MASALAH PERBURUHAN DI INDONESIA

 

Jatinangor, 16 Mei 2017

Dalam rangka merayakan Hari Buruh dan Hari Buku Nasional, Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM Gama FIB Unpad menyelenggarakan sebuah acara bedah buku “Menolak Tunduk : Cerita Perlawanan Dari Enam Kota” yang ditulis oleh Supinah, yang juga merupakan mantan buruh, di Aula Gedung B FIB Unpad. Acara yang dimoderatori oleh Kus Aliya Reza dari Ilmu Politik Unpad tersebut juga bekerja sama dengan komunitas Suara Lorong. Buku “Menolak Tunduk” merupakan kumpulan catatan dari para buruh itu sendiri tentang apa yang mereka alami dan rasakan selama mereka bekerja. Buku ini adalah buku kedua dari buku sebelumnya.

Pada awal acara, diputarkan film “Factory Asia” yang bercerita tentang sejarah perindustrian dan buruh di kota-kota besar Asia, termasuk Jakarta, hingga perkembangannya sampai saat ini. Dalam film tersebut juga dipaparkan masalah-masalah yang dihadapi para buruh dalam keseharian mereka, seperti upah yang diatas batas minimum, banyaknya hak buruh yang dilanggar oleh perusahaan, hingga ketakutan perusahaan terhadap buruh yang mendirikan serikat pekerja.

Acara ini bertujuan untuk mengembangkan minat mahasiswa terhadap perburuhan, agar mahasiswa mulai menghilangkan anggapan tentang buruh yang biasanya bekerja di pabrik, sering berdemo, dan pekerja kasar. Mahasiswa harus mulai bisa membangun anggapan bahwa semua yang didapat di sekitar mereka adalah hasil dari kerja buruh, baik itu dari pakaian, makanan, jasa, hingga pendidikan.

Dalam acara ini dihadirkan beberapa wanita petugas K3L Unpad. Mereka merupakan contoh kaum buruh yang terdekat dengan mahasiswa Unpad yang juga memiliki masalah serupa. Selain itu, diharapkan para petugas K3L juga mulai berani untuk menuliskan masalah-masalah yang dialami selama mereka bekerja.

Rencananya, hasil dari diskusi ini akan dipublikasikan melalui akun resmi BEM Gama FIB Unpad dan Kopi Sastra. Diharapkan, mahasiswa, terutama mahasiswa FIB, lebih peka terhadap kondisi buruh yang ada di Indonesia dan lebih mengerti keinginan buruh yang sebenarnya.

Pesan untuk para buruh dari acara ini adalah mereka diharapkan tetap memperjuangkan apa yang patut diperjuangkan dan untuk mahasiswanya adalah menjadi jauh lebih peka terhadap masalah sekitar, jangan hanya peduli terhadap masalah diri sendiri, dan membuka mata bahwa ada masalah yang lebih besar daripada masalah mereka sendiri.

Masalah industri dan perburuhan merupakan masalah yang pelik dan harus dicari bersama-sama jalan keluarnya, menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), apakah buruh Indonesia dan perusahaan-perusahaan sudah siap menghadapinya?

Diskusi ditutup dengan pernyataan sang penulis, Supinah, yang mengatakan, “tidak akan ada macet ataupun kerusuhan karena demo, kecuali kehidupan buruh sudah sejahtera, karena kita berjuang untuk kesejahteraan. Panjang umur perlawanan!”. (DY/RZ)

Komentar