghadirkan guest star yang paling ditunggu – tunggu, yaitu “Kok Bisa?” dengan narasumber yang komunikatif dan asyik, Gerald (co-founder Kok Bisa?) dan Langit (Word Engineer “Kok bisa?”). “Kok-bisa?” ini adalah salah satu media pendidikan dengan fitur yang anak muda banget. Berawal dari keresahan akan tayangan televisi yang kurang mendidik di zaman yang serba mudah ini dan malasnya orang-orang untuk membaca teori panjang yang menguras banyak waktu untuk belajar, maka pemuda–pemudi kreatif ini membuat inovasi tentang bagaimana kita “belajar tapi fun” melalui video dengan gambar menarik dan bahasa yang simple. Konsep ini tentu saja disukai banyak orang, terbukti dengan jumlah subscribers kok-bisa channel di YouTube. Namun tentunya, keberhasilan kok-bisa? Tersebut bukan hasil semalam. Untuk meraih eksistensi seperti saat ini “Kok-Bisa?” harus menempuh banyak rintangan.

Viewers kami awalnya hanya 15 itupun kami, mama, papa, adik, kakak, dan teman – teman dekat,” tutur Langit.

Sempat ditanya mengapa “kok bisa?” menamai diri mereka dengan “kok bisa?”, Gerald menjawab bahwa semua ilmu pengetahuan berawal dari pertanyaan “kok bisa?” yang menumbuhkan rasa keingintahuan dan mencari jawabannya. Karena alasan tesebut, “Kok Bisa?” menjadi “Kok bisa?” yang sekarang terkenal. Uniknya, “Kok-Bisa?” juga memfasilitasi kita yang ingin yang belajar dan dijawab pertanyaannya.

Berita hoax dan media kreatif menyadarkan kembali mahasiswa mengenai fenomena-fenomena di media sosial dan mengajak mahasiswa untuk terus berkreasi. Selain itu, media kreatif kini menjadi alat yang sangat ampuh di era globalisasi bagi kita untuk menyalurkan ide dan bakat kita. Bahkan tempat dimana kita bisa menjadi sesuatu apa yang kita inginkan seperti menjadi jurnalis, fotgrafer, penyanyi, model, dan lain–lain. Berkat adanya workshop jurnalistik dan media kreatif ini, peserta dapat menjadi lebih bijak dan berhati–hati dalam memilih berita, begitu pula membentuk pribadi yang kritis dan kreatif di zaman informasi yang sudah luar biasa maju. (DJ/AZ)

0

Komentar