sumber : alinea.id

Bumbu dan bahan masakan. Segera setelah saya keluar teater, dua hal yang lumrah hadir di dapur itu muncul di pikiran saya. Analogi Bono saat menjelaskan filosofi hidup lewat makanan sama persis dengan filosofi saya untuk film Edwin satu ini. Ya, lewat tulisan ini saya bukan membahas kuliner, melainkan film (yang di dalamnya menghidangkan kekayaan kuliner) terbaru dari Edwin; Aruna dan Lidahnya.

 

Bicara soal filosofi, ketika mencicip hidangan di meja makan bersama sahabatnya, Bono mengatakan, “Hidup itu kayak makanan. Dalam satu piring ini, nih, lo bisa ngerasain yang pahit sepahit-pahitnya, atau yang seasin-asinnya, kalau lo makanannya sendiri-sendiri.” Begitu juga dengan film ini. Aruna dan Lidahnya bisa saja menjadi terlalu komikal lewat Aruna dalam menyikapi romansanya dengan Farish, atau terlalu gelap lewat konspirasi institusinya. Tapi dengan takaran yang pas, bahkan rempah berbau sangit bisa membuat masakan jadi lebih istimewa, begitu pun dengan sinema.

 

Ada beberapa aspek penting yang menurut saya berperan sebagai bumbu yang membuat Aruna dan Lidahnya berkesan istimewa, pemain adalah salah satunya. Aruna, Nad, dan Bono yang dimainkan tiga aktor papan atas Indonesia adalah tipikal sahabat yang biasa kita temui dan alami. Perbincangan cair tentang segala sesuatu mulai ranah privasi sampai topik berat mereka libas layaknya di kehidupan nyata. Dialog-dialog teatrikal, percakapan kaku, dan semua yang berhubugan dengan aksen yang-terdengar-seperti-membaca-teks-skenario benar-benar punah tergantikan perbincangan khas yang hangat, sentosa, dekat, dan kasar (dalam konteks kasih sayang).

 

Topik-topik sensitif seperti perselingkungan dan seksualitas perempuan mampu dikemas dan diperbincangkan dengan santai sehingga kita, audiens, bisa wawas tanpa was-was, risih dan tidak nyaman. Sebaliknya, kita dibuat menghilangakan pretensi untuk menghakimi. Obrolan Aruna dan Nad di hotel adalah contohnya, di waktu yang sama mereka mampu membahas masalah perempuan dan menciptakan intimasi pemakluman untuk audiens.

 

Bicara soal penampilan pemain, penampilan Dian Sastrowardoyo buat saya pribadi selalu menyita atensi dengan siapapun ia beradu akting. Ajaibnya, di sini atensi saya justru terbagi rata kepada empat pemeran utama. Permainan peran mereka terlalu disayangkan untuk tidak dipukul rata sekalipun Aruna adalah tokoh vokalnya. Tetapi apalah arti Aruna tanpa kehadiran sahabat-sahabatnya? Seperti Sabda Bono di atas: bahan murni hanya akan memunculkan satu rasa di lidah. Ibaratnya Aruna akan menjadi garam yang mengasinkan sup tanpa kehadiran gula, rempah-rempah, dan mungkin micin. Jadi, ya, pemain adalah bahan rahasia pertama film ini.

 

Bahan kedua yang membuat Aruna dan Lidahnya istimewa adalah skenario. Cerita, dialog, logika penuturan, dan konsep yang tertuang di dalam skenario saya rasa perlu diacungi jempol. Dalam kesederhanaan, karya Edwin satu ini sanggup menjual kekuatan cerita. Tidak ambisius dan menahan diri untuk tidak melodrama membuatnya berkesan bertanggung jawab. Maksudnya, ia tidak lena pada potensi konsep yang bisa dikembangkan lebih jauh agar film menjadi lebih menor, apalagi segmentasi pemainnya kisaran awal kepala tiga. Alhasil, sebuah sajian organik yang dewasa.

 

Sama seperti Posesif yang rilis 2017 lalu, Aruna dan Lidahnya merupakan hal baru bagi Edwin. Bukan hanya karena ini memasukkan kuliner sebagai temanya, tetapi juga karena ini adalah tema yang terlampau ngepop bahkan jika dibandingkan dengan Posesif yang notabene film remaja, genrenya pun lebih ringan dibanding film sebelum-sebelumnya yaitu komedi romantis.

 

Titien Wattimena saya yakin tahu persis kiat-kiat menulis dan atau mengadaptasi buku ke dalam skenario dengan karakteristik di atas atau tipikal cerita film komersial lainnya, dan memang benar demikian ketika saya menonton Aruna dan Lidahnya. Akan tetapi ada beberapa hal dalam film ini yang menjadi identitas Edwin sebagai seorang sutradara yang berangkat dari film festival: metafora-metafora yang perlu disuratkan. Contohnya, absurditas mimpi Aruna dan tokoh kakek tua yang hadir di dua tempat dalam waktu yang sama. Bumbu lain lagi baru saja ditambahkan ke dalam film ini, bukan?

 

Selanjutnya adalah visualisasi yang stunning. Kalau film diibaratkan hidangan, visualisasi sama saja dengan plating makanan; berfungsi untuk mempercantik dan menggugah selera penikmatnya. Untuk film ini, dua-duanya diaplikasikan secara harfiah. Hidangan seperti lorjuk, rujak soto, choi pan, dan berbagai hidangan lainnya benar-benar dipresentasikan layaknya acara masak. Dengan teknik close shoot makanan yang memenuhi layar perak, dijamin audiens akan lebih produktif mengeluarkan ludah di lidah. Siksa dunia menonton Aruna dan Lidahnya dalam keadaan perut kelaparan. Jadi, ya, makan sebelum menonton film ini adalah wajib hukumnya.

 

Pemilihan palet warna merupakan variasi lain yang dilakukan departemen teknis dalam plating film. Melihat Posesif yang juga lumayan bermain dalam hal visual termasuk warna, wajar kalau di film terbarunya Edwin lebih ekploratif lagi untuk memanjakan mata penonton. Pada Aruna dan Lidahnya, warna-warna 80-90-an dan pastel diterapkan nyaris pada semua komposisi gambar mulai dari pakaian yang memang mengambil sebagian referensinya dari pakaian jadul, sampai palet warna pada warung makan. Warna-warna dominan terang itu menguatkan unsur pop pada film dan kombinasinya menciptakan sajian visual yang ramah mata dan mengasyikkan. Pengalaman menonton yang ceria secara tampilan.

 

Sejak Posesif, saya berusaha percaya bahwa keberanian Edwin menggarap film panjang akan berlanjut, dan sepertinya kepercayaan saya bersambut. Aruna dan Lidahnya adalah bentuk konkretnya. Film ini seperti semangkuk hidangan lezat yang dibuat dari bahan-bahan terbaik dan bumbu dengan takaran yang pas. Begitu melihat, Anda akan tergugah untuk mencecap. Setelah mencecap, berbagai rasa seperti manis, asin, pedas, pahit, dan asam bermunculan di lidah. Anda pun kembali tergugah untuk menyantapnya sampai habis. Jadi tunggu apalagi, segeralah cicipi film ini selagi masih hangat dan mengepulkan asap. Selamat makan!