SARASEHAN NUSANTARA IMBASADI 2017

Penampilan budaya dari peserta Sarasehan Nusantara Imbasadi, Rabu (26/04) lalu. Foto: ES

            Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah Se-Indonesia atau biasa dikenal dengan sebutan Imbasadi merupakan sebuah event sekaligus ajang silaturahmi Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah Se-Indonesia. Mahasiswa Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran untuk pertama kalinya pada tahun ini diberikan mandat sebagai tuan rumah dalam pelaksanaan acara Imbasadi. Acara yang dilaksanakan pada tanggal 22-26 April 2017 ini diikuti oleh 12 Universitas dari seluruh Indonesia.

Indonesia merupakan negara yang heterogen dalam dalam hal bahasa dan budaya. Indonesia sebagai negara yang heterogen, terbentuk atas perbedaan bahasa dan budaya yang memiliki ciri dan kekhasan lokalitas masing-masing. Dalam acara ini setiap Universitas bersama-sama saling bahu-membahu dalam mempertahankan nilai-nilai lokalias dan kebudayaan daerah masing-masing bukan untuk bersaing dalam hal kompetitif namun satu sama lain berusaha mempertahankan kebhinekaan negara untuk menjadi Ika.

Cara menghancurkan sebuah bangsa adalah dengan menghancurkan budayanya..” tutur Bapak Dr. Drs. H. Anton Charliyan, MPKN selaku Kapolda Jawa Barat saat mengisi sambutan Sarasehan Nusantara Imbasadi. Dalam hal ini beliau memaparkan bahwa cara mempertahankan kekokohan sebuah negara adalah dengan mempertahankan budaya dan nilai-nilai budayanya.

Acara ini diisi dengan berbagai kegiatan dan perlombaan yang sifatnya kompetitif. Salah satu ajang perlombaan yang diselenggarakan adalah lomba Karya Tulis Ilmiah bertemakan budaya khas dari masing-masing daerah yang diadakan pada tanggal 23 April 2017 di Bale Sawala. Setiap delegasi dari Universitas mempresentasikan karya tulis ilmiahnya masing-masing. Banyak hal menarik yang dapat dikita lihat dalam acara ini, bahwa satu saja jenis kebudayaan lokal jika digali dalam berbagai perspektif dapat memunculkan gagasan ilmiah yang sangat relevan jika dikaitkan dalam kehidupan dimasa ini. Contohnya saat Universitas Negeri Flores mempesentasikan Tarian Caci khas daerah Flores, yang memiliki nilai filosofis yang sangat dalam. Selain Karya Tulis Ilmiah diselenggarakan juga perlombaan kaligrafi, pidato menggunakan bahasa daerah masing-masing, membaca puisi bahasa daerah masing-masing, dan pagelaran budaya.

Selain itu dipilih juga Putra-Putri Imbasadi yang mana setiap Universitas mengirimkan sepasang putra dan putri-nya yang akan tampil untuk mempresentasikan pakaian adat yang dimiliki masing-masing daerah. Setiap delegasi memaparkan pakaian adatnya masing-masing beserta nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Nilai-nilai yang refresentatif dalam pakaian adat juga menunjukan keragaman budaya lokal bangsa Indonesia yang harus patut dijaga dan dilestarikan

Acara yang digagas sebagai ajang silaturahmi ini setidaknya dapat menunjukan bahwa nilai-nilai literasi dapat diwujudkan sebagai bukti terhadap kecintaan pada tanah air. Dengan merosotnya apresiasi warga masyarakat indonesia terhadap budaya lokalnya sendiri, mereka para mahasiswa bahasa dan sastra daerah tetap dapat eksis dalam memperjuangkan dan menonjolkan nilai-nilai budaya luhur yang telah ada sejak lama.

Acara Sarasehan Imbasadi ini juga diselingi dengan Seminar Nasional Program Studi Sastra Sunda dengan tema “Kearifan Lokal dalam Pemertahanan Intergrasi Bangsa Indonesia”. Kearifan lokal yang digagas dalam seminar ini tentu saja dapat memberi peluang sekialigus tantangan. Tantangannya itu sendiri bagaimana dengan kearifan lokal ini dapat memberi kontribusi yang positif dalam membangun negeri.

“Tahukah kalian apa hal yang membuat Indonesia sulit maju ? Salah satu faktornya adalah karena bangsa Indonesia berada dalam taraf krisis budaya, krisis pendidikan, krisis kepercayaan, dan krisis disiplin…” tutur Bapak Kapolda Jabar.

Arus globalisasi dan westernisasi yang merambah keseluruh penjuru negeri harus dapat diimbangi dengan pertahanan terhadap nilai-nilai bangsa dan negara. Diharapkan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Daerah dapat menjadi agent of change atau agen perubahan dalam melestarikan budaya lokal yang mayoritas sudah tak lagi diindahkan dan dipelihara. (ES)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *