Manusia Tahu

Ananda Bintang , Sastra Indonesia/ 180110190053

Kenang-kenanglah aku. Kita terlalu lemah, terlalu pasrah. Nasib harus dilawan, bukan jadi turun temurun.

Jatinangor, 2005

Matari siang, menyorot menusuk kulit. Begitu tajam, memanggang aku yang sedang terduduk di depan teras rumah. Rasa-rasanya saat aku masih kecil, rumahku ini tidaklah sepanas sekarang, rimbun pohon masih bisa menghalangi terik matari siang itu. Dengan polosnya juga, aku sering sekali bermain pasir di halaman rumah – Sekedar turun dari atas pasir itu, untuk merasakan sensasi tanah longsor atau sekedar iseng, mencari kebahagian yang sederhana dan murah – Pasir itu tepat di depan halaman rumahku, kelak pasir yang dulu membuat bahagia, kini menjadi salah satu bahan yang membuat rumahku gersang tiada tara.

Jalan tanah yang dulu digunakan untuk bermain kelereng atau bermain bola, kini sudah menjadi jalan aspal yang dilewati truk-truk muatan entah darimana, kemana, untuk siapa dan apa. Yang jelas, kesibukan truk itu, kini menjadi penghambatku dalam bernafas, bahkan di teras rumahku sendiri. Rumah temanku yang biasanya bisa aku lewati tanpa melihat kiri kanan, kini aku harus hati-hati, bahkan sudah ada yang menjadi korban atas keganasan truk-truk peradaban yang melewat tanpa henti, tanpa kita ketahui. Bayangkan, hanya menyebrang! Sial!

Permenungan akan nostalgia yang tak kunjung henti itu dibuyarkan oleh klakson truk bebal yang mendebarkan hatiku. Selepas terkaget, aku gusar tapi tak tahu ingin mencurahkan ke mana. Sedang mungkin sang supir truk sengaja, melihatku sedang melamuni keadaan, lalu sekencang-kencangnya menekan klakson sialan itu. Ia mungkin kini sedang berkelakar dengan teman sebelahnya di truk, tentang betapa kagetnya diriku, sama seperti kelakar gambar-gambar di belakang truk; “Pulang pergi kerja demi Istri” atau “Lama ga gitu, pas gitu ga lama.” Entahlah, humor supir truk terkadang menggambarkan kondisi sosial yang sedang diterpanya. Miris memang, tapi mereka membagi kemalangan itu dengan kata-kata atau gambar yang bisa membuat kemacetan tak jadi umpatan. Sedang aku di sini, masih mengumpat tentang keadaan hidup; Bapakku. Seorang tukang dagang tahu yang selalu saja berjualan, meski ia tahu tak pernah laku.

“Hei! Nak, belikan bapak kedelai lagi!” serunya parau berteriak dari dalam dapur.

“Yah, kan kedelai kemaren saja belum habis. Masih banyak tersisa untuk membuat tahu, daripada membeli kedelai lagi” aku beranjak dari depan ke dalam dapur sambil memelankan suaraku melas agar bapak mengerti

“Kamu! Melawan ya! Cepat belikan! Ini Uangnya!” gertaknya keras dari dapur sedang memotong-motong tahu yang sedang hangat-hangatnya.

Aku tahu, itu uang pinjamannya. Ia seperti tak kapok dikejar rentenir. Aku hanya bisa mengiyakan, dan mencoba memaklumi keadaannya. Aku bergegas pergi ke pasar. Dari rumah ke pasar, aku harus melewati jembatan cincin yang bersejarah terlebih dahulu, konon katanya di sana banyak yang bunuh diri, dan cerita mistis pun berkembang di sana. Tapi aku sendiri, tidak tahu, karena selama ini belum merasakan. Tapi terkadang aku selalu ingin mencoba, bagaimana rasanya terbang dari ketinggian itu? Terhempas, seperti melayang, tak ada beban lagi, tak ada bapak lagi, tak ada sedu sedan lagi. Hanyalah hampa, angin, dan udara menyeruak. Lalu, bukankah jembatan terkadang dibuat untuk menjadi penghubung antara kematian dan hidup?

Mendekat pasar, aku terbayang kembali kondisi bapak. Kegilaannya dengan tahu dimulai ketika ada tukang tahu komersial –yang lebih besar, bertembok, dan berspanduk— di depan rumahku. Bapakku, adalah pedagang tahu kecil yang cukup laris di daerahku. Namun, kian sepi ketika tahu komersial itu datang menghalangi rumah mungil sang Bapak. Pasir yang dulu sempat jadi sepercah kebahagiaan sederhanaku, kini menjadi malapetaka bagi keluargaku; terutama bapakku.

Berbagai cara sudah dilakukan bapakku. Dari mulai, memasang penglaris dari dukun, memasang spanduk yang harganya lebih mahal dari satu kilogram kedelai, atau hal-hal gila yang pernah bapakku lakukan; seperti mencoba memberi racun pada tahu di toko sebelah. Tapi untungnya hal gila itu tak pernah dilakukan bapak. Ia hanya bersumpah serapah;

“Sial! Akan kuberi racun! Tahu Mang Dadeng itu! Dia cuman menang nama doang! Padahal enakan tahu bapak! Kehed!” umpatnya keras-keras

“Tenang pak, istigfar. Udah jualan yang lain aja.” kata seorang perempuan anggun yang begitu aku rindukan

“Bapak masih mau jualan tahu! Ini adalah warisan turun temurun, tak bisa ditinggalkan. Nanti bapak dilaknat!”

“Bapak bakal lebih dilaknat kalau menaruh racun. Baiklah kalau bapak masih ingin berjualan tahu. Aku lelah Pak.”

