Gen Z: Si Religius, tetapi Liberal

Husni Rachma
109 views

Beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri suatu webinar mengenai kampus merdeka yang diadakan oleh Universitas Padjadjaran (Unpad). Dalam salah satu acaranya, ada pemaparan materi mengenai Generasi Z atau Gen Z. Ibu Dini Kusumawati, Kepala Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan di Kementerian Keuangan, berhasil menyinggung materi mengenai Gen Z dengan sangat menarik sehingga saya terdorong untuk fokus mendengarkan.

“Gen Z itu religius, tetapi liberal,” ungkapnya. Satu kalimat itu yang membawa saya sampai ke sini untuk menuliskannya, sekaligus ingin membenarkan pernyataan tersebut.

Dari masa ke masa, jika kita melihat dari sisi historis, aspek kehidupan selalu berubah sesuai dengan perkembangan zamannya. Di Eropa, tepatnya saat abad pertengahan, orang-orang berpegang teguh dengan prinsip keagamaan dan hidup di bawah otoritas Gereja Katolik yang absolut. Lalu, pemikiran itu didobrak oleh seorang pastor dari Jerman bernama Marthin Luther yang menentang ajaran-ajaran Gereja Katolik karena ia menemukan banyak bentuk penyimpangan di sana, seperti adanya penjualan surat pengampun dosa dengan dalih untuk keselamatan manusia.

Kemudian, pemikiran manusia berkembang lagi di zaman Renaisans. Di zaman ini, orang-orang, sedikit demi sedikit, telah melepaskan diri dari belenggu-belenggu Gereja yang dogmatis dan mengekang.

Memasuki zaman baru yang ditandai oleh Revolusi Industri, pemikiran orang-orang Eropa berkembang lagi menjadi lebih terbuka. Sampai akhirnya, kita tiba di zaman modern seperti sekarang yang melahirkan generasi-generasi baru, salah satunya Generasi Z (Gen Z). Maka dari itu, tak heran jika kita melihat karakteristik yang dimiliki Gen Z ini berbeda dengan manusia di masa-masa sebelumnya.

Dikutip dari Businessinsider.com, Generasi Z (alias Gen Z, iGen, atau centennial), mengacu pada generasi yang lahir antara tahun 1996-2010, mengikuti generasi Milenial. Generasi ini telah dibesarkan di internet dan media sosial, beberapa dari mereka memasuki perguruan tinggi dan memasuki dunia kerja di tahun 2020.

Jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, banyak karakteristik berbeda yang dimiliki oleh Gen Z, tetapi kalimat “Gen Z itu religius, tetapi liberal” sepertinya cukup mewakili, setidaknya terlihat dari bagaimana Gen Z ini berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Perihal agama, misalnya. Saya rasa, khususnya di Generasi Z, banyak peminat yang tertarik untuk membahasnya. Banyak orang yang berusaha memikirkan bagaimana cara kerja agama sesungguhnya, lalu dikaitkan dengan pemikiran logis. Jika agama itu benar, maka akan bisa diterima oleh akal pikiran. Sebaliknya, jika ada hal-hal yang sulit diterima akal pikiran, Gen Z akan berusaha mendiskusikan bagaimana kebenaran hal tersebut. Hal ini bukan berarti menunjukkan bahwa Gen Z tidak percaya agama, tetapi justru karena Gen Z ini tertarik mendiskusikannya, maka mereka menunjukkan bahwa mereka memikirkan agama dan memiliki sifat religius.

Saya yang termasuk Gen Z pun merasa demikian. Sejak SMA, saya mulai menemukan satu per satu orang yang asyik untuk diajak berbincang. Asyik di sini dalam artian memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, senang mendiskusikan kebenaran dari suatu hal untuk sekadar tahu bagaimana seharusnya dan bagaimana sebenarnya hal tersebut, tetapi memiliki sifat tidak memaksakan pendapatnya dan berusaha untuk menerima pendapat orang lain dengan baik.

Saya cukup sering membicarakan ‘kehidupan’ dengan orang-orang yang sezaman dengan saya, misalnya perihal agama. Bagaimana cara agama itu bekerja, mengapa bisa demikian, sampai mengapa ada orang yang dirasa kadang berlebihan dalam mengimaninya. Sesuatu yang berlebihan memanglah tidak pernah baik, hal itu cukup mengganggu, maka itulah alasan mengapa terkadang membicarakan perihal agama menyenangkan sekaligus memusingkan.

Ketika membicarakannya bersama orang yang berusia tidak jauh dari saya, percakapan mengenai agama terasa lancar dan damai-damai saja. Masing-masing pendapat yang diutarakan dapat meluncur mulus melalui telinga kanan. Pengutaraannya pun tenang, mendarat dengan selamat di otak. Beberapa pertanyaan kadang tidak memiliki jawaban, artinya memang itu akhirnya kembali kepada kepercayaan masing-masing yang mungkin sukar diungkapkan. Mungkin ini juga yang menjadi perbedaan antara kehidupan di Eropa dan di Asia. Jika di Eropa terkenal dengan rasionalitasnya, di Asia peran kebudayaan kadang mengalahkan rasionalitas.

Namun, setidaknya, diskusi bersama teman-teman sezaman perihal apa saja ini berdampak pada semakin sedikitnya sisa pertanyaan dalam kepala saya. Sisa pertanyaan itu, mungkin memang tidak memiliki jawaban yang bisa diterima akal pikiran, sebab ternyata tidak semua hal harus ada jawabannya sekarang, kan?

Berbeda ketika saya mencoba membuka pertanyaan perihal agama kepada orang-orang yang usianya jauh di atas saya, mereka adalah generasi-generasi sebelum abad ke- 21. Diskusi sering kali tidak berjalan dengan mulus, jatuhnya malah seperti guru yang mengajari murid dengan terpaksa –banyak ngegasnya. Cara pikir dan cara bicara mereka dengan generasi saya bisa dirasakan dengan jelas perbedaannya. Bukan berarti generasi sebelumnya tidak benar, hanya saja mungkin cara pandangnya yang berbeda.

Akan tetapi, tidak semua orang terdahulu berpikir demikian. Ada juga orang beda generasi yang sudah berumur, tapi masih asyik untuk diajak bercakap-cakap. Dengan pengetahuan luasnya, mereka berusaha memberi kita suatu pengalaman yang berharga. Suatu pengalaman tentang hidup, kehidupan, atau bahkan hal-hal yang tidak ditampakkan secara langsung oleh alam. Hal-hal yang saya uraikan sepertinya memang cukup membuktikan bahwa ternyata si Generasi Z ini religius, tapi liberal. Gen Z suka kebebasan, tidak suka dikekang. Tempat favoritnya bukan lagi gubuk beratap kayu, tetapi lapangan terbuka beratap langit biru.

Editor: Raihan Rizkuloh Gantiar Putra

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya