Adaptasi Kebiasaan Baru

Sekarang apa saja bisa dilakukan dengan menatap layar dan menekan tombol virtual atau mengetuk huruf dan bilangan.

perkenalan. pertemuan. pemberitaan. pembiasaan. pembelajaran. undangan. perpisahan.

aku menatap layar dan mengenalmu, lalu terbiasa. kau menatap layar dan bisa atau mampu mengomentariku padahal kau tidak pernah mengetahuiku.

Sebenarnya banyak yang perlu kita biasakan.

Tidak hanya menggunakan masker dan pelindung wajah yang terbuat dari plastik itu. tidak hanya soal memakai hand sanitizer sebelum masuk toko atau masuk apa saja, mungkin saja termasuk ke dalam pikiranmu juga yang bisa jadi harus dibersihkan.

Orang-orang dalam dunia virtual menyebutnya dengan kata normalisasi.

Misalnya membalas pesan dengan cukup lama perlu dinormalisasi.

Laki-laki menangis perlu dinormalisasi. anak-anak ingin memberi saran untuk orang tuanya perlu dinormalisasi. bahkan berkomentar dengan cara apa saja perlu dinormalisasi.

Tapi, tidak semua hal bisa dinormalisasi.

Katanya menghakimi tidak bisa dinormalisasi.

Berpikiran terbuka tetapi masih ngotot atas pendapat orang lain yang berseberangan tidak bisa dinormalisasi.

Intoleransi apalagi.

Ketidakwarasan yang berdampak pada kesemena-menaan tidak bisa dinormalisasi,

Akhirnya atas pembiasaan beberapa hal di samping hal-hal yang masih tidak dibiasakan.

Aku tak ingin membiasakan apapun kecuali menyadari dan menjadi normal atas diriku sendiri.

(Aul/Alf)

0

Komentar