Bapakku memang dikalahkan oleh kecantikan ibuku. Namun, mukanya nampak kusut setelah ia mendengar keluhan ibu atas perjuangannya dengan usaha tahu. Ia seperti menerima tanda-tanda, bahwa ibuku ingin pisah, ibuku tak lagi cinta dengannya.

Dengan hati yang kalap, tangan lelaki itu terhempas di pipi seorang perempuan yang halus, putih seketika jadi memar merah. Lebih-lebihnya lagi, aku melihat kejadian itu di depan mata, tepatnya di dapur. Minyak penggoreng tahu, meledak! Piring terpecah belah, ibuku tak kuasa. Menangis sejadi-jadinya. Lalu pergi, tanpa melihatku apalagi melihat bapakku. Kejadian itu adalah hal yang terakhir kuingat dari ibu. Yang entah kemana. Aku jadi menduga-duga, ia kembali, kembali melalui jembatan cincin yang baru kulewati tadi.

Lamunan gilaku dibangunkan oleh penjual kedelai di pasar itu.

“Kang, kenapa atuh bengong aja?” sahutnya bingung

“Engga, engga, beli kedelai lagi kang”

Transaksi itu terjadi secara cepat, sekelabat saja, entah kenapa ada sesuatu yang membisikkan telingaku, untuk mengingat peristiwa ibu pergi dari rumah, dan jembatan itu. Entah, jembatan, selalu saja terbayang olehku.

Ibu. Kemanakah kau sekarang, ayah sudah tambah gila. Mungkin selama ini istrinya hanyalah tahu. Yang ia tau hanyalah tahu, layaknya Tuhan baginya. Selalu saja yang dibicarakan itu, tahu. Aku rindu pelukmu bu. Dongeng-dongeng tentang kejayaan Sunda Padjajaran, tentang penaklukan, tentang Dyah Pitaloka yang berani bunuh diri daripada menyerahkan tanah Sunda. Aku rindu bu.

Di setiap kerlip malam Jatinangor, kau selalu menyelimutiku dengan nada-nada dongeng yang begitu merdu meredupkan mataku. Aku rindu, ibu. Bisakah kau hadir saja ke mimpiku malam ini? Mengobati perasaan terhadap suamimu itu.

Bu, kemarin hampir saja ada seorang lintah darat yang mencoba menghisap perut ayah dan aku. Aku dan ayah terpaksa kabur, bersembunyi di gorong-gorong. Atau menumpang sebentar di perpustakaan kampus di daerah sana. Aku selalu senang jika melihat buku-buku yang terpajang, rasa-rasanya ingin membaca satu-satu dengan nikmat. Tapi apalah daya, yang aku tau, di hidupku setelah ibu pergi, hanyalah tahu dan tahu. Lama-lama aku pun gila jadinya.

Bolehkah aku bertemu denganmu ibu? Di jembatan itu? Di jurang itu. Aku yang akan kembali ke pasar, melewati jembatan yang selalu terbayang sedari tadi dari rumah. Aku melirik kiri kanan, nampak sepi. Tak ada seorang pun melihatku. Aku tertatih, membawa kedelai, dan buku catatan yang selalu aku bawa dan tulis. Perlahan kakiku naik ke ujung jembatan itu. Wah! Aku melihatmu bu. Semua jadi redup, jadi indah, bertemu, aku tak mau jadi tahu!

***

Jatinangor, 2019.

Setelah kematian anaknya, tahu Pak Daeng jadi populer. Tahu yang terkenal di Jatinangor itu jadi santapan wajib para mahasiswa sekitar kampus situ. Tapi konon, jasad anaknya tak pernah ditemukan, bahkan makamnya pun tidak pernah ada yang tahu, tidak ada pemakaman, hanya berita, bahwa ada seorang anak yang jatuh, berteriak, namun beberapa jam kemudian jasadnya hilang entah kemana.

Ada yang mengira, bahwa anaknya jadi adonan tahu Pak Daeng. Namun, tahu Pak Daeng selalu laku habis tiap tahun, dan bahkan bisa menggusur toko tahu yang dulu sempat menutupi warung kecilnya. Entahlah, kisah ini menjadi begitu populer di kawasan Jatinangor sekitarnya, dan seringkali menjadi perbincangan para mahasiswa baru yang heran dengan kelembutan tahu Pak Daeng.

Kini, Pak Daeng tinggal renta. Matanya sudah rapuh, kulitnya melepuh, namun tahu yang ia buat tetap hangat di lidah penggemarnya. Hingga suatu ketika, kejadian mengerikan datang; Pak Daeng, mati.

Ia menjerumuskan kepalanya pada adonan tahu, sembari menulis surat pada karyawannya; “Jadikan tubuhku untuk resep tahu terakhir. Tubuh istri dan anakku telah jadi tahu.”

Kaget ya? Terkadang kemanusiaan tak lebih lembut dari sekedar tahu yang kita buat. Kemanusiaan diciptakan hanya untuk mati, dan mati. Tak ada kemanusiaan, yang ada hanya keinginan untuk mendulang nama, menghasilkan uang, dan bertahan hidup. Kini, kemanusiaan serendah tahu yang kita buat. Lalu, untuk apa hidup? Sirna, dan sirna.

penabudaya

Related Posts

Adaptasi Kebiasaan Baru

Adaptasi Kebiasaan Baru

Keputusan

Keputusan

Untuk Tuhan yang Menemui Seseorang Hari Ini

Untuk Tuhan yang Menemui Seseorang Hari Ini

Senayan, September, dan Sekilas Tentangmu

Senayan, September, dan Sekilas Tentangmu

No Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *