Dua tokoh utama drama Tungtungna Tunggara; Sandra dan Euis. Foto: Shafa Salsabiela

 

JATINANGOR – Paguyuban Mahasiswa Sastra Sunda (Pamass) Universitas Padjadjaran pada Kamis (05/04) menyelenggarakan pagelaran mandiri yang bertajuk Rawayan. Sebelum pukul 14.00 penonton yang didominasi oleh siswa-siswi SMP & SMA di Jatinangor dan sekitarnya telah ramai memenuhi Aula PSBJ. Rawayan merupakan pagelaran seni sekaligus ajang kreatifitas mahasiswa Sastra Sunda Universitas Padjadjaran yang diselenggarakan setiap tahun.

 

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pagelaran tahun ini tidak hanya menampilkan pementasan tari, karawitan, dan teater, tapi juga dibuka dengan penyuluhan tentang bahaya narkoba oleh perwakilan Badan Narkotika Nasional (BNN) cabang Kabupaten Sumedang. Format baru yang diusung oleh Rawayan tahun ini berangkat dari kesadaran minimnya penyuluhan tentang darurat narkoba di berbagai kalangan, khususnya di daerah Jatinangor dan sekitarnya.

 

“Setiap tahunnya, kan, tampilan kita selalu berbeda. Untuk tahun ini, kita sekarang mencoba, kalau istilahnya basa Sunda gawé bareng, kerjasama dengan BNN. Soalnya kita ngambil naskahnya berhubungan dengan narkoba, kenapa kita tidak seperti itu, dari sumbernya langsung,” ujar Ketua Pelaksana Rawayan, Raka Cakra Triady, saat ditemui usai acara berlangsung di Aula PSBJ.

 

Pementasan dilanjutkan dengan penampilan Tarian Kareses yang merupakan gabungan dari tiga tarian daerah yaitu tari merak, topeng, dan baksa. Setelahnya, penonton juga dihibur dengan pertujukan karawitan dengan beberapa lagu termasuk lagu berjudul “Emplok Cendol”.

 

Pementasan teater ini merupakan acara puncak Rawayan yang mementaskan karya Ayi G. Sasmita bertajuk Tungtungna Tunggara. Naskah ini ditulis pada tahun 2013 dan berkisah tentang dua orang gadis bernama Sandra dan Euis. Mereka telah bersahabat sejak kecil tetapi menjalani kehidupan yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Sandra hidup serba berkecukupan, namun kedua orangtuanya yang sibuk tidak memberikan perhatian dan kasih sayang yang dibutuhkannya. Oleh sebab itu, Sandra terjerumus lembah hitam pergaluan bebas dan mulai akrab dengan minuman keras dan juga narkoba. Sedangkan Euis hidup seadanya bersama dengan sang ayah yang berprofesi sebagai tukang parkir. Persahabatan mereka sempat merenggang karena perilaku Sandra yang lebih memilih dunia malam sebagai pelampiasan rasa kesepiannya sampai selembar kertas mengubah hidup Sandra dan membuatnya kembali kepada Euis.

 

Penyajian dan pengemasan teater yang sangat menarik mampu membuat penonton terbawa dalam suasana cerita. Banyak penonton menteskan air mata menyaksikan kisah Sandra dan Euis. Kemudian, teater ditutup dengan tepuk tangan yang meriah sebagai apresiasi dari penonton.

 

Di balik pementasan teater yang sukses, terdapat kerjasama yang baik antara sutradara dan para pemain. Menurut sutradara teater Tungtungna Tunggara, Wicky Adriawan, persiapan pementasan teater ini memakan waktu kurang lebih tiga bulan. Wicky memilih Tungtungna Tunggara karena nuansanya yang cocok untuk kalangan remaja dan dilatarbelakangi oleh unsur kekinian; mengetahui banyaknya masyarakat dari berbagai kalangan termasuk publik figur yang terjerat kasus penyalahgunaan narkoba. (SS/DA)