Oleh Trisha Adelia

Para mahasiswa FIB Unpad merapatkan diri ke para pemimpin fakultas dan prodi.

Rabu, 28 Maret 2018 pukul 16.00 di Aula PSBJ FIB Unpad berlangsung acara Kopi Sore. Acara ini mempertemukan para mahasiswa FIB Unpad dengan para pemangku jabatan di tingkat fakultas dan prodi. Disambi dengan sajian kopi, bajigur, camilan khas Sunda dan jajanan ringan lainnya, pertemuan itu berlangsung cukup hangat karena mahasiswa dan para pemimpin fakultas dan prodi melakukan komunikasi secara terbuka.

Pertanyaan pembuka berasal dari seorang mahasiswa FIB Unpad yang mempertanyakan persoalan parkiran berbayar di FIB. Pertanyaan itu disusul pertanyaan dari ketua BEM GAMA, Dani Afdiansyah, yang mengajukan tiga persoalan pokok mencakup keresahan yang dirasakan oleh hampir seluruh masyarakat FIB Unpad. Keresahan itu ialah masalah dana kemahasiswaan melalui sistem SIAT, TPB, dan berkurangnya tenaga kerja kebersihan di FIB Unpad yang menyebabkan kotornya lingkungan sekitar.

Menanggapi pertanyaan pertama, Yuyu Yohana Risagarniwa, Dekan FIB Unpad, menjelaskan bahwa persoalan parkiran berbayar itu telah beberapa kali dibincangkan dan masih menjadi pekerjaan rumah. Bagaimanapun sistem parker, keamanan, dan kerapihan tetap harus dikedepankan.

Kemudian satu persatu dari tiga pertanyaan pokok dijawab oleh Yuyu Yohana. Saya, sebagai mahasiswa yang cukup awam persoalan birokrasi, ingin menekankan persoalan kebersihan yang ada di FIB Unpad. Persoalan ini menyebabkan, setidaknya bagi saya, lingkungan FIB menjadi jorok dan tidak sehat.

Bagi yang awam dan tidak mengetahui kondisi WC di lingkungan FIB Unpad, mari saya deskripsikan sedikit. Saya ambil contoh yang paling parah yaitu, WC gedung B yang notabene adalah gedung yang berada di depan lingkungan FIB Unpad. Gedung ini memiliki empat WC di lantai dasar; dua WC laki-laki dan dua WC perempuan. Karena saya perempuan, jadi saya akan jelaskan bagaimana kondisi WC perempuan di FIB Unpad di lantai dasar. Di WC yang bersebelahan dengan kantin sastra (Kansas) terdapat satu WC yang tidak memiliki gayung. Melihat keadaan itu, seseorang berinisiatif menaruh mangkuk plastik. Pintu toilet tidak dapat ditutup dan kran airnya berada dalam posisi miring sehingga, jika kita membuka kran air kemungkinan besar kita akan terkena tempias airnya. Belum lagi kondisi kakusnya yang entah dibersihkan tiap berapa minggu (atau mungkin bulan) sekali. Kondisi wastafelnya pun sungguh memperhatinkan; lubangnya tersumbat oleh entah apa sehingga air sering menggenang dan berpotensi menjadi sarang pernyakit.

Menanggapi pertanyaan seputar berkurangnya tenaga kerja yang berimbas pada kotornya lingkungan FIB, Yuyu menegaskan hal ini telah dibicarakan dan menjadi perhatian bersama baik di tingkat fakultas maupun universitas. Telah diketahui bersama bahwatelah terjadi perubahan di lingkungan universitas yang harus kita sikapi secara sabar. Yuyu mengungkapkan rasa senangnya terhadap mahasiswa-mahasiswa yang mengambil inisiasi dalam Jumat Bersih, suatu program BEM Gama yang juga dipuji oleh para pemimpin fakultas di forum ini.

Guncangan perubahan

Di sebelah Yuyu hadir Inu Isnaeni, Manajer Kemahasiswaan. Inu menekankan akar dari permasalahan yang terjadi di lingkungan fakultas maupun universitas ini terjadi karena dua perubahan yang memberi dampak besar terhadap lingkungan kampus. Perubahan pertama ialah perubahan tingkat nasional yaitu, dipotongnya anggaran untuk seluruh departemen dan kementrian. Kedua, perubahan status Unpad menjadi PTN BH. Kedua perubahan ini riaknya sampai ke tingkat fakultas sehingga menyebabkan perampingan pengeluaran (istilah kerennya adalah rasionalisasi dan efisiensi). Salah satu imbas pemangkasan biaya yang terjadi adalah berkurangnya tenaga kerja K3L yang ada di fakultas dari semula lima belas orang menjadi tujuh orang.

Wakil Dekan I, Mumuh Muhsin Zakaria, bercerita tentang guncangan budaya ketika ia berkunjung ke salah satu universitas favorit di Negeri Sakura. Di sana ia melihat kebersihan adalah milik bersama. Mahasiswa melayani sendiri kebersihan dan kerapian kampusnya. Begitu juga ketika ia bertamu di universitas di Jerman, semuanya mengambil peran serta dalam menjaga kebersihan.

Salah satu ketua prodi pun di akhir sesi tanya jawab termin satu menutup dengan mengutip ayat suci Albaqarah ayat 218. Ayat tersebut menjelaskan hal-hal yang kita tidak suka tidak mesti selalu buruk untuk kita. Kita semua bisa dibilang korban dari perubahan, tetapi perubahan yang sedang melanda Unpad tidak mestilah kita anggap buruk. Kita harus cermati bersama dan ambil hikmahnya agar menjadi insan yang lebih peduli dengan lingkungan. Kita mesti jadi korban yang bijak. Kurang lebih begitu yang saya tangkap.

Belajar menjadi korban yang bijak

Secara ringkas saya menangkap pesan kecil dari para pemimpin fakultas dan prodi bahwa mahasiswa harus lebih sabar dan turut mengambil peran dalam perubahan ini. Kita perlu menjaga lingkungan dengan cara membuang sampah pada tempatnya, jangan membuang putung rokok di sana-sini, siram toilet sampai takada jejak, dan mari bersama menjadi korban yang bijak dalam menyikapi perubahan yang terjadi. Tidak hanya mahasiswa yang dibebankan tugas beberes lingkungan kampus ini, di lingkungan prodi pun sudah menjadi hal yang lumrah bagi pemimpin prodi mencuci piring sendiri.

Saya sangat setuju jika kebersihan adalah milik kita bersama, tidak terkecuali mahasiswa yang entah dia bayar atau tidak selama berkuliah. Selama kita menjadi manusia yang sadar, sudah sepatutnya kita menjaga lingkungan sendiri. Tetapi yang sangat disayangkan adalah kurangnya sosialisasi terhadap perubahan yang (cukup) besar ini.

Jika para pemimpin fakultas memang menginginkan para mahasiswa secara terintegrasi turut serta dalam kebersihan kampus secara nyata, baik itu kebersihan halaman ataupun ruangan tertutup, sudah seharusnya mahasiswa secara luas diberikan pengertian dan tidak hanya lembaga eksekutif mahasiswa saja yang mengetahui persoalan ini. Dengan diadakannya Kopi Sore memang saya rasa sudah cukup membukakan mata, tapi bagaimana dengan mahasiswa lainnya yang takpunya (atau tak mau) akses terhadap persoalan ini?

Jika kita selalu memandang budaya pendidikan di Jepang yang canggih karena siswa-siswinya telaten menjaga kebersihan, disuruh piket membersihkan WC pun tidak masalah, saya rasa ini karena memang sudah begitu sistem yang ada di sana. Bagaimana dengan di Unpad? Kita memang tidak bisa ojol-ojol mengharapkan penyempurnaan. Transisi memang mesti memakan korban, tapi bagi saya kebersihan, terutama WC, bukanlah hal yang sepatutnya disepelekan ataupun dapat ditunda-tunda penyelesaiannya. Saya pernah dengar kutipan dalam suatu seminar sanitasi di Jakarta yang diadakan Yayasan Toilet Indonesia. Kutipan itu berbunyi bahwa karakter sebuah bangsa dapat dilihat dari kebersihan toiletnya. Kutipan itu sendiri sudah bercerita banyak tentang apa yang terjadi di lingkungan kampus kita ini.