Gedung C dan ‘Penghuninya’ yang Selalu Siap Menyambut Kehadiran Kamu

Azmah Sholihah
323 views

Mahasiswa bisa mengeluh karena semua hal, bahkan hingga ke hal yang paling sederhana sedikit pun. Tidak terkecuali kawan saya yang banyak mengeluh karena gedung, yaitu Gedung C FIB Unpad. Alasannya sepele, tapi kalau kamu anak FIB pasti ngerti. Bagaimana tidak? Untuk menuju ruang perkuliahan yang saat itu sering dilakukan di lantai tiga, rasanya benar-benar melelahkan. Kawan saya harus melalui begitu banyak tangga sebelum sampai di lantai tiga. Ia bahkan nggak sekali dua kali berharap FIB, khususnya Gedung C akan punya lift untuk menunjang mobilitas staf dan mahasiswa. Padahal, banyaknya tangga yang ada di Gedung C bisa jadi ajang olahraga gratis bagi siapa saja sebelum memulai perkuliahan. Lumayan banget, loh.

Tapi ternyata, ada alasan lain yang membuat kawan saya ini rasanya begitu malas kalau harus ke Gedung C. Sebagai bangunan yang sudah cukup berumur, Gedung C punya cerita yang mungkin cukup umum dialami oleh mahasiswa FIB. Tak jarang, satu atau dua mahasiswa harus apes sesekali, atau mungkin berkali-kali. Salah satu yang pernah merasakannya ialah kawan saya sendiri.

Saat itu ia nggak sengaja meninggalkan salah satu barangnya di Gedung C lantai tiga setelah perkuliahan jam terakhir usai. Ia baru teringat ketika langkahnya sudah tiba di depan pos satpam FIB. Kelas terakhir selesai pukul empat sore, langit untungnya masih belum terlalu gelap. Tapi tetap saja, ia kesal karena harus balik lagi seorang diri, apalagi harus melalui tangga Gedung C yang jumlahnya kadang terasa nggak manusiawi itu. Namun, kalau memilih pulang dan kembali besok hari, rasanya nyaris mustahil barang tersebut masih berjodoh dengannya.

Kawan saya cepat-cepat minta izin ke penjaga buat jangan mengunci gedung itu dulu sebelum ia mengambil barangnya. Dengan segala ketakutan yang ada, pada akhirnya ia memutuskan kembali ke lantai tiga Gedung C meski hawa-hawa di sekelilingnya seakan meminta ia agar segera pergi.

Ketika di lantai dua, keadaannya sangat sepi dan hampir semua ruangan sudah dimatikan lampunya. Ia merasakan sensasi seakan ada yang mengikuti langkahnya (entah orang atau bukan). Perlahan sensasi itu terasa semakin dekat sampai seperti persis berada di belakang badannya, ia pun mencoba berbalik badan, siapa tau ada seseorang.

Pelan…, pelan…, kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana.

Saat keadaan sudah begini, waktunya untuk mempercepat jalan.

Setelah sampai di lantai tiga, situasinya nggak jauh beda sama lantai dua tadi, gelap dan sepi. Kawan saya harus berjalan ke ujung gedung untuk mencapai ruang kelasnya tadi, yaitu ruang C306. Meskipun memang takut, rasanya bakal sia-sia kalau malah melarikan diri setelah menempuh separuh perjalanan yang melelahkan. Ketika ia sampai di tujuan, ia juga masih harus memberanikan diri melangkah ke bagian belakang ruangan, ke tempat ia duduk saat kelas tadi.

Barang yang tertinggal kini sudah di tangan, waktunya pulang. Sayangnya, buat keluar ruangan nyatanya nggak semudah yang dibayangkan. Saat belum sepenuhnya berbalik badan, tiba-tiba melalui ujung matanya, kawan saya seperti menangkap sebuah bayangan besar di sebelah papan tulis yang biasa digunakan untuk menyampaikan materi perkuliahan. Dengan badan yang masih menghadap tembok, ia berusaha untuk nggak panik dan menganggap bahwa itu mungkin halusinasi. Tapi anehnya, setelah berkedip beberapa kali pun bayangan besar itu tetap nggak hilang. Masih tetap di sana, diam.

Kalau sudah begini, lari adalah satu-satunya jalan paling realistis yang dapat dilakukan. Ia pun segera berlari tanpa menoleh ke mana pun termasuk sebelah papan tulis.

“Draap, draap, draap” yang ada di pikiran kawan saya saat itu hanya keluar dari Gedung C.

Ternyata bayangan besar itu nggak menjadi satu-satunya masalah. Saat berlari melewati beberapa ruangan untuk menuju tangga, kawan saya melihat sekelebat seperti sosok perempuan ada di setiap ruangan yang pintunya masih terbuka. Sedang apakah mereka? Hm, kalau penasaran, silahkan ke tempatnya langsung. Mereka sepertinya akan senang menyambut, hihihi….

Editor: Tatiana Ramadhina
Ilustrator: Azka Nadayna Khoirani
Foto: Ilyansyah Nashrul

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya