Jeda Rodi

Hanni
68 views

Belakangan ini, terjadi kasus kecelakaan misterius di lingkungan kampusku.

Sudah ada enam korban yang berjatuhan, dan rata-rata dari mereka menderita luka yang cukup berat sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Dengar-dengar, salah satu korban sampai harus menjalani operasi plastik ke Singapura karena wajahnya hancur akibat jatuh dari lantai dua dan mendarat tepat di lapangan parkir.

Gara-gara kasus ini, pihak rektorat membuat peraturan darurat. Seluruh kegiatan perkuliahan dipangkas durasinya. Mahasiswa harus meninggalkan area kampus sebelum jam empat sore, dan personil satpam ditambah menjadi dua kali lipat lebih banyak untuk berpatroli selama dua puluh empat jam penuh demi mencegah adanya kasus kecelakaan misterius lainnya.

Peraturan ini memang mempengaruhi jam kuliahku. Dan jujur saja, aku sedikit kecewa karena itu. Pasalnya, satu-satunya hal yang bisa kunikmati selama kehidupanku di kampus hanyalah ketika aku mendengarkan penjelasan dari dosen di dalam ruang kelas. Aku suka mencatat materi-materi penting yang dosen berikan, aku suka melakukan presentasi di depan kelas, dan aku paling bersemangat jika sesi diskusi dalam kelas berlangsung. Peraturan baru itu membuatku kehilangan nyaris sebagian dari pengalaman menyenangkan dalam kelas.

Tapi, tampaknya peraturan itu tidak memberikan pengaruh yang cukup besar bagi kegiatan kemahasiswaan. Apalagi kegiatan yang menurutku tidak penting-penting amat seperti rapat organisasi.

“Males banget!” keluh Anjani, cewekku yang super cantik dengan bibir cemberutnya yang menggemaskan. “Kenapa sih, masih harus maksain rapat padahal situasi lagi mencekam begini?”

“Kenapa? Kamu ada jadwal rapat hari ini?”

Anjani menatapku dengan tampang jengkel. “Iya! Sebel banget tauk, Jun! Padahal aku udah pesen tiket pulang ke rumah nanti sore!”

“Memangnya kamu nggak bisa izin aja gitu? Aku yakin mereka pasti ngerti.” Aku memberikan saran sembari menahan keras dorongan untuk mengusap-usap kepala Anjani yang sedang bete.

Anjani menggelengkan kepalanya lemah.

“Nggak bisa. Apalagi setelah enam pengurus inti kecelakaan dan harus rehat sampai waktu yang nggak pasti kapan. Organisasi lagi kalang kabut banget, soalnya.”

Aku menganggukkan kepalaku tanda mengerti. Pasti sulit juga sih, mengurus organisasi penting yang enam orang pengurus intinya tiba-tiba celaka dalam waktu berdekatan, di wilayah kampus pula.

Sebelum aku sempat membalas perkataan Anjani, seorang cowok berperawakan tinggi dengan badan tegap yang gagah datang menghampiri meja kami—atau, menghampiri Anjani, lebih tepatnya. Wajahnya tampak jauh lebih jengkel dan suram dibandingkan Anjani.

“Jani! Ngapain kamu di sini? Ayo, kita siap-siap kumpul!” cowok itu menarik tangan Anjani dengan sedikit kasar, memaksa cewekku untuk berdiri.

Anjani mendengus kesal sembari meraih tasnya dengan terburu-buru. Dari raut wajahnya, aku tahu dia tidak suka diperlakukan seperti itu.

“Sori, Juna. Aku duluan ya!”

Bahkan, tanpa melirikku sedikitpun, cowok menyebalkan itu membawa Anjani berlalu dari hadapanku, meninggalkanku di meja kantin yang sudah mulai kosong ini sendirian.

Benar-benar kurang ajar.

***

Keesokan harinya, aku datang pagi-pagi sekali ke kampus.

Suasana kampus yang jauh lebih ramai daripada biasanya membuatku sedikit tidak nyaman, apalagi ketika banyak wartawan dan polisi yang berkeliaran. Aku menghampiri kerumunan orang-orang yang sedang berdiri di belakang garis polisi dengan ponsel terangkat di tangan mereka, berniat untuk mengabadikan pemandangan mengerikan yang sudah susah payah polisi tutupi namun nyatanya masih bisa mengundang perhatian juga.

“Ngeri banget ya!” bisik seseorang yang berdiri di dekatku kepada temannya. “Denger-denger kepalanya hancur!”

“Apa ini bunuh diri?”

“Bukan, deh! Gue yakin pasti ada kaitannya dengan kasus kecelakaan misterius kemarin-kemarin! Lagipula, mana mungkin seseorang memiliki niat bunuh diri dengan cara memukul kepalanya sendiri sampai mati?”

“Iya juga sih, ya. Tadi denger-denger polisi juga bilang gitu.”

“Serem, kan!”

Aku berhenti menguping pembicaraan kedua orang tersebut ketika mataku menemukan sosok Anjani, yang saat ini sedang terduduk dengan lemas di salah satu bangku taman dekat tempat kejadian. Wajahnya tampak lesu, matanya sembab dan merah. Mungkin karena terlalu banyak menangis. Sementara itu, dua orang teman perempuannya tampak sibuk menenangkan cewekku itu dengan memeluknya dan memberinya air minum.

Andai saja aku bisa berlari ke sana dan memeluk Anjani sekuat tenaga. Aku ingin sekali menenangkannya dan meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.

Tapi, mau bagaimana lagi?

Aku sendiri sudah tahu reaksi yang akan Anjani berikan ketika aku memutuskan untuk menghantam kepala si cowok bedebah yang sialnya merupakan pacarnya sekaligus ketua organisasi itu. Si cowok kurang ajar, yang selama ini terlalu dibutakan oleh kekuasaan yang dimilikinya di lingkungan kampus dan dengan seenak jidatnya membuat sengsara pengurus organisasi yang lain. Kalau saja aku tidak membuat keenam pengurus inti organisasi itu kecelakaan, mereka pasti akan bekerja rodi terus-terusan seperti sapi perah karena perintah konyol dari cowok itu.

Sekarang, setelah aku membuat mereka semua mendapatkan waktu istirahat yang sepantasnya mereka dapatkan, aku juga turut membantu mereka dengan cara mengenyahkan si maniak organisasi itu. Aku harap, dengan matinya cowok itu di tanganku, Anjani dan teman-temannya yang lain tidak perlu menghabiskan masa muda mereka dengan beragam rapat tidak penting lagi.

Editor : Irna Rahmawati

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya