FLYING COLORS, METAMORFOSIS SEORANG GADIS BODOH

 

Diskriminasi dalam pendidikan menjadi masalah hampir di seluruh dunia. Meski perilaku ini menyalahi hak asasi manusia dan dikecam banyak orang, masih banyak saja kasus serupa yang ditemui. Seringkali diskriminasi itu hadir dari pihak sekolah bahkan keluarga, salah satu diskriminasi yang terjadi adalah diskriminasi kebodohan. Anak yang lambat dalam memahami pelajaran dan malas diguyur perkataan negatif setiap harinya. Mulai dari sebutan bodoh, tidak punya masa depan, aib keluarga, hingga suruhan untuk mati saja. Padahal mungkin anak itu memiliki potensi lain dalam dirinya atau hanya butuh sedikit dorongan dari orang yang ia percaya.

Seperti yang diangkat dalam film Jepang Flying Colors. Bercerita tentang gadis ‘gaul’ bernama Sayaka Kudo yang akhirnya termotivasi mengikuti ujian perguruan tinggi. Sayaka yang bermodal awal pengetahuan setara kelas 4 SD berjuang memasuki universitas bergengsi di Jepang: Keio University. Banyak orang yang mengoloknya atas target itu. Pihak sekolah pun menyuruhnya berhenti saja, karena tidak mungkin bagi anak bodoh sepertinya berhasil. Bahkan gurunya sendiri menganggap Sayaka tidak punya masa depan. Begitu juga dengan ayahnya yang hanya peduli pada anak laki-laki dan baseball, sama sekali tidak peduli dengan Sayaka. Meski begitu, ibunya yang dipanggil Aachan tetap mendukung dan berkata baik pada Sayaka, apapun yang terjadi.

Orang yang mengubah cara pandang Sayaka terhadap dunia adalah guru privatnya, Yoshitaka Tsubota atau Tsubota Sensei. Dengan metode pendekatan yang unik, Tsubota berhasil ‘menyihir’ Sayaka dan yang lainnya untuk giat belajar. Tsubota jugalah yang merekomendasikan Keio University dan melihat potensi belajar yang cepat pada diri Sayaka. Riasan Sayaka yang berlebihan untuk gadis seusianya juga diatasi dengan tepat, tanpa membuat ia tersinggung sama sekali. Banyak suka duka yang Sayaka rasakan dalam perjuangannya, temasuk momen saat ia hampir saja menyerah. Namun berkat dorongan Aachan dan Tsubota Sensei, ia selalu dapat bangkit lagi dan lagi. Dengan mengorbankan waktu main dan tidurnya, akhirnya Sayaka berhasil membuktikan diri dengan lulus ujian masuk Keio University fakultas Sastra.

Film ini diangkat dari sebuah novel karangan Nobutaka Tsubota dengan judul yang sama. Cerita di dalamnya ternyata terispirasi dari kisah nyata penulis yang juga seorang guru privat dengan salah satu muridnya, Sayaka Kobayashi. 

Flying Colors membuktikan bahwa tidak ada anak yang tidak mampu belajar. Yang mereka butuhkan hanyalah motivasi dan kepercayaan. Diskriminasi dan kata-kata tajam tidak akan menyelesaikan masalah apapun. Film ini juga menghadirkan sosok guru ideal yang semestinya; guru yang dapat memahami siswanya sebagai individu. (W)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *