‘Manunggaling Kawula Bumi’, Menyoal Hubungan Bumi dan Manusia yang Semakin Timpang

Munawaroh
391 views

Tidak dipungkiri lagi, perkembangan zaman yang semakin pesat menuju ketidakpastian ini semakin hari semakin mencemaskan kita semua. Berita-berita tentang kematian, peristiwa menyedihkan dan utamanya bencana alam, hilir mudik dalam genggaman gawai kita. Penyebabnya, kebanyakan justru dari kita sendiri juga, manusia, dengan segala tetek bengeknya.

“Manusia adalah makhluk rasional: segala tindakan dilindasi atas keinginan untuk memenuhi kebutuhannya, menggarap limpahan alam yang terbatas jumlahnya.” adalah sepenggal kalimat dari tulisan pembuka yang dimuat dalam majalah bernama Enkultura yang resmi terbit pada hari Kamis (10/6) lalu.

Dalam 10 tulisan lainnya yang dimuat majalah dengan sampul bergambar dua buah babi, satu orang manusia, dan tentakel gurita yang tertimbun lautan rongsok dengan warna dominan hijau tosca dan jingga ini, memiliki satu kesamaan tujuan dan isi yang kurang lebih mencoba untuk menceritakan hubungan-hubungan manusia terhadap rumahnya sendiri, bumi beserta makhluk-makhluk lainnya.

Dengan mengusung tajuk “Manunggaling Kawula Bumi” yang dalam terjemahan kasar ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti bahwa manusia dan mahkluk hidup lain sejatinya menyatu dengan alam/bumi, Enkultura mengangkat tema seputar ekologi, hewan dan lingkungan. Dari mulai membahas penciptaan mitos oleh manusia yang dikemas dengan bahasa sastrawi, resensi film dokumenter yang dikaji melalui sudut pandang ekofeminisme, hingga baiat manusia terhadap hewan yang sebenarnya tidak tahu menahu soal haram atau halal, ditulis secara menarik pada peluncuran majalah Enkultura ke-23 ini.

Selain untuk menampar perilaku manusia terhadap lingkungan sekitarnya, perilisan majalah “Manunggaling Kawula Bumi” ini juga bertujuan untuk mengenalkan tentang ilmu antropologi yang menjadi tempat Enkultura bersemayam.

“Kami memilih tema ekologi, lingkungan, dan hewan pada peluncuran majalah Enkultura kali ini, karena sebenarnya kami ingin mengatakan bahwa antropologi nggak cuma belajar soal manusia dan budaya aja, tapi juga belajar soal ekologi lingkungan juga. Ditambah, isu soal ekologi lingkungan, climate change dan sebagainya yang kian hari kian parah” ujar Tiara, ketua pimpinan redaksi majalah Enkultura edisi ke-23.

Enkultura sendiri merupakan program kerja berbentuk majalah yang berada di bawah naungan Departemen Kajian Sosial Budaya Himpunan Mahasiswa Antropologi Universitas Padjadjaran. Majalah Enkultura membahas hal-hal yang menjadi bahasan antropologi itu sendiri. Selain itu, majalah ini juga bertujuan untuk menjadi wadah mahasiswa antropologi untuk berkarya, menulis, dan juga membaca. Kendati demikian, pada perilisan ke-23 ini, majalah Enkultura mencoba untuk melebarkan sayap ke luar jurusan dengan membuka submisi kepada mahasiswa di luar jurusan antropolgoi.

“Tahun ini kami bakal nerbitin dua majalah. Edisi pertama itu yang terbit sekarang (Manunggaling Kawula Bumi) sedangkan edisi keduanya di akhir tahun. Dalam menggarap majalah edisi pertama Enkultura memakan waktu sekitar 1-2 bulan, dari mulai diskusi sampai penulisan, dan semua itu terbayar dengan banyaknya compliment yang kami terima,” pungkas Tiara.

Baca majalah Enkultura di sini: https://issuu.com/enkultura/docs/enkultura_edisi_ke-23

https://issuu.com/enkultura/docs/enkultura_edisi_ke-23

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya