Dirundung Pandemi, ke Mana Film Bioskop Berlari?

Apakah teman-teman Pena Budaya suka menonton film di bioskop?

Baik itu hobi atau hanya sekedar hiburan, beberapa orang dari berbagai kalangan suka sekali menonton film di bioskop. Apalagi masyarakat kota besar. Hal tersebut mungkin sudah menjadi rutinitasnya.

Lantas, bagaimana keadaan bioskop saat pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita untuk di rumah saja?

Tak bisa dipungkiri, munculnya pandemi yang merebak ke seluruh dunia ini meruntuhkan banyak eksistensial kegiatan manusia.

Dalam sudut pandang seni hiburan dan bisnisnya, bioskop yang terpaksa tutup sebagai langkah antisipasi memutus rantai penyebaran virus Corona tersebut membuat film-film andalan gagal tayang.

Film yang sudah ditunggu jauh-jauh hari banyak yang diundur penayangannya hingga waktu yang tidak ditentukan, baik itu film lokal atau film impor. Tidak hanya satu dua, tetapi sebagian besar bioskop di seluruh dunia terpaksa tutup.

Tentunya, hal ini menjadi mimpi buruk untuk industri perfilman. Namun, dalam perkembangannya, manusia yang inovatif serta fasilitas teknologi yang mumpuni, menjadikan hal tersebut sebagai sebuah alternatif di tengah pandemi.

Masyarakat dapat dengan nyaman menonton di rumah dan film-film andalan yang seharusnya hadir di bioskop perlahan bermunculan tayang secara legal melalui platform sinema online. Mulai dari platform pribadi milik studio filmnya, sampai aplikasi atau situs film legal.

Disney, contohnya, membuat video animasi Pixar onward yang dapat disewa pada layanan video-on-demand.

Selain itu, film Mulan—yang digadang-gadang menjadi andalan Disney tahun ini—kembali menjadi perbincangan, meskipun sempat gagal naik, setelah penayangan daringnya di layanan Disney+. Hal ini membuktikan bahwa industri film tidak akan kalah oleh pandemi.

Layanan lainnya seperti Netflix juga turut naik daun di tengah pandemi. Sinema pada platform tersebut menemani kejenuhan masyarakat dengan menghadirkan film-film layar lebar dari berbagai negara.

Ditambah, fitur-fitur canggihnya yang membuat konsumen nyaman dalam menonton. Yang pasti, platform ini mampu meraup penghasilan tinggi.

Sejalan dengan kebutuhan zaman, promosi, dan kualitas yang ditawarkan, konsumen layanan film daring ini terus meningkat. Ramainya pembahasan platform bioskop online di media sosial juga menjadi faktor yang memengaruhi ketenarannya.

Seiring dengan itu, mulai menjamur penjual yang menawarkan akun legal sampai ilegal untuk dapat masuk ke layanan bioskop daring sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan hiburannya.

Namun, jangan salah, teman-teman Pena Budaya. Sebenarnya, penayangan film di bioskop daring tidak akan bisa sebanding dengan penayangan film di bioskop luring. Kualitas gambar yang dihadirkan platform online takbisa menandingi kualitas pada layar lebar.

Bahkan menurut sejarah, industri perfilman—termasuk di dalamnya bioskop—selalu cepat beradaptasi dan bangkit kembali meski diterjang pandemi. Sebagai bukti, berbagai pagebluk telah dilewati, tetapi eksistensi bioskop selalu ada dan ada lagi.

Hal ini disebabkan oleh rasa terkurung manusia selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan di dalam ruangan yang monoton, membuat pengalaman menonton film di bioskop akan terasa lebih menakjubkan.

Penulis: Blurry Monkey

Editor: Azaina

1

Komentar