MAA (Sastra Indonesia 2014) Ilustrasi: Wulan Sari
MAA (Sastra Indonesia 2014)
Ilustrasi: Wulan Sari

Memang ada saja yang menarik selain perempuan-perempuan muda yang bersolek pada upacara penerimaan murid baru. Pagi itu, sebelum nasi sempat ditanak oleh ibu-ibu rumah tangga, seorang pemuda berlari memecah udara. Pemuda itu nampak seperti bayang-bayang. Di belakangnya beberapa orang tanpa bayangan berlari mengejarnya.

Mulanya, orang-orang yang mengejar bayang-bayang itu hanya tiga orang. Tiga orang itu mulanya duduk di pos ronda menunggu pagi. Dua orang bermain kartu domino dengan beberapa uang lembar di tengahnya, yang satu berteriak senang yang satu berteriak kesal. Dengan memuji Tuhan, yang berteriak senang mengambil beberapa uang lembar itu, dan orang yang berteriak kesal merelakan beberapa uang lembar itu dimasukkan ke dalam saku celananya sambil menyebut setan. Sedang satu orang lagi meringkuk di ujung pos ronda. Menangis pelan sehabis ditolak cintanya oleh seorang gadis. Sebotol bir bintang dicampur kola berhasil membuat dirinya menjadi makhluk paling sedih di muka bumi. Sesekali ia melantunkan syair Benyamin.

Seorang yang berteriak kesal sehabis bermain kartu domino tadi menyeret langkahnya menuju pohon beringin besar, hendak buang air. Pada saat darurat, tempat apapun bisa menjadi tujuan akhir pembuangan air bagi laki-laki, termasuk pohon beringin yang katanya banyak jin penunggunya. Itu juga “katanya”. Bukankah banyak orang yang selalu bicara tanpa tahu apa yang dibicarakannya, pikir orang yang berteriak kesal sehabis bermain kartu domino. Badannya bergetar sebentar sehabis kencing yang kemudian bergetar lagi ketika melihat bayang-bayang hitam berlari dari kejauhan disinari lampu merkuri.

Bir bintang dicampur kola yang diteguk tadi pasti membuatnya bisa menghadirkan sebuah sosok yang tidak nyata, pikirnya. Sambil pura-pura tidak melihat, ia meyakinkan dirinya bahwa yang dilihatnya itu hanya sebagian kecil dari kerja sama antara otak dengan mata untuk menipu dirinya belaka. Dahinya mengernyit, bayang-bayang hitam itu berlari berbelok ke arah selatan menuju dirinya berada, di bawah pohon beringin. Setelah bayang-bayang hitam itu melewati dirinya sejauh empat buah motor bebek, barulah ia menyadari kalau bayang-bayang hitam itu menginjak tanah. Bayang-bayang itu manusia.

Satu kata sihir yang diteriakannya dengan keras begitu membangunkan beberapa orang dari tidurnya, menyadarkan dua temannya dari mabuk bir bintang dicampur kola. Satu kata sihir yang membuat suasana menjadi gempar, sekaligus memacu jantung berdegup kencang. Satu kata sihir yang wajib disusul suara pentungan. Satu kata sihir, Maling.

Orang yang terbangun berlari ke luar rumah menuju sumber suara. Orang yang kencing di bawah pohon beringin tadi mengaku melihat bayang-bayang hitam berlari melewatinya. Orang yang kencing di bawah pohon beringin tadi menunjuk ke arah selatan dengan jari yang belum dicuci, arah yang dituju bayang-bayang hitam tadi. Orang yang terbangun berlari ke arah selatan dipimpin oleh orang yang berteriak kesal sehabis bermain kartu domino.

Tukang sayur yang sedang menyiapkan barang dagangan sebelum ibu-ibu menyambar sambil bertukar kata pedas tentang tetangganya, ikut bergabung dengan rombongan. Tukang jamu yang pandai menipu, memprovokasi dengan bersemangat sampai air dalam mulutnya muncrat mengenai tukang bakmi yang masih menjajakan dagangannya dari malam hari. Tukang buah melirik pantat tukang beras yang montok. Begitulah para tukang ikut bergabung sebab letak pasar dadakan di jalan mawar yang berjarak dua belokan dari  pos ronda.

Pengangguran yang selalu bermain gitar sepanjang waktunya di ujung jalan ikut-ikutan meramaikan suasana. Daripada nganggur, pikir mereka kompak walaupun tidak bersamaan. Malah para pengangguran itulah yang nampak bersemangat ketimbang yang lain. Sebab inilah satu-satunya pekerjaan yang bisa dikerjakan. Meskipun mereka sebenarnya tidak tahu berlari untuk apa, atau mengejar apa. Yang penting ada kerjaan.

Orang yang mabuk bir bintang dicampur kola sambil menangis di pos ronda adalah yang paling bersemangat mengejar maling. Ia menikmati berlari dalam keadaan mabuk. Badan bergerak seenaknya dan kepala juga berputar seenaknya, seperti penari balet yang sedang berlari maraton. Apalagi badan yang sesekali oleng ke kiri dan ke kanan. Jantungnya berdegup kencang meyakinkan dirinya makhluk paling berani di dunia, seolah makhluk menyedihkan yang meringkuk di pos ronda tadi tidak pernah ada. Gadis yang membuatnya menangis akan mengakui dirinya kalau maling itu tertangkap olehnya, pikirnya.

Haji Koko menggeleng-gelengkan kepalanya melihat gerombolan orang berlarian mengejar maling sehabis pulang dari surau. Orang-orang lebih memilih berjamaah mengejar maling, ketimbang salat subuh berjamaah di surau. Pasti maling itu belum salat subuh, pikir Haji Koko sambil mengelus jenggot panjangnya.

