Cerita Kakek Saya yang Hampir Jadi Korban Genosida G30S Di Salatiga

Bismoko Nizaar A
174 views
Hantu Komunisme, G30S, dan Pelanggaran HAM

Bulan September kemarin, bulan kelahiran saya, bulan yang selalu identik dengan istilah “September Hitam”. Istilah ini digunakan karena pada bulan September, khususnya di Indonesia, banyak terjadi pelanggaran HAM. Dimulai dari kisruh dan huru-hara yang terjadi di Tanjung Priok pada tanggal 12 September 1984, di Semanggi pada tanggal 24 September 1999, dan yang baru-baru ini terjadi dan saya alami di Senayan, tepatnya di depan Gedung DPR RI pada tanggal 24 September 2019.  

Tidak hanya aksi yang bersifat massal, pelanggaran HAM terhadap individu juga kerap terjadi, contohnya pembunuhan Munir pada tanggal 7 September 2021. Tapi, dari semua itu terdapat satu kejadian yang paling besar (secara kuantitatif dan dampaknya), yaitu G30S. Sebuah kejadian yang sampai saat ini masih menjadi tunggangan politik yang relevan bagi segelintir orang untuk menggoreng nama komunisme yang dilabeli sebagai kelompok separatis yang kejam dan tidak bertuhan. 

Pada zaman orde baru, propaganda besar-besaran dilakukan dengan membuat sebuah film berjudul “Pengkhianatan G30S/PKI” yang hebatnya doktrinnya  masih bertahan sampai sekarang. Bahkan, saya mendapati bahwa beberapa akun organisasi yang mengatasnamakan kemahasiswaan masih mengunggah foto dengan dalih memperingati kejadian G30S lengkap dengan menambahkan “PKI” di ujungnya. Saya rasa pembaca juga sudah dapat menilai mana yang lebih tepat di sini.

Namun, di sini saya tidak akan membahas berbagai varian tentang kisah G30S karena saya sadar bahwa itu di luar kapabilitas saya. Untuk itu, bahasan mendetail tentang G30S saya serahkan saja kepada teman-teman Departemen Kajian dan Aksi Strategis dan lembaga kemahasiswaan yang masih waras dan melek akan sejarah. Di sini saya lebih akan membahas opini dan cerita saya sebagai salah satu penyintas tidak langsung dari hal-hal yang terjadi setelah G30S.

Cerita ini berasal dari kakek saya yang lalu diceritakan kembali oleh ibu saya kepada saya. Kakek saya sewaktu muda selalu digambarkan sebagai pribadi yang pintar dan berambisi, beliau tinggal di salah satu kota kecil di Jawa Tengah yang (ternyata) memiliki sejarah yang dalam dan kelam tentang G30S dan kejadian-kejadian setelahnya. Kota itu bernama Salatiga.

Dahulu, kakek saya merupakan seorang guru di suatu sekolah dan tergabung dalam Serikat Guru yang memiliki fungsi seperti PGRI kini. Pada saat itu, banyak yang mengatakan bahwa Serikat Guru bergerak dan melandaskan diri pada ideologi komunisme yang dicanangkan oleh PKI.

Kakek saya yang pada saat itu tidak tahu menahu soal G30S dan apa yang terjadi di Jakarta, tiba-tiba dijemput paksa oleh beberapa orang saat ia sedang mengepel lantai rumahnya di hadapan istrinya yang sedang hamil. Nampaknya, pada saat penangkapan itu ada daftar nama yang diedarkan yang berisi tentang orang-orang yang disebut-sebut terafiliasi dengan PKI.

Setelah itu, kakek saya dibawa ke suatu tempat dan dikurung dalam sebuah sel bersama tahanan lain yang bersiap untuk sekadar ditanya-tanyai atau bahkan dieksekusi. Kakek saya tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Mujurnya, ia bertemu saudaranya yang kala itu bertugas sebagai tentara yang bertugas untuk menjaga sel-sel tahanan. Saudara yang saya maksud di sini berasal dari keluarga nenek saya. 

Saat sedang bersiap untuk berpatroli dan membaca daftar nama, ia menemukan nama kakek saya terpampang di daftar itu. Ia langsung menghampiri kakek saya dan berkata “Lho, koe iki sodara ku to?”. Singkat cerita dan entah bagaimana caranya, kakek saya akhirnya dibebaskan dan berhasil lepas dari ancaman kematian yang berujung pada salah satu kasus genosida yang pernah terjadi di Indonesia.  

Selain kakek saya dan gubernur Salatiga yang tiba-tiba menghilang, ayah dari teman orang tua saya juga menjadi korban kekejaman pada saat itu yang mengatasnamakan penumpasan PKI. Pada kala itu beliau berprofesi sebagai dokter dan menjadi salah satu petinggi PKI di Salatiga( saat masa keemasannya bahkan ia sempat berfoto dengan Adam Malik). Pasca G30S ia  diculik dan dibawa ke Gunung Botak, Purwodadi. Ketika sedang dibawa, kakaknya mengikuti sang dokter (adiknya) diam-diam dari rumah dan harus menyaksikan adiknya sendiri ditembak senapan oleh tentara.

Berkat cerita-cerita di atas, saya seolah-olah merasa ada di gerbong yang tepat dengan belajar di program studi Sastra Rusia. Bukan karena mata kuliah yang disuguhkan tentang komunisme, karena justru tidak ada sama sekali. 

Tapi, tidak dapat dipungkiri bahwa saya sebagai mahasiswa Sastra Rusia juga mengulik sendiri tentang komunisme, toh alasan saya masuk Sastra Rusia sendiri salah satunya karena simpati saya terhadap kejadian G30S yang saya dapat dari membaca buku-buku terbitan Tempo mengenai tokoh-tokoh PKI dan kejadian-kejadian setelahnya, termasuk genosida yang merenggut HAM banyak orang, entah itu 200 ribu, 500 ribu, 1 juta, atau bahkan 3 juta. 

Saya rasa saya juga tidak harus menjadi pengikut komunisme atau menjadi PKI untuk peduli soal HAM. 

Editor: Raihan Rizkuloh Gantiar Putra

guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments

Artikel Lainnya