Kota selalu identik dengan hiruk-pikuk, individualis, kesibukan, dan keramaian, baik dalam pikiran atau pun jalanan. Kota sering kali membuat orang-orang yang hidup di dalamnya menjadi lebih cepat lelah sehingga ketika urusan atau kerjaan mereka selesai, mereka lebih memilih untuk segera pulang ke rumah dibandingkan menikmati padatnya kota. Lagi pula, bagi mereka tidak ada hal menarik untuk dinikmati selama di kota. Yang ada hanya kemacetan lalu lintas dan kerjaan mereka yang menguras banyak tenaga.

Tetapi bagi warga kota Bandung, kota tidak melulu tentang apa yang telah disebutkan di atas. Kota bukan melulu yang menciptakan lelah, capek, atau membuat warga menjadi individualis. Kota ternyata juga bisa menjadi tempat menghilangkan penat sejenak dari kerjaan. Taman-taman yang ada di Bandung lah yang mampu membuat warga menikmati hidup di kota. Terdapat sekitar lima belas taman di sana yang dapat para warga kunjungi kapan pun.

 

Di setiap taman dapat ditemukan mulai dari anak-anak kecil, anak-anak berseragam sekolah, juga keluarga menghabiskan waktu di sana. Mengobrol di tikar yang mereka gelar, memainkan permainan yang ada di taman, mengabadikan momen bersama sang kawan, atau sekadar bersantai menikmati suasana taman di tengah kota. Setiap hari Minggu pagi, taman-taman akan dipenuhi oleh warga, dan para penjual, baik makanan dan minuman mau pun mainan, yang sibuk menawarkan jualannya kepada warga. Para warga terlihat menerima dengan baik adanya taman di tengah kota.

Taman di tengah-tengah kota ini merupakan solusi terbaik bagi para warga kota Bandung yang kesehariannya berteman akrab dengan setumpuk kerjaan yang harus diselesaikan. Belum lagi ketika mereka harus merasakan dulu kepadatan lalu lintas sebelum sampai ke rumah. Debu-debu jalan itu menempel di atasan dan bawahan yang mereka pakai, seakan-akan debu-debu itu mampu melelahkan orang tersebut. Waktu di rumah yang seharusnya digunakan untuk waktu bersama keluarga, mereka malah memilih untuk istirahat lebih dulu karena, baik jiwa mau pun raga, sudah terlalu capek.

Orang-orang kemudian memilih taman sebagai pelarian sementara dari kepadatan kota dan kesibukan mereka. Taman dijadikan penyembuh dari kelelahan mereka. Menghabiskan waktu dengan keluarga pun mereka memilih taman karena selain mampu untuk menjadi penyembuh, pergi ke taman tidak memerlukan biaya yang banyak. Taman mampu membuat para warga nyaman. Taman adalah penyimbang kota. (MK)