Ancaman Gelombang Kedua Covid-19

Sumber foto: https://images.app.goo.gl/hcHDoBVeEZaQwHGk6

Jalanan mulai ramai. Sudah banyak orang yang berlalu lalang dengan menggunakan masker maupun tidak. Saat ini, Jakarta sudah melonggarkan PSBB-nya. Mal, tempat makan, tempat wisata, dan tempat hiburan lainnya sudah mulai dibuka dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Bahkan, di Kepulauan Seribu, sekolah sudah diperbolehkan buka karena termasuk zona hijau. Mungkin tak lama lagi Jakarta akan mulai menerapkan new normal.

            Pertanyaannya, apakah hal ini ideal untuk dilakukan? Padahal, angka kasus positif masih terus bertambah. Pada 28 Juni 2020, misalnya, kasus positif Covid-19 di Jakarta masih bertambah 132 kasus yang berarti jumlah kasus positif Covid-19 di Jakarta menjadi 10.985 (hingga kini masih meningkat).

Hal ini membuktikan bahwa Jakarta masih belum bisa dikatakan aman dan terkendali. Dengan ramainya jalanan dan orang-orang yang sudah tidak takut untuk keluar rumah, ancaman gelombang kedua bisa saja terjadi.

            Seperti yang kita tahu, penyebaran virus Covid-19 ini sangatlah cepat. Ia menyebar lewat droplet orang yang terinfeksi, yaitu ketika bersin, batuk, maupun berbicara. Orang-orang yang sudah mulai berani keluar rumah tentu saja bisa mendatangkan kerumunan dan klaster baru penyebaran.

Terlebih ada orang-orang yang masih belum mau menuruti pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan. Sering kali ketika pergi keluar rumah, ada beberapa orang yang tidak menggunakan masker. Budaya mencuci tangan juga masih belum efektif dilakukan.

            Di Korea Selatan—negara yang berhasil mengendalikan virus ini dan pernah mencatat nol kasus positif—pada 22 Juni 2020 justru mengonfirmasi gelombang kedua Covid-19 yang terjadi lebih awal dari perkiraan. Dikutip dari bbc.com (15/05), pada 15 Mei 2020, Korea Selatan mencatat 142 kasus baru yang terjadi di Itaewon. Hal ini terjadi karena satu orang yang positif datang ke lima klub dan bar yang ada di kota tersebut.

Jumlah pengunjung yang datang ke Itaewon ada 5.517 orang, sedangkan yang dilacak baru ada 2.405 orang. Lalu, pada 27 Mei 2020 ratusan sekolah mulai dibuka, tetapi sehari setelahnya ditutup kembali karena terdapat 79 kasus positif baru. Kasus paling banyak tercatat di Bucheon yang berada di barat Kota Seoul.

            Bercermin dari kasus positif yang ada di Korea Selatan, Covid-19 ini masih terus ada dan menjadi ancaman bagi manusia selama belum ditemukan vaksin atau obatnya.

Indonesia harus bersiap dengan kemungkin besar datangnya gelombang kedua Covid-19. Seperti Flu Spanyol yang terjadi pada tahun 1918, gelombang kedua virus mematikan itu merenggut lebih banyak nyawa manusia.

Indonesia memang seharusnya tidak terburu-buru menerapkan new normal. Namun, mau tidak mau kegiatan ekonomi harus tetap berjalan kalau tidak ingin ekonomi negara lumpuh.

Maka dari itu, kita diwajibkan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan. Memakai masker ketika keluar rumah, mencuci tangan sehabis bepergian, menjaga jarak dengan orang sekitar, dan menjaga imunitas diri.

Percayalah bahwa pandemi ini akan berakhir. Dengan itu, kita tetap bisa menjalankan aktivitas walaupun harus beradaptasi dengan keadaan dunia yang tidak lagi baik-baik saja. (Zar/Zai)

Komentar