Porseni 2020: Kukuh Berkreasi walau Pandemi

Ilustrasi oleh: Azkndyn

Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Fakultas Ilmu Budaya kembali digelar sejak April lalu. Event tahunan Gama FIB Unpad kali ini lebih dulu menghadirkan cabang lomba kesenian bertajuk “Kompetisi Kesenian Daring Porseni 2020” dengan tiga macam lomba, yakni Nyalon (Nyanyi Liwat Online), Lakon (Lukis Asyik Online), dan Cek-in (Cekrek Online). Ketiganya dilaksanakan serentak sejak 17 April hingga pengumumannya, 30 Mei silam.

Porseni tahun ini mengusung tema “Ekspresi dalam Harmoni”. Menurut Aditya Suryadarma, ketua pelaksana Porseni 2020, tema itu diambil agar Gama FIB bisa saling berbaur dan berharmoni sehingga menghasilkan ekspresi yang indah melalui event ini. Meskipun terpaksa mengubah pelaksanaannya menjadi via daring, Aditya merasa panitia dan mahasiswa FIB tetap antusias dalam mengikuti perlombaan ini.

“Karena menjadi hal yang baru, antusias teman-teman panitia meningkat dan jadi semangat. Soalnya, ini bisa jadi solusi yang bagus untuk mencari peserta berbakat sebagai delegasi Big Force 2020 nanti. Gama FIB pun juga terlihat antusias, karena setiap Hima berhasil mengirimkan utusan untuk ikut berpartisipasi di setiap lomba dengan hasil karya mereka yang ciamik,” ujar Aditya.

Seperti sewajarnya sebuah program kerja, Aditya juga menemukan berbagai tantangan dalam melaksanakan Porseni 2020 daring ini. Misalnya saja, ia mengaku sulit dalam melakukan perencanaan karena harus menyesuaikan dengan kondisi terkini, pihak Unpad, dan program kerja lain yang bukan hanya dari FIB. Terlebih, lanjutnya, dalam merencanakan cabang lomba olahraga yang memerlukan fasilitas dari kampus dan waktu yang tidak sebentar.

Wibowo Haryanto, salah seorang juri lomba Cek-In, memuji pihak-pihak yang sudah berhasil menyelenggarakan kegiatan positif dalam keadaan seperti ini. Meskipun, menurutnya, pasti ada hal-hal yang menghambat seperti sulitnya koordinasi sesama panitia atau atmosfer kompetisi yang kurang terasa dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Juri fotografi ini menilai bahwa tahun ini karya-karya yang dikirimkan lebih variatif. “Dalam bidang fotografi sendiri, selisih nilai kejurian tiap-tiap peserta juga enggak beda jauh. Sayangnya, masih banyak peserta yang miskonsepsi sama tema yang disusun pantia,” ungkapnya.

Melihat dari beberapa poin penjurian yang diberikan oleh panitia, lanjut Wibowo, ia merasa bahwa setiap peserta memiliki penguasaan di bagiannya masing-masing, ada karya yang maknanya kuat, tapi skill-nya dapat dikatakan kurang, begitu juga sebaliknya. Namun, kembali lagi, penilaian fotografi yang subjektif ini bermuara pada selera juri.

Salah satu karya peserta yang berhasil menyabet juara satu lomba Cek-In, memiliki tajuk “Dilema”. Ilyansyah Nashrul, pemilik foto tersebut, mengaku tengah memberi gambaran atas kondisi saat ini, yakni dilema yang menghantui seseorang saat ingin keluar rumah tetapi tidak bisa karena terhalang keadaan.

“Dengan tema ‘self quarantine’, aku emang awalnya bingung mau ambil foto apa, tapi setelah ulik lagi dengan cari-cari referensi foto dari Youtube dan Instagram, akhirnya bisa dapet satu momen yang pas. Sesuai sama tema, keadaan kita sekarang ‘kan juga lagi karantina mandiri, aku jadi bisa berlatih untuk meng-eksplore lebih dalam tentang objek-objek di sekitar kita,” papar Nashrul.

Penyelenggaraan kompetisi daring ini ternyata tak lepas dari sebuah kontroversi. Dua orang peserta dari Gelanggang (Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia) terpaksa harus didiskualifikasi karena terindikasi melakukan kecurangan. Ialah Galih Prastomo Adjie dari lomba Nyalon dan Ilyansyah Nashrul dari Juara Favorit lomba Cek-In.

Berdasarkan press release yang disusun panitia, Galih ditengarai melanggar peraturan dengan menambahkan backing vocal dan reverb pada olahan video dan suaranya. Panitia mengaku turut lalai dengan tidak mengunggah poin spesifikasi lomba Nyalon dengan lengkap, meskipun telah membagikan peraturan utuhnya pada grup MIBA FIB.

Masih berdasarkan dokumen press release, Ilyansyah Nashrul yang sebelumnya mendapat Juara Favorit dari lomba Cek-In, terpaksa harus dicabut karena terindikasi menggunakan autolikes. Pendiskualifikasian kedua peserta ini dilakukan setelah diadakannya konferensi video antara panitia Porseni dan perwakilan Gelanggang.

Kompetisi Kesenian Daring Porseni 2020 sudah menemui puncaknya pada 30 Mei silam. Dengan ini, seluruh lomba cabang kesenian yang dilaksanakan online sudah dinyatakan selesai. Meskipun belum tersiar akan ada apa di Porseni 2020 ke depannya, Gama FIB dimohon tetap menunggu dengan antusias, ya! (Rai/Saf/Zai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *