Pelaksanaan Kegiatan One Day Without Smoke di shokudou, PSBJ. Foto: Shannon Leonette

JATINANGOR – Senin (23/4), Himpunan Mahasiswa Sastra Jepang (Himade) melaksanakan program One Day Without Smoke yang bertempat di kawasan kantin PSBJ atau dikenal dengan sebutan shokudou. Sesuai dengan nama programnya, mahasiswa-mahasiswi FIB terutama Sastra Jepang yang merupakan perokok aktif harus menahan diri untuk tidak merokok selama sehari di kawasan tersebut.

Ketua Badan Pengurus Harian Himade periode 2018 serta pencetus program One Day Without Smoke Hamzah Naufalyahya–atau akrab disapa Ahya–menjelaskan bahwa latar belakang dilaksanakannya program ini adalah shokudou yang sebenarnya merupakan tempat dimana mahasiswa-mahasiswinya melakukan aktivitas makan dan minum, serta kawasan bebas asap rokok. Namun, mengingat shokudou saat ini sudah bukan merupakan kawasan bebas asap rokok, mereka yang merupakan perokok pasif merasa terganggu aktivitasnya, sehingga muncul rencana untuk melaksanakan program One Day Without Smoke ini.

“Sebenarnya, program One Day Without Smoke ini sudah direncanakan beberapa tahun sebelumnya. Tapi, baru terealisasikan sekarang, berkat bantuan dan dukungan dari mahasiswa-mahasiswi Sastra Jepang maupun FIB,” jelas Ahya.

Ahya juga menambahkan bahwa program One Day Without Smoke ini awalnya akan dilaksanakan di kawasan satu gedung PSBJ. Tapi, mengingat sebagian besar mahasiswa-mahasiswi FIB terutama Sastra Jepang adalah perokok aktif, rencana tersebut tidak jadi dilaksanakan.

“Perlu saya akui bahwa tindakan untuk menciptakan lingkungan PSBJ sebagai lingkungan bebas asap rokok merupakan tindakan yang cukup sulit,” kata Ahya.

Akhirnya, Ahya memilih shokudou sebagai kawasan untuk melaksanakan program ini mengingat kawasan tersebut merupakan kawasan yang paling ramai dikunjungi dan banyak perokok aktif. Dengan dilaksanakannya program ini, Ahya berharap agar shokudou perlahan-lahan berubah kembali menjadi kawasan bebas asap rokok, serta membangun kesadaran masing-masing dari mereka yang perokok aktif akan keberadaan kawasan tersebut sebagai kawasan bebas asap rokok.

Selain program One Day Without Smoke, juga ada program yang mengharuskan setiap pengunjung shokudou untuk mengembalikan peralatan makan dan minumnya masing-masing ke tempat yang telah disediakan setelah melakukan aktivitas makan dan minum. Berhubung dirinya merupakan mahasiswa Sastra Jepang, beliau ingin menerapkan budaya yang ada di sekolah-sekolah Jepang, dimana murid-muridnya mengembalikan peralatan makan dan minumnya masing-masing ke tempat khusus setelah makan dan minum. Dari program ini, Ahya juga berharap agar setiap mahasiswa FIB terutama Sastra Jepang mau membangun kedisiplinan dan kesadarannya masing-masing untuk mengembalikan peralatan makan dan minumnya ke tempat yang telah disediakan, tanpa adanya peringatan dari panitia penyelenggara.

Dari Ahya sendiri, program One Day Without Smoke ini rencananya akan dilaksanakan lagi pada Oktober ini. Tapi, beliau juga mencoba untuk menerima masukan dari mahasiswa-mahasiswi Sastra Jepang maupun non Sastra Jepang mengenai pelaksanaan program ini. Jika responnya kebanyakan positif, maka beliau akan berusaha untuk semakin memperbanyak waktu pelaksanaan program ini. (SL)