Foto: Bella Fitriana

Permasalahan tata kota sebenarnya sudah menjadi persoalan klise Jakarta sebelum diangkat menjadi semacam salah satu isu wajib saban menjelang Pemilihan Kepala Daerah. Batavia—nama awal Jakarta—merupakan daerah padat, multikultur dan terdiri dari berbagai macam kelompok etnis, tidak beda dengan saat ini. Hal tersebut mempengaruhi tata letak kota dan terutama permasalahan polusi. Orang Eropa tinggal dalam sebuah kawasan yang dikelilingi oleh benteng—kota tua Jakarta saat ini–dengan sebuah alun-alun sekaligus tempat eksekusi terpidana mati serta sebuah kantor administrasi Gubernur Jenderal VOC dan Dewan Kota (Casteel Batavia). Kelompok etnis lain seperti Tionghoa, Jawa, Arab, Melayu tinggal pula dalam kawasan masing-masing yang mengkhususkan diri, misalnya saja Tionghoa dikenal dengan kawasan Pecinan, Melayu dengan Kampung Melayunya.

 

Keadaan alam Batavia kala itu masih berupa kawasan hutan yang meluas hingga ke daerah selatan sehingga Batavia dibentuk sebagai kota kanal. Hal ini bertujuan untuk selain melindungi kawasan kota dari keberadaan hewan liar tetapi pula kanal berfungsi sebagai jalur transportasi. Batavia yang baru dibangun itu merupakan rumah bagi hewan-hewan liar seperti harimau jawa dan buaya.

 

Dulu, pada masa-masa awal Batavia persoalan sanitasi kota dan tata kelola sampah tidak terlalu terperhatikan. Lantaran itu tingkat kesehatan di kawasan ini sangat mengkhawatirkan, bahkan ada istilah bahwa Batavia adalah kuburannya orang-orang Eropa. Dalam hal imunitas, orang-orang Eropa rentan terhadap penyakit daerah tropis yang belum ada obatnya saat itu. Tercatat sebelum tahun 1733 rata-rata ada 500 orang yang mati per tahun dan setelah 1733 meningkat menjadi antara 2000 hingga 3000 orang. Wabah kolera terjadi karena kurangnya higienitas kota, utamanya persoalan sanitasi ini. Tinja atau tahi manusia dibiarkan begitu saja. Adalah salah satu tugas budak-budak membuang tinja majikannya yang ditampung dalam sebuah guci tinja.

 

“Di pengujung hari, sebut saja pada pukul sembilan di malam hari, waktu ketika semua pesta telah usai dan semua orang telah kembali ke rumah mereka masing-masing, sampan Cina atau perahu tinja mulai mengarungi kanal-kanal kota,” tulis John Barrow, sekretaris Departemen Angkatan Laut Inggris.

 

Persoalan buang hajat penduduk ini menurut John amat menjijikkan. Namun, penduduk Batavia menanggapinya dengan kalem. “Bunga jam sembilan malam baru saja mekar,” begitu ujar penduduk bila bau tinja mulai tercium pada malam hari.

 

Di sisi lain pada malam 20 Oktober 1629 ketika terjadi penyerangan oleh Sultan Agung dari Kesultanan Mataram ke Batavia, tinja-tinja sial yang merupakan salah satu penyebab wabah ini pada akhirnya berguna pula. Hans Madelijn seorang sersan asal Jerman menggunakan tinja-tinja ini sebagai peluru meriam lantaran VOC kehabisan amunisi. Maka penyerangan pun dilakukan tanpa menelan korban jiwa dari kalangan prajurit Mataram–hanya umpatan, “O, seytang orang Hollanda de bakkalay samma tay! (O, setan orang Belanda berkelahi sama tahi!), begitu yang dituturkan dalam buku Die Gesantschaft der Ost-Indischen Geselschaft in den Vereinigten Niederlaendern an Tartarischen Cham yang ditulis oleh seorang penjelajah Belanda, Johan Nieuhof, yang terbit pada 1665.

 

Peristiwa tersebut diceritakan ulang dalam Babad Diponegoro sekitaran abad 18 sesuai kesaksian-kesaksian dari prajurit Mataram: Namun, karena peluru meriam hampir habis, mereka menggunakan tahi. Topi mereka digunakan untuk wadah tahi. Lalu, Ki Manduredja terkena peluru tahi itu. Seluruh badannya berlumuran kotoran manusia. Kejadian yang sama juga menimpa adipati. Dengan muka merah padam, mereka mundur kembali ke markas. Di situlah mereka mandi. Demikianlah tentang cerita mereka.” 

 

Sementara soal pengelolaan sampah, Batavia sebagai kota dagang internasional sempat kewalahan menghadapi limbah hasil perdagangan ini. Sampah banyak ditemukan di jalanan dan kanal. “Pada 1630, tumpukan sampah di jalan dan kanal Batavia menjadi masalah. Sampah-sampah ini, terutama sekali, terdiri atas abu, batu bata, kapur, daun palem, dan material lainnya. Ini ditambah lagi bangkai ikan dari beberapa pasar,” tulis Luc Nagtegaal dalam “Urban Pollution in Java, 1600-1850”, termuat di Issues in Urban Development.

 

Pemerintah Batavia kala itu berusaha menanggulangi masalah ini dengan dipekerjakannya para petugas kebersihan kota dan memperbanyak penempatan tempat sampah di setiap sudut kota sekitaran tahun 1707. Namun, tetap saja hal ini belum teratasi hanya dengan itu. Malah beberapa petugas kebersihan yang tak ingin repot membuang sampah ke penampungan di luar kota langsung membuang sampah ke laut. Maka tepian pantai menjadi tercemar dengan sampah-sampah ini.

 

Seiring dengan perkembangannya sebagai pusat administrasi pemerintahan kolonial, Batavia terus menjadi daerah yang berbenah dalam penataan kotanya. Untuk menanggulangi permasalahan sanitasi sebagai penyebab wabah kolera ini misalnya, pemerintah kolonial sempat membuat sebuah program kredit murah bagi kaum Bumiputera, kredit ini ditujukan untuk pembangunan jamban dan sanitasi yang baik. Namun, bukannya uang tersebut digunakan untuk memperbaiki sanitasi, penduduk malah menggunakannya untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok. Hal tersebut sepertinya berulang di zaman ini, rasa-rasanya memang kebutuhan perut semestinya yang diperhatikan pertama kali sebelum permasalahan infrastruktur. (FAB)