JAFEST 2015: Mengangkat dan Memperkenalkan Kembali Kebudayaan Jatinangor

Salah satu penampilan pembuka JaFest 2015, pencak silat SMP PGRI 1 Jatinganor. (Foto: Zahra)

Salah satu penampilan pembuka JaFest 2015, pencak silat SMP PGRI 1 Jatinganor. (Foto: Zahra)

Dalam rangka upaya membuka ruang publik untuk kesenian, kebudayaan, kerajinan dan makanan khas Sunda khususnya Jatinangor, mahasiswa Kehumasan A angkatan 2013, Fikom Universitas Padjajaran mengadakan acara bertajuk JaFest yang merupakan akronim dari Jatinangor Festival. Acara ini bertempat di Lapangan Parkir BNI Gerbang Barat Unpad Jatinangor. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 5 Desember 2015 ini merupakan bentuk praktikum dari mata kuliah Event of PR pendidikan diploma Humas Fikom Unpad. Dengan mengusung tagline “Ngunyem, Ngulin, Nyunda”, JaFest ingin menghadirkan suasana dalam satu hari dimana orang-orang menikmati makanan dan bermain dalam satu hari yang bertemakan kebudayaan Sunda, khususnya Jatinangor.

Acara yang dimulai pukul 10 pagi ini dibuka dengan rangkaian helaran atau pawai yang diikuti oleh para pengisi acara keseninan yang merupakan wakil dari 8 desa di Jatinangor. Rute pawai dilaksanakan di dalam kampus Unpad Jatinangor, mulai dari Gerbang BNI berlanjut ke ATM Center, GOR Jati, Fakultas Kedokteran, hingga UKM Barat dan berakhir di venue acara. Helaran diikuti oleh seluruh panitia dan peserta pawai yang menampilkan kesenian Orayliong, Dodombaan, Reak dan Singa Depok.

Dalam acara ini, ada 12 desa yang diundang untuk berpartisipasi menampilkan kesenian khasnya. Desa-desa tersebut antara lain desa Cikeruh, Hegarmanah, Cibeusi, Cipacing, Sayang, Mekargalih, Cintamulya, Jatimukti, Cisempur, Jatiroke, Cileles, dan Cilayung.

Acara utama dimulai sekitar pukul satu dengan menghadirkan berbagai kesenian khas Sunda dari perwakilan desa-desa yang ada di Jatinangor, seperti Pencak Silat, Tari Jaipong, Reog, Calung, dan Karinding. Selain penampilan kesenian tradisional dari perwakilan desa-desa di Jatinangor, JaFest juga dimeriahkan oleh penampilan kelompok musik indie, kontemporer, dan etnik, seperti Bandung Inikami Orcheska, Sakatalu, Egarobot Ethnic Percussion, Orkes Bagong Februari, Vanguard Parkour Band, dan Jionara Band.

Selain menampilkan berbagai performance musik tradisional dan modern, kita bisa melihat pameran foto oleh komunitas Relawan Perubahan Jatinangor (RPJ) yang menampilkan wajah kesenian Jatinangor seperti reak dan suling bambu.

Selama berada di dalam venue acara, kita tidak perlu khawatir akan kelaparan, karena terdapat banyak stand makanan dan minuman, mulai dari makanan khas Sunda seperti sorabi, awug, batagor, gehu, basreng, seblak, dan juga makanan tenant modern seperti okonomiyaki, hotdog, milktea, dan lain-lain.

Zulmy Mochammad Zulkifly, sebagai ketua pelaksana JaFest menjelaskan perihal tujuan diselenggarakannya event ini, “JaFest merupakan pesta rakyat Jatinangor. Dengan mengambil tema kebudayaan, kami ingin melestarikan kembali kesenian-kesenian yg ada di Jatinangor dan memperkenalkan kesenian-kesenian tersebut kepada mahasiwa yg bukan berdomisili di Jatinangor atau berbudaya Sunda. Untuk konsepnya sendiri, kita mengambil budaya, jadi untuk konten-kontennya sendiri tadi sudah diselenggarakan helaran atau semacam pawai. Pokoknya kita mengangkat budaya-budaya yang ada di Jatinangor dari potensi-potensi yg ada di 12 desa tersebut. Target sasasrannya 80 % masyarakat, 20% mahasiswa. Untuk target kedepannya dari diselenggarakannya event ini kami berharap untuk jangka panjang masyarakat jadi lebih mencintai kesenian mereka dan mahasiswa lebih tahu dengan kesenian-kesenian yang ada di Jatinangor”.

Fitri, salah satu pengunjung JaFest mengungkapkan pendapatnya terkait event yang ia datangi kali ini, “Menurut aku acara JaFest ini konsepnya bagus ya, soalnya jarang mahasiswa bikin yang budaya-budaya kayak gini, terus juga kayaknya kalo respond dari masyarakat sekitar bagus, terus melibatkan masyarakat Jatinangor juga. Jatinangor kan enggak cuma mahasiwa aja, tapi juga ada masyarakat yang perlu diakui, tapi kalo aku lihat target sasarannya memang masyarkat sekitar, kalo mahasiwanya sendiri agak kurang, kalo saya sendiri sebagai mahasiswa untuk keseluruhan sih konsepnya sangat bagus kok.”

JaFest juga turut serta megundang perwakilan pihak-pihak dari pemerintah daerah dan universitas seperti kecamatan Jatinangor beserta 12 desanya, Dinas Parpora Sumedang, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Relawan Perubahan Jatinangor, Dewan Kesenian Jatinangor, Perwakilan Rektorat Unpad dan Dekanat Fikom Unpad. (Indah)

0

Komentar