Himpunan Mahasiswa Sastra Rusia (Himarus) Universitas Padjadjaran, telah melaksanakan acara seminar tingkat nasional bertajuk “Perkembangan Kesusastraan Rusia di Indonesia: Dunia Chekhov” pada hari Kamis (4/4) lalu. Acara ini dibuka dengan lakon berjudul Penzalim karya Chekhov yang dipentaskan oleh Teater Lekru. Lakon tersebut membahas masalah yang masih relevan hingga saat ini, ketika rakyat kecil terpaksa mencari penghasilan dengan melakukan tindak kriminal, namun malah dihakimi.

 

Setelah pentas yang berdurasi kurang lebih lima belas menit tersebut berakhir, acara masuk ke sesi diskusi pertama yaitu, pembahasan inti tentang posisi Chekhov dalam kesusastraan Rusia di Indonesia. Diskusi pada sesi pertama menghadirkan tiga pembicara. Pertama, doktor sekaligus ketua program studi Sastra Indonesia yaitu Dr. Lina Meilinwati Rahayu, M. Hum. Kedua, dosen dari jurusan Sastra Rusia: Trisna Gumilar, M. A. Ketiga, penggiat teater yang juga alumni jurusan Sastra Rusia Unpad, Sophan Ajie, S. S, M. Hum. Ketiga pembicara tersebut menyampaikan satu tema dalam pembahasan materi yang berbeda, sesuai dengan bidangnya masing-masing.

 

Trisna membahas posisi Chekhov secara umum pada kesusastraan dunia. Ia memaparkan Chekhov tidak pernah berafiliasi dengan politik mana pun. Chekhov awalnya memang menganut ideologi komunisme, namun akhirnya meninggalkannya. Chekhov tidak beragama, namun juga tidak menjadi ateis. Oleh karena iu, karya-karya Chekhov tidak pernah memperbincangkan tema-tema keagamaan.

 

Chekhov adalah seseorang yang pragmatis dan sifatnya tersebut tercermin dalam karya-karyanya. Selain itu, ia menganggap karya-karyanya bergenre komedi, namun Stanilasvsky menyangkalnya. Stanilasvsky mengatakan drama-drama yang dikarang Chekhov bukanlah sebuah komedi, melainkan tragedi.

 

Sophan sebagai penggiat teater, tentu saja lebih condong membahas drama-drama yang pernah dibuat oleh Chekhov, taklupa dengan pengaruhnya di Indonesia. Menurutnya, drama-drama Chekhov berkembang secara subur di Indonesia, namun berubah wujud dengan cara menyeseuaikan dengan budaya-budaya yang ada di Indonesia. Drama-drama tersebut pun memiliki pengaruh terhadap perkembangan teater di Indonesia.

 

Selanjutnya, Lina sebagai pakar kesusastraan Indonesia memaparkan pengaruh Chekhov terhadap kesusastraan di Indonesia. Ia mengungkapkan, karya-karya berbahasa Rusia yang paling banyak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah karya-karya karangan Chekhov. Oleh sebab itu, Chekhov begitu dikenal hingga sekarang. Salah satu dramanya yang terkenal adalah Pinangan. Drama ini sering dipentaskan oleh teater-teater profesional di Indonesia. Ia juga menjelaskan, karya Chekhov banyak dipilih untuk dipentaskan dalam teater-teater di Indonesia karena gampang dan mapan. Maksud dari gampang adalah dialog dan alur cerita yang mudah dipahami, sedangkan mapan adalah karya-karya Chekhov yang matang baik dari segi penggambaran cerita maupun penokohan. Karya-karya Chekhov dapat dikatakan jelas, sehingga tidak sulit untuk dipentaskan. Selain drama, karya-karya Chekhov seperti cerita pendek contohnya, juga memengaruhi penulis-penulis di Indonesia. Misalnya, Rafilus karya Budi Darma yang dianggap terinspirasi dari karya Chekhov menurut para pengamat sastra.

 

Sesi pertama dari acara seminar tersebut diakhiri dengan pembacaan puisi berbahasa Rusia. Belum berakhir sampai di sana, acara seminar pun dibuka lagi pada pukul 12.35 WIB dengan pentas monolog bertajuk Bahaya Racun Tembakau karya Chekhov. Seorang dosen dari Sastra Indonesia, Baban Banita, M. Hum, menjadi tokoh tunggal dari pementasan tersebut. Monolog dipentaskan dengan menarik dan sanggup membawa penonton ikut mengalami perasaan yang dirasakan oleh tokoh lewat penjiwaan yang baik.

 

Substansi monolog tersebut tidak sesuai dengan judulnya. Monolog menceritakan kehidupan seorang suami yang ingin bebas dari perilaku istrinya yang terlalu memaksa dirinya untuk bekerja keras. Masalah yang ditampilkan dalam monolog ini pun masih sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

 

Setelah pementasan monolog berakhir, acara seminar pun dilanjutkan dengan diskusi sesi kedua. Sesi kedua menghadirkan dua pembicara yaitu, Trisa Triandesa yang pernah menerjemahkan karya Chekhov berjudul Tiga Saudari, dan seorang dosen dari jurusan Sastra Rusia Unpad, Ladinata, M. A. Sesi kedua ini membahas perkembangan karya-karya Chekhov di Indonesia, khususnya drama.

 

Setelah sesi kedua berakhir, acara pun ditutup oleh tarian khas Rusia yang dibawakan oleh Svetovid yang memang tidak pernah absen dari acara-acara yang diadakan oleh Himarus sebagai salah satu ciri khas jurusan Sastra Rusia.

 

Acara ini merupakan acara kedua setelah acara bertema Pram dan Gorky. “Chekhov adalah salah satu sastrawan Rusia yang paling dikenal di Indonesia, itulah mengapa kami mengangkat Chekhov untuk tema seminar kali ini,” jelas Nabila Rizkiwati, Ketua Pelaksana Seminar Nasional tersebut. Nabila juga berharap masyarakat awam tidak hanya mengenal Rusia dengan kekiriannya, tetapi juga mengenal sastra dan budayanya. (LO/SBN)