Kuasa Waktu Atas Cinta, Sehimpun Puisi Moch Aldy MA

Moch Aldy MA
264 views

Rumi

Maka berbicaralah anak-anak Adam dan Hawa, dengan tutur Lingua Sacra:

“Kawula meninggal gusti, tatkala manusia-manusia nista itu—memanggil-manggil nama kekasihku dengan lancang.

Betapa mereka tak tahu, nama sakral itu adalah tempat namaku berputih tulang.

O betapa mereka tak tahu—

ketika nama itu berdengung di telingaku, sepasang gagak membawa

Alfa kepada Omega perihal reinkarnasi cinta yang baka.”

(2021)

Lirisisme yang Surreal

Bunga Daisy mekar di musim semi, tapi putih di matamu gugur seperti Prometheus yang hidup tanpa api. Kau bertanya: “Mengapa penyesalan tak pernah datang tepat waktu? Sementara hitamnya lubang hitam memancarkan radiasi kepada waktu—yang mencair dalam ruang dan lukisan Salvador Dalí.”

Aku menenggelamkan cinta di dinding rindu. Atas nama cinta, kau bertanya padaku di manakah cinta? Tapi kau pun tahu; cinta sudah mati, kemarin pagi di mata remaja kemarin sore. O di malam hari ia dikubur hidup-hidup oleh standar keluarga, hukum negara dan aturan agama.

O sayangku, apakah cinta memang memiliki kata sandi? Aku lupa kata sandinya. Kau tak peduli. Katamu 23 jam, 56 menit dan 4,09 detik lagi bumi akan mengunci rotasinya. Tapi kau pun lupa; Thanathos akan sampai di pintu waktuku, dan ia—tak akan pernah mau untuk menerima jamuan air matamu yang sudah basi semenjak kemarin sore.

(2021)

Kaotis

Distorsi masih ada di kepalaku, sayang. Aku mohon, jangan bertanya apakah mayones adalah alat musik atau bukan. Pikiranku memang melebihi kecepatan cahaya, tapi mulutku hanya memiliki kecepatan suara.

Dan kau pun tahu, pada akhirnya, Galileo Galilei hidup kembali dalam lagu Bohemian Rhapsody, buku-buku Ludwig Feuerbach membuatku meminum kopi 7 kali sehari atau 49 kali dalam seminggu, aku mengamati waktu sampai lupa waktu namun Stephen Hawking tetap tewas di atas kursi roda, Tuhan mengutuk Friedrich Nietzsche si pembunuh Tuhan dengan Sifilis, lingkungan sosial menuntut Sisyphus untuk berbahagia tanpa pernah mau menyelami makna dari Notasi Sigma, aku selalu berdoa semoga semua makhluk berbahagia, kau bertanya apa itu cinta di masa yang tak mengenal apa itu cinta dan aku ditertawakan olehmu karena memaksakan untuk menjawabnya meskipun memiliki gangguan tata bahasa: disleksia.

(2021)

Carpe Diem, Waktu dan Absurditasnya

Katanya, aku sudah pasti manusia yang paling dungu karena sering menyia-nyiakan waktu dengan mengamati waktu—seperti saat karam ke silam, berangan-angan ke depan—tapi jarum jam bergerak pasti—selalu disiplin ke kanan, begitu katanya.

Dunia ini pasti, pasti bisa diukur katanya dengan pasti—namun dunia tak sepasti apa yang ia coba pastikan itu—waktu adalah ilusi, paradoks itu sendiri—atau mungkin tak ada ruang dan waktu, yang ada hanya kombinasi keduanya.

Tapi yang pasti, waktu itu tak pasti—mungkin di masa depan, jarum jam bergerak ke kiri—yang pasti masa lalu bisa ada karena sekarang, begitu pun masa depan—namun mengapa masa lalu selalu menghantui sisi-sisi kontemplasi—mengapa masa depan begitu menyilaukan mata—mengapa masa yang sekarang sering kali diasingkan.

Dan Carpe Diem mengisi kekosongan bersama segala sesuatu yang tak lagi manusia pedulikan—perlahan namun pasti menjadi sesuatu yang niscaya luput dari perhatian—aku hanya mengamati waktu, hanya itu yang tersisa dan kumiliki sepenuhnya.

(2021)

Editor Irna Rahmawati

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya