Jatinangor—Dalam rangkaian acara Hari Hari Sastra (H2S) yang diadakan pada 28 Oktober 2017 nanti, Forum Masyarakat Teater Sastra (FMTS) menampilkan sebuah drama musikal pada hari Rabu (11/05). Drama musikal tersebut berjudul Jenderal Bekas. Lebih dari 500 tiket terjual, baik dibeli oleh mahasiswa FIB atau pun mahasiswa fakultas lain. Sejak pukul 15.00 WIB, para penonton telah ramai mengantre di depan aula PSBJ, tempat pementasan drama musikal tersebut.

Pementasan drama kali ini, berbeda dari tahun sebelumnya, diawali dengan pembacaan potongan cerpen oleh Tama, mahasiswa Sastra Indonesia, yang berjudul Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumir Ajidarma. Kemudian dilanjutkan monolog dari Irfan Hadi dari jurusan yang sama. Penonton kembali dihibur dengan penampilan memukau dari El Karmoya, band yang sangat dikenal di kalangan mahasiswa FIB, sebelum akhirnya memasuki waktu ishoma.

Penampilan Jenderal Bekas dimulai setelahnya. Drama musikal yang memakan waktu selama kurang lebih dua setengah jam ini bercerita tentang anak-anak jalanan yang berusaha mengubah takdir hidup mereka. Sehari-hari mereka dipaksa bekerja untuk kemudian uangnya disetorkan kepada sang pemimpin, Partal. Bosan dengan kehidupan mereka, akhirnya mereka mendaftarkan diri mengikuti lomba bakat tingkat umum dengan nama Jenderal Bekas dengan menampilkan perkusi yang diaransemen oleh pengamen bernamaLima.

Drama musikal Jenderal Bekas tersebut berhasil membuat para penonton terhibur. Tak jarang terdengar tawa penonton ketika melihat adegan apik para pemain. Walaupun sempat ada beberapa adegan yang cukup mengharukan, akhir dari ceritanya tetap bahagia. Drama diakhiri dengan pertunjukkan perkusi mereka pada saat lomba dan memenangkan perlombaan tersebut walau tanpa Lima yang mati demi menyelamatkan ibunya, Rumba.

Bagus RS, sang sutradara, mengatakan bahwa alasan dirinya mengambil Jenderal Bekas adalah karena ia ingin membawa unsur realis pada teater FIB. Ia merasa akhir-akhir ini teater-teater di FIB terlalu serius.

“Sekarang tuh orang-orang lagi butuh ketawa, orang orang sudah malas dengan yang serius. Karena akhirnya teater itu adalah hiburan, bukan pemikiran,” jelas Bagus, “kejar terus konsep yang paling baik. Berkarya itu nggak ada batasnya.”

“Aku suka peran-peran dari tiap anak jalanan, mereka saling melengkapi dan sangat menghibur,” ungkap Putri, salah satu penonton Jenderal Bekas, “yang paling menarik perhatian aku itu karena mengambil latar belakang anak jalanan. Jadi ketika menonton, aku sekaligus membayangkan di dunia nyatanya bagaimana.” Putri sempat menangis ketika menyaksikan adegan saat anak-anak jalanan itu terpuruk. “Diawal cerita agak membosankan, tetapi kebosanan itu cepat tergantikan oleh akting para pemainnya yang lucu.” (MLD/SPC)