Ilustrasi: Rizal Abdul

Ketika akhirnya Sukarno tumbang oleh rezim Orde Baru, segala hal mengenai rezim tersebut mulai dihilangkan dari ingatan masyarakat. Termasuk pula bagaimana pandangan mengenai Kartini. Maka, sebagai seorang wanita yang melawan adat kolot yang cenderung patriarki itu, persepsi mengenai Kartini di mata masyarakat ikut diubah pula oleh lawan politik-ideologisnya Sukarno; rezim Orde Baru dibawah pimpinan Soeharto.

 

Saya sempat berbincang dengan ibu saya mengenai penggambaran Kartini dewasa ini. Ibu saya berpendapat adalah “sebuah kesalahan” ketika peringatan Hari Kartini selalu dilakukan dengan menyelenggarakan acara-acara semacam kontes kecantikan, kontes memakai kebaya yang bagus, lomba memasak, memakai sanggul atau kontes bersolek agar terlihat cantik. Disitu, persepsi mengenai Kartini agaknya sudah melenceng jauh dari visi Kartini sendiri. Saya jadi mulai berpikir, agaknya benar mungkin yang dikatakan ibu.

 

Saya simpulkan begitu, lantaran Kartini dahulu merupakan seorang wanita kritis dengan semangat keingintahuan yang menggebu dan keinginan untuk memberontak dari tradisi yang feodalistis. Namun, kini justru Kartini digambarkan sebagai seorang perempuan lemah lembut, pasrah-nrimo, “putri solo” dengan unggah-ungguh khas keraton atau dengan riasan yang wah cantik. Kalau kata orang-orang, yang begitu adalah ”perempuan yang seutuhnya”. Kontradiktif sekali.

 

Dalam surat-suratnya kepada sahabatnya di Eropa kita akan menemukan gagasan-gagasan Kartini yang cenderung radikal dan memberontak tradisi yang mengungkungnya. Kartini memprotes tradisi unggah-ungguh yang membuatnya tidak terlalu akrab dengan saudaranya sendiri. Ia lantas melarang adik-adiknya untuk menyembahnya ketika lewat, bercakap tanpa memakai bahasa kromo-inggil, memakai “kamu” untuk memanggilnya.

Dalam suratnya kepada Estella H. Zeehandelaar—seorang feminis Belanda–tertanggal 18 Agustus 1899 ia menuturkan: …Berdiri bulu kuduk, bila kita berada dalam lingkungan keluarga Bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang lain yang lebih tinggi derajatnya haruslah perlahan-lahan, jalannya langkah-langkah pendek-pendek, gerakannya lambat-lambat seperti siput. Bila berjalan cepat dicaci orang, disebut sebagai kuda liar. Peduli apa aku dengan segala tata cara itu… Segala peraturan itu buatan manusia dan menyiksa diriku saja. Kamu tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket keningratan di dunia Jawa itu.

 

Ketidaksetujuannya terhadap kelas sosial yang ada dituliskannya pula (yang padahal Kartini sendiri adalah seorang yang terlahir dari keluarga bangsawan). Begini ujar Kartini: bagi saya hanya dua macam kebangsawanan: bangsawan jiwa dan budi. Pada pikiran saya, tidak ada yang lebih gila, lebih bodoh, daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut ‘keturunan bangsawan’ itu. Di manakah gerangan letak jasa orang bergelar graaf atau baron? Pikiran saya yang picik, tidak sampai untuk memikirkan hal itu. Soalan ini sangat kontras sekali dengan apa yang kita simak sekarang, penggambaran Kartini dengan kebaya cantiknya terlanjur melekat dalam benak masyarakat kita.

 

Persepsi mengenai Kartini yang seperti sekarang ini dimulai tatkala Soeharto berkuasa. Bagi Orde Baru, gerakan perempuan merupakan salah satu gerakan yang dapat mengancam stabilitas kekuasaan. Tentu saja bagi rezim, hal tersebut patut diwaspadai.

 

Di masa sebelumnya kita mengenal Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) sebagai salah satu organisasi perempuan yang memiliki hubungan erat dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Organisasi ini mempunyai kekuatan untuk menggerakkan massa bahkan untuk melakukan pemberontakan. Tahun 1957 saja, organisasi ini telah memiliki anggota lebih dari 650 ribu orang.

 

Bukan kebetulan Orde Baru sangat anti-sekali dengan organisasi perempuan, salah satunya karena Gerwani sendiri mengenalkan pemikiran-pemikiran Kartini yang cenderung militan lewat majalah Api Kartini. Orde Baru ketakutan dengan simbolisasi Kartini itu dapat memicu pembangkangan terhadap “tujuan nasional”. Dalam salah satu edisinya, majalah ini menuliskan:  Sesungguhnya gadis ideal yang dikehendaki Kartini sesuai dengan panggilan revolusi, seorang gadis yang tidak hanya dengan ciri perilaku nrimo ing pandum’ (menerima nasib), tetapi tangkas, berdiri tegak sejajar dengan para rekan laki-laki dalam segala bidang… semangat Kartini… selalu memberontak terhadap segala ketidakadilan, belenggu adat kolot serta derita kaum perempuan dan rakyat.

 

Untuk mencegah timbulnya gerakan perempuan seperti Gerwaninya PKI, rezim terus melakukan upaya pembatasan misalnya lewat “pengorganisasian resmi” dari pemerintah. Terbentuknya organisasi PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) misalnya adalah salah satu upaya pemerintah untuk menggembosi gerakan perempuan kala itu serta agar mudah dikendalikan.

 

Usaha lainnya ialah dengan merancang ulang persepsi di masyarakat, termasuk soal Kartini sebagai simbol gerakan perempuan. Hal itu perlu dilakukan. Pemikiran masyarakat mesti dulu diprogram agar sesuai dengan tujuan nasional ala penguasa. Kiranya kita mewarisi kontes-kontes yang sudah disebutkan di atas tadi dari masa ini.

 

Kita mungkin sudah familiar dengan narasi-narasi seputar Gerwani yang kejam sekali; menyayat-nyayat para Pahlawan Revolusi sambil telanjang dan menyanyikan lagu genjer-genjer. Perempuan yang berorganisasi itu kejam, amoral, sadis! Maka jadilah perempuan yang baik, tahu cara bikin kopi, cara masak yang enak. Mungkin begitu kurang-lebihnya yang ingin disampaikan rezim lewat propaganda kekejaman Gerwaninya itu.

 

Perempuan hanya bisa melakukan pekerjaan domestik tak usah urusi politik! Kita bisa lihat buktinya, hampir tidak ada peran perempuan dalam lingkup kekuasaan semasa Orde Baru. Kita hanya mengenal segelintir tokoh perempuan yang aktif misalnya Megawati Sukarnoputri.

 

Sebenarnya sungguh tidak ada yang salah sama sekali dengan unggah-ungguh perempuan keraton, tak ada yang salah dengan bersolek, bersanggul, memakai bedak tebal. Hanya saja berkaitan dengan cara memperingati Hari Kartini hal tersebut kiranya kurang cocok dengan visi Kartini sendiri, bahkan kontradiktif.

 

Perihal soal-soal diatas itu, saya belum berbincang lagi dengan ibu. Entah bagaimana pendapatnya mengenai hal tersebut. Tapi rasa-rasanya takkan jauh berbeda dengan opini saya, mungkin, wong ibulah yang mempengaruhi pemikiran saya pertama kali, tentu saja. Seperti Sukarno dengan Sarinahnya, saya cukup dengan ibu saja. (FAB)