Tukang bakmi sudah memikirkan pukulan apa saja yang akan dilayangkan pada si maling nanti. Tukang sayur sudah memutuskan tubuh bagian mana saja yang akan didaratkan pukulannya. Tukang beras sudah membawa timbangan untuk menghajar si maling. Tukang jamu sudah memikirkan untuk mengarak si maling keliling desa. Tukang buah sudah menghitung berapa kali kesempatan yang didapat untuk menyentuh pantat tukang beras yang montok di tengah kerumunan orang yang menghajar si maling nanti.

Berlarilah kerumunan itu ke arah selatan mengikuti jejak bayang-bayang hitam. Bayang-bayang hitam itu cepat larinya. Tapi tidak lebih cepat daripada larinya orang mabuk, apalagi sehabis ditolak seorang gadis. Jarak antara keduanya hanya sejauh dua motor bebek, sedangkan jarak dengan kerumunan di belakangnya sejauh lima mobil sedan. Dengan terkapan yang ganas, kaki bayang-bayang hitam itu berhasil dirubuhkan oleh dorongan keras tubuh orang yang mabuk. Kedua tubuh itu terjatuh menggetarkan tanah di sekitarnya. Orang yang mabuk memeluk tubuh bayang-bayang hitam erat-erat seolah memeluk seorang kekasih dan tak ingin melepaskannya. Bayang-bayang hitam memukul-mukul kecil tubuh orang yang mabuk, namun tak ada hasil.

Tibalah rombongan yang di belakang, mereka melingkari kedua orang yang sedang berpelukan itu.

“Tunggu! Saya bukan maling!” bela si bayang-bayang hitam.

“Tidak ada maling yang mengakui perbuatannya!” seru tukang bakmi.

“Sungguh! Saya bukan maling.”

“Kita hajar saja dia!” kata tukang jamu memprovokasi.

“Ayo kita pegang pantatnya!” seru tukang buah.

Tukang sayur sudah mengepalkan tanganya. Tukang bakmi memukul tangan satunya. Tukang beras mengangkat timbangannya tinggi-tinggi. Tukang buah mengelus-elus tangannya bersiap menyentuh pantat tukang beras.

“Sebentar, saudara-saudara” kata Pak RT yang entah datang kapan. Tak ada yang tahu kalau Pak RT juga ikutan berlari mengejar bayang-bayang hitam. “Saya mengenal orang ini!” Seru Pak RT mengagetkan sekaligus membingungkan.

“Maksud Pak RT, dia anak buah Pak RT?!” seru tukang jamu yang tidak henti-hentinya memprovokasi. Rombongan ribut tukar kata.

“Tenang saudara. Dia bukan maling! Iya kan, Eka” kata Pak RT mencoba menenangkan suasana.

“Ya” suara bayang-bayang hitam itu terdengar serak. Bayang-bayang hitam itu kini tak tampak seperti bayangan hitam lagi, melainkan sesosok pemuda berkumis tipis berambut kulimis dengan tahi lalat sebelah alis. Ia memang mengenakan pakaian serba hitam seolah seperti bayang-bayang hitam bila dilihat dari kejauhan.

“Lalu kenapa kamu berlari? Kalau maling pasti berlari karena ketakutan ditangkap warga, kan?” tanya tukang yang entah berjualan apa di jalan mawar.

“Saya hanya berolahraga.”

“Bohong! Masa’ subuh-subuh olahraga? Apalagi pakai baju serba hitam begitu.”

“Apakah salah kalau subuh-subuh berolahraga? Apakah salah saya berlari subuh-subuh mengenakan pakaian hitam? Kalian ini aneh. Kalian selalu menganggap salah apa yang tidak sesuai dengan pikiran kalian, tidak sesuai dengan prototip, tidak sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Terlebih lagi, kalian menuduh saya tanpa bukti. Apalagi orang-orang yang hanya taklid dan takmid dengan ucapan orang lain, ikut-ikutan saja. Saya kira orang-orang yang berlari di belakang saya juga sedang berolahraga, jadi saya tetap berlari hingga orang yang bau mulut ini menjatuhkan saya.” jelas pemuda bernama Eka tersebut.

Orang-orang dibuat tercengang oleh kata-kata Eka. Mereka mengakui kebenaran kata-kata yang dilontarkannya. Ada yang malu dengan perbuatannya, ada yang marah, ada juga yang biasa-biasa saja. Bubarlah orang-orang itu dengan sendirinya. Orang yang mabuk bir bintang tadi kecewa tidak jadi pahlawan di pagi itu. Tukang sayur kecewa tidak bisa melampiaskan amarahnya yang ditahan setiap kali mendengar ibu-ibu rumah tangga bergosip. Tukang jamu kecewa tidak bisa mempengaruhi orang-orang. Tukang buah kecewa tidak jadi menyentuh pantat tukang beras. Yang senang hanya para penganggur. Mereka setidaknya punya kerjaan meskipun tidak jelas apa. Meskipun mereka harus menganggur lagi kini dan bermain gitar di ujung jalan sepanjang waktunya.

Dengan bantuan Pak RT, Eka mencoba berdiri dengan kakinya sendiri. Kalau saja tak ada Pak RT, dirinya sudah jadi adonan yang rata dipukul-pukul tukang martabak. Eka pulang ke rumahnya, rumah merah nomor lima belas di ujung gang melati, tak jadi melanjutkan lari pagi atau lari subuh atau apapun itu sebutannya. Toh orang berhak menyebutnya apa saja.