Foto bersama panitia Sativa dan pemateri Seminar Nasional Pertanian di Aula Abjan Soelaiman UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sabtu (2/12) lalu. Foto: Nigina

Bandung- Berangkat dari permasalahan agraria di Indonesia yang semakin hari mengalami degradasi, jurusan Agroteknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengadakan Seminar Nasional Pertanian dengan tema “Ironi Agrariaku, Ironi Pertanianku” dalam rangka Dies Natalis Agroteknologi yang ke 11 tahun, Sabtu (2/12).

Guna memeriahkan rangkaian acara, pihak penyelenggara turut mengundang tiga pembicara yakni, Dr. Sigit Santosa, S.si, M. App. Sc yang berprofesi sebagai kepala seksi perencanaan konsolidasi tanah, kementrian agraria, Muhamad Islah, manajer pendidikan dan kaderisasi eksekutif nasional Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), dan Dewi Kartika, sekretaris jendral konsorsium pembangunan agraria.

Hal yang menjadi dasar terselenggaranya acara ini adalah untuk menumbuhkan hasrat di bidang pertanian bagi kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa jurusan agroteknologi, agar “melek” pada permasalahan yang sudah lama terjadi di Indonesia.

Indonesia sebagai negara agraris kini lahan-lahannya telah berkurang. Masalah ini berdampak pada menurunnya produksi di bidang pertanian. Lahan-lahan tersebut dialihfungsikan menjadi perumahan, tempat-tempat industri, perkebunan kelapa sawit, dan lain-lain. Hal itu jelas menimbulkan masalah seperti konflik agraria dan degradasi lahan potensial.

Berbicara mengenai agraria tidak hanya menyangkut permasalahan tanah saja, menurut Firda Ayu Lestari, “Agraria sendiri tidak hanya mencakup urusan lahan atau tanah, tetapi lebih dari itu. Agraria meliputi berbagai aspek. Menurut apa yang telah dijelaskan oleh pemateri, bahwa agraria meliputi isi perut bumi yang mencakup bagian penting, dan tanah menjadi unsur utama.”

Adapun masalah yang dibahas dalam seminar ini yakni perihal tanah, mengingat bahwa tanah adalah unsur terpenting dalam agraria. Dewi Kartika mengatakan bahwa tanah sumber pendapatan para petani. Ada sekitar 59% petani di Indonesia adalah petani burem, yaitu petani yang kepemilikan tanahnya rata-rata hanya 300 . Bisa dibayangkan dengan luas tanah sesempit itu dijadikan tempat untuk menunjang kehidupan para petani. Sisanya adalah para buruh tani yang tidak memiliki lahan. Urusan tanah juga tidak lepas dari konflik agraria. Konflik yang sering terjadi di masyarakat yaitu sengketa antara masyarakat dengan pemerintah atau instansi tertentu mengenai status kepemilikan tanah. Contoh kasus yang terjadi baru-baru ini adalah kasus pembangunan bandara internasional di Majalengka, ujar Dewi.

Menyikapi konflik agraria yang sering terjadi tersebut, Firda berpendapat hendaknya semua pihak tidak hanya memandang dari satu sudut pandang saja. Tidak boleh diam dalam zona sendiri agar dapat saling mengetahui kelebihan dan kelemahan masing-masing.

Acara seminar nasional ini berlangsung dengan tertib dan lancar. Sebagai salah satu dari rangkaian acara dies natalis jurusan agroteknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung tentu sangat bermanfaat bagi mahasiswa agroteknologi serta menambah kemeriahan dies natalis tersebut.

Adapun harapan yang disampaikan dengan terselenggaranya acara ini, khususnya bagi mahasiswa jurusan agroteknologi yakni, “semoga semakin terciptanya mahasiswa agroteknologi yang kompetitif, kreatif, inovatif, serta solutif.” Ujar Firda (AR/S).