BIJAK MENGELOLA API CINTA

Ilustrasi: Team Krisis

“Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakannya dengan sia-sia.” Rectoverso—Dee Lestari (2008)

Bagaimana rasanya jatuh cinta? Hal ini telah sepanjang zaman menjadi bahan inspirasi para pujangga untuk menulis tentang sang pujaan hati. Rasanya makan tidak enak, tidak terasa kita senyam-senyum sendiri, tidur gelisah, segala macam hal mengingatkan tentang si dia, ingin memberikan hadiah ini-itu padanya, pokoknya, duh!

Ketika perasaan kita yang melambung tinggi dan membuat hati kita membuncah itu berada pada titik puncaknya, rasanya ingin kita habiskan waktu kita bersama dengan si dia, berencana untuk melibatkan keluarga, negara, dan agama untuk mengikatnya, selamanya. Selamanya…

Namun, mengapa begitu banyak kisah perpisahan sepasang kekasih terjadi? Hal ini kurang lebih banyak terjadi karena kejenuhan yang berawal dari konflik demi konflik yang tidak diselesaikan. Dan lebih dari itu, hilangnya rasa cinta dapat juga dikarenakan kebalnya tubuh kita terhadap hormon-hormon cinta yang dulunya pernah membuat kita kasmaran.

Dikutip dari detik.com, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).

Kemudian setelah empat tahun hubungan berlangsung, yang tersisa hanyalah dorongan seks. Hal ini diungkapkan oleh peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico. Menurut peneliti di sana, “Tidak ada cinta yang benar-benar murni setelah 4 tahun,” ujar seorang peneliti seperti dikutip dari Geniusbeauty, Rabu (9/12/2009).

Ketika kita masih remaja, banyak dari kita yang memilih pasangan berdasarkan fisik semata. Entah itu cantik, ganteng, putih, tinggi, seksi, berotot, dan lain-lain. Fisik yang menarik tanpa dibarengi dengan kualitas diri yang baik tentu membosankan. Pada akhirnya, ketika kita berumah tangga, kita tidak akan hidup dengan hanya sekadar wajah atau tubuh yang menarik.

Untuk memahami lebih baik tentang cinta hanya sekadar fisik, mari kita simak sekilas cerita berikut:

Para ulama sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abu Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila Binti Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abu Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabuk kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila Binti Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:

 

Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah

Duhai, apa urusan Laila Binti Al Judi dengan diriku?

Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita

Paras wajahnya selalu membayangi mataku dan menghuni batinku.

Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,

Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.

 

Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila Binti Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, takdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.

Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.

Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?” Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya memble (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang ia pun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:

“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)

Betapa sembrononya cinta yang tidak dibarengi dengan logika. Lantas bagaimana seharusnya kita menyikapi ketika getar-getar cinta itu hadir di hati kita? Ketika kita melihat seseorang yang menarik hati kita, jangan lantas membabi buta untuk langsung mendekatinya dan menyatakan betapa tergila-gilanya kita padanya. Amati dulu. Amatilah orang yang menarik hati kita ini dengan pengamatan yang tenang, objektif, dan penuh pertimbangan. Tanyalah orang-orang terdekatnya tentang bagaimana ia bersikap terhadap sesama, tanya bagaimana ia memperlakukan orangtua, tetangga, saudara, dan orang-orang miskin. Amati pula bagaimana cara si dia merespon masalah, tekanan, emosi, dan hal-hal tak terduga seperti ketika ia mendapat rezeki yang menyenangankan, apakah sifatnya berubah menjadi sombong dan lupa diri, atau ia malah bertambah rasa syukurnya dan membagi-bagi rezeki itu ke orang-orang sekitarnya.

Dan tak lupa, di samping berusaha menilai si dia, koreksilah diri kita terlebih dahulu sebagai orang yang kelak akan menjadi pendamping seseorang. Apakah diri kita sendiri sudah memiliki kualitas yang mumpuni untuk serius berkomitmen. Setiap diri manusia memiliki kemampuan mencintai yang amat besar. Namun, cinta saja tidak cukup dan jangan jadikan rasa cinta kita membutakan nalar dan tanggung jawab kita pada sekitar. Jika kita masih seorang berstatus pelajar dan belum siap berkomitmen, alangkah baiknya kita menjaga kehormatan diri dan keluarga dengan hanya memendam terlebih dahulu perasaan itu sampai kita merasa siap dan segalanya sudah tepat.

Ada perbedaan yang cukup jelas antara pasrah menanti takdir dan menahan diri dalam usaha. Menahan diri dalam usaha yang dimaksud adalah kita menahan diri untuk tidak memacari atau apapun itu namanya. Sebab, seringkali pacaran hanya pelampiasan ego karena tidak mau si dia diambil orang lain dan kita menciptakan “topeng”, menyembunyikan sedikit banyak identitas asli kita agar si dia tetap bersama kita. Dan lebih dari itu, menahan diri untuk tidak merusak kehormatan si dia maupun diri kita, dan berusaha untuk memperbaiki kualitas diri, dan segalanya yang perlu dipersiapkan dalam kehidupan berumah tangga kelak.

Hal ini, di samping dapat membantu kita mendapatkan pasangan hidup yang terbaik, juga dapat meminimalkan drama yang tak perlu. Pasti banyak dari kita yang pernah mengalami kekecewaan mendalam karena kegagalan kita dalam cinta, kan? Cinta tidak seharusnya menyakitkan, cinta seharusnya menjadi rumah yang nyaman, tempat kita pulang untuk mencari kasih sayang, untuk kembali membenahi diri. Cinta adalah sekolah kehidupan yang seharusnya menjadikan diri kita pribadi yang lebih baik.

Cinta adalah api yang dapat membuat tubuh kita hangat, tapi juga dapat membuat kita terbakar dalam nestapa. Cinta adalah panas yang kalornya dapat menjadi semangat hidup kita, tetapi juga dapat membuat kita kegerahan dalam derita. Cinta adalah energi. Daya mahadahsyat yang tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat berubah wujudnya menjadi keindahan atau kesengsaraan: tergantung bagaimana kita mengelolanya.

Maka, marilah kita bijak dalam mengelola api cinta. Selamat mencinta!

 

Referensi:

 

Baderi, Muhammad Arifin. 2010. “Cinta Sejati dalam Islam” dalam https://muslimah.or.id/553-cinta-sejati-dalam-islam.html. Diakses pada 6 Januari 2017.

Geniusbeauty. 2009. “Love Lasts Only Four Years” dalam http://geniusbeauty.com/news/passionate-love-lasts-only-4-years/. Diakses pada 6 Januari 2017.

 

 

0

Komentar