Community Development : Mendalami sisi budaya masyarakat lain

Butet Manurung sedang berbagi pengalaman mengajar di Sokola Rimba

Butet Manurung sedang berbagi pengalaman mengajar di Sokola Rimba

Departemen Pengabdian Masyarakat Huria Antropologi (HUMAN) FISIP Unpad, mengadakan acara seminar Community Development. Acara ini berlangsung pada hari Jum’at, 15 Mei 2015 mulai pukul 13.45 sampai 17.00. Acara dibuka dengan sambutan dari ketua pelaksana. “Pemberdayaan masyarakat sudah mulai marak digiatkan, namun tanpa assessment, metode dan persiapan yang matang, program tersebut tidak akan sustainable. Untuk itu seminar ini diadakan dengan harapan agar pengabdian bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat dan program-programnya bisa berjangka panjang.” (Fazka Aulia, Ketua Pelaksana).

Acara seminar yang digelar di Aula PSBJ FIB Unpad, dilaksanakan dengan tiga pembicara yang dimoderatori oleh Ahmad Maulana Syarif-Ketua Pengabdian Masyarakat HUMAN. Seminar dibuka dengan penampilan dari Duo Harmoni Taman Ilmu Voice. Pembicara pertama Ibnu Syakir,seorang mahasiswa jurusan Antropologi Unpad yang sudah mengabdi di taman ilmu selama kurang lebih 3 tahun. Memaparkan tentang pengalamannya saat mendirikan taman ilmu yang mengalami kegagalan di tahun pertama, menurutnya kegagalan tersebut diakibatkan karena kurangnya metode dan pengaplikasian teori lapangan.

Setelah menyadari bahwa teori dan  aplikasi dalam pengabdian masyarakat harus seimbang, taman ilmu mulai memperlihatkan hasilnya pada tahun kedua. Perbedaan latar kebudayaan sendiri merupakan sebuah halangan nyata bagi para pelaku pengabdian masyarakat ini. Pendekatan melalui musik dilakukan pada anak-anak desa Sukanegla yang pada saat itu menggandrungi dangdut. Perlahan namun pasti, taman ilmu mulai mendapat dukungan dari masyarakat sekitar yang awalnya tidak begitu menyadari pentingnya pendidikan. Syakir dan teman-teman menggunakan seni sebagai pendekatan sekaligus stimulus bagi anak-anak didik taman ilmu.“Ilmu yang kita miliki harus diaplikasikan kepada masyarakat, karena sejatnya kita adalah bagian dari masyarakat.” (Ibnu Syakir, Menteri PKM BEM Kema Unpad Kabinet Kolaborasi).

“Masuklah anda kedalam pikiran orang-orang yang anda tolong, sehingga mereka bisa berdiri sendiri.” (Ade Makmur Ph.D, Dosen Pemberdayaan Masyarakat Antropologi). Salah satu dosen di Unpad ini, menjadi pembicara kedua dengan pembahasan yang lebih teoritis mengenai pemberdayaan masyarakat. Community based Development (CSR) memiliki karakteristik: berbasis sumber daya masyarakat, partisipasi masyarakat, dan berkelanjutan. Dosen yang sempat menuntut ilmu di Malaysia ini sempat menceritakan pengalaman-pengalaman yang telah dialaminya. Salah satunya ketika beliau bertandang ke India, masyarakat pinggiran sungai Gangga yang saat itu memiliki masalah kesehatan. Meskipun telah dihimbau untuk merebus air sebelum dikonsumsi, masyarakat menolak dan tetap meminum air mentah yang mereka ambil dari sungai Gangga. Hingga suatu ketika Bapak Ade dan seorang teman mengambil air sungai Gangga dan merebusnya. Temannya yang langsung meminum air tersebut langsung jatuh sakit, sedangkan beliau baik-baik saja.Tentunya hal ini membuat masyarakat keheranan. Ia kemudian mengatakan pada warga bahwa air sungai yang dijaga oleh dewa air itu baik,namun untuk meningkatkan kebaikannya harus diperkuat oleh dewa agni (api). Sejak saat itu, masyarakat mulai merebus air sebelum diminum.

Acara berlangsung meriah dengan tepuk tangan penonton saat Saur Marlina Manurung atau lebih akrab disebut Butet Manurung (Founder Sokola Rimba), menjadi pembicara ketiga. Wanita yang juga alumni Antropologi Unpad ini, kurang lebih 16 tahun telah berkontribusi dalam pengembangan masyarakat dalam. Beliau berhasil mendirikan Sokola Rimba di Taman Nasional Bukit Dua Belas Jambi, dilanjutkan dengan pengembangan masyarakat di Flores dan Halmahera. Butet juga telah meraih banyak penghargaan. Butet Manurung menceritakan pengalamanya selama bertugas. Mulai dari didiamkan selama tujuh bulan, hingga mulai melakukan pendekatan, sampai akhirnya beliau berhasil mendirikan Sokola Rimba yang berkelanjutan. Butet juga menuturkan tentang baik buruknya kebiasaan masyarakat dalam yang tidak bisa langsung diganti. Pelaku pemerdaya masyarakat harus teliti mempelajari dan melakukan pendekatan. Menurutnya, karena tidak mungkin kita mengajar tanpa belajar. ”Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk mereka.” -Butet Manurung.

Acara dilanjutkan dengan sesi pertama tanya jawab untuk tiga orang penanya. Acara seminar yang sangat menginspirasi ini dijeda dengan penampilan Djam Malam. Dengan harmoni musik klasik, Djam Malam berhasil menghibur penonton. Karena keterbatasan waktu, sesi kedua tanya jawab dibuka hanya untuk satu orang penanya. Acara seminar Community Development ini ditutup dengan pemberian penghargaan kepada tiga pembicara dan moderator. (Fauziah & Intan)

0

Komentar