PLUTO

Pluto – Sang Kekasih Gelap

Sudah 13 tahun status sebagai “Planet” yang dibuat oleh penduduk Bumi menghilang dari gelar ku. Uhm.. Sejujurnya aku masih kesal dengan IAU (Persatuan Astronomi Internasional) yang memanfaatkan Sidang Majelis Umum untuk menentukan pengertian baku planet, diantaranya adalah;  mengorbit matahari, memiliki massa sehingga memiliki gaya gravitasi sendiri, dan yang terakhir tidak meotong orbit lain. Sialnya, aku memotong orbit Neptunus. Itu membuat mereka menurunkan derajat ku dengan menyebutnya “Planet Kerdil”.

Rajungan! Saus Tartar! Mayonaise! Seblak! Nasi Gila! Demi semua yang belum pernah aku coba, aku benci mereka. Sangat.  Ini tidak adil! Pada siapa aku bisa menyuarakan aspirasi?  Apakah diantara pasangan calon presiden di Indonesia ada yang sudi membela ku?

Hmm… Tapi biarlah, aku harus ikhlas.  Lagipula aku pernah mendengar kabar komet, bahwa penduduk Bumi tidak semuanya menerima kalau aku diceraikan dari keanggotaan, dan diantara mereka ada yang masih mendesak agar aku mendapat status sebagai “Planet.” lagi.  Uh, aku merasa seperti kekasih gelap, tidak dianggap namun masih ingin dipertahankan.

PLUTO – Single Ngenes

Hai! Aku Pluto, begitu panggilan penduduk Bumi. Ya, itu lebih baik dibandingkan ketika tahun 1930 saat Clyde Tombaugh pertama kali menemukan ku, aku masih disebut Planet X. Sampai akhirnya ketika sebuah sayembara dilakukan untuk menentukan nama ku, lantas aku resmi bernama Pluto– nama yang diberikan oleh seorang gadis 11 tahun dari Oxford– Venetia Burney.

Oh iya, hari ini aku sangat senang karena pada akhirnya aku akan menemukan titik terdekat ku dengan mama– Matahari. Aku tidak akan pernah melupakan momen berharga ini, aku rindu hangatnya cahaya mama saat aku berada didekatnya. Aku adalah anak mama yang paling kerdil, jauh, dan dingin. Suhu permukaan ku mencapai 375 derajat Farenheit, jangan kan kalian, Dilan pun tidak akan kuat untuk menetap didalamnya. Aku bahkan harus menunggu selama 248 tahun Bumi untuk mencapai satu putaran penuh terhadap mama. Dan itu membuat aku juga tidak yakin bahwa mama masih mengingat ku.

Aku terkadang iri dengan saudara ku, seperti Mars dengan wajah meronanya, Jupiter dengan tubuh bongsornya, Saturnus dengan cincin indahnya, dan apalagi dengan Bumi yang memiliki kehidupan didalamnya. Semua saudara ku sepertinya memiliki kelebihan, kecuali aku. Tidak ada yang bisa dibanggakan oleh ku. Sudah seperti itu, aku selama ini hanya berteman dengan Charon, Erin, dan debu-debu kosmik lainnya. Dan hiburan bagi ku adalah mengganggu Neptunus sepanjang masa dengan memotong orbitnya. Sepertinya aku layak mendapat julukan Single Ngenes.

PLUTO – Kebaikan Semesta

“Ada apa, Plu?” tanya Charon kepada ku, aku menoleh singkat ke arahnya. “Aku hanya ingin berdamai dengan diri sendiri, maksud ku.. Lihat disekitar kita, aku hanya gumpalan debu yang tidak berguna!” aku melihat dari kejauhan Bumi yang sedang tertawa bersama Bulan, entah mereka sedang menertawakan apa. Aku juga tidak begitu peduli, tapi jika mereka menertawakan nasib ku, aku tidak akan segan untuk melempari mereka dengan komet, bahkan aku akan mengirim mereka ke Lubang Hitam!

“Jangan rendah diri seperti itu, Plu. Kau pikir menjadi Bumi menyenangkan? Berada dalam kehangatan mama, memiliki paras rupawan, dan ideal untuk menjadi tempat tinggal bagi makhluk hidup? Sungguh?” Charon mengikuti arah pandang ku pada planet biru itu. “Eh..?” tanya ku heran, apa wajah ku menunjukkan bahwa aku sedang iri terhadap Bumi? “Lihat, kita pernah berada dititik yang lumayan dekat, aku lupa persisnya kapan, tapi kau lihat kan dahulu sekali dia sangat cantik, sekarang?”

Aku mengamati dengan detail, “Warna biru itu sekarang tampak kelabu, oh, beberapa titik hijau itu sekarang menjadi kecoklatan..” aku melirik Charon, memastikan bahwa apa yang aku ucapkan disetujui olehnya. “Iya, tentu kau benar. Banyak perubahan yang terjadi kepadanya. Dia tampak lebih malang. Dahulu aku memang ingin menjadi dirinya, tapi sekarang aku harus berpikir ratusan juta tahun cahaya.” celoteh Charon, aku mengangguk menyetujui. “Siapa yang membuat dia tampak kumuh begitu, ya?” (Evi Herawati)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *