YUK MAMPIR KE BUKITTINGGI!

Suasana di pusat kota Bukittinggi, Jam Gadang
Suasana di pusat kota Bukittinggi, Jam Gadang (foto: mbul)

Mendengar kata Bukittinggi, mungkin yang langsung terlintas di benak kita adalah sebuah kota wisata dengan bangunan khas ikonik bernama Jam Gadang. Sesuai dengan namanya, Bukittinggi memang terletak di dataran tinggi yang menyebabkan suhu kota ini sangat sejuk. Kota kelahiran Bung Hatta ini memang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Mulai dari budaya minang yang kental, hingga kuliner khas Bukittinggi.Berikut beberapa hal tentang kota Bukittinggi yang menarik untuk diketahui:

1. Tiga Atap Jam Gadang
Jam Gadang dibangun pada masa penjajahan Belanda pada tahun 1928 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris kota) Rook Maker. Peletakan batu pertama Jam Gadang ini dilakukan oleh putra Rook Maker yang berusia 6 tahun. Bahan baku untuk pembangunan Jam Gadang ini pun terbilang unik, yaitu dari putih telur. Angka romawi menghiasi penampilan Jam Gadang di keempat sisinya. Namun, angka empat dalam romawi yang seharusnya ditulis “IV” justru dibuat dengan empat angka “I” yang berderet. Masih menjadi misteri kenapa hal tersebut terjadi dan terdapat banyak spekulasi yang menjelaskan tentangnya.
Atap Jam Gadang pun ikut berubah seiring berjalannya waktu. Pada masa penjajahan Belanda, atap Jam Gadang berbentuk bulat dengan sebuah patung ayam jantan. Sedangkan pada masa penjajahan Jepang, atap Jam Gadang diganti menjadi berbentuk klenteng. Hingga akhirnya, setelah kemerdekaan atap Jam Gadang diganti menjadi bagonjong atau rumah adat Minang Kabau seperti yang kita ketahui saat ini.

2. Patahan Semangka.
Kota Bukittinggi terletak di antara lempengan-lempengan tektonik yang menyebabkan daerah ini rawan gempa bumi. Terdapat satu sebutan, yaitu “Patahan Cimangko” atau Patahan Semangka yang merupakan pembelahan dua tebing hingga terciptanya Ngarai Sianok. Ngarai Sianok merupakan tempat yang menyimpan berbagai keindahan flora dan fauna di dalamnya yang dapat dilihat dari taman panorama yang terletak di atasnya. Meskipun sebagian tebing runtuh dan sempat ditutup selama beberapa waktu karena gempa besar pada tahun 2004 lalu, Ngarai Sianok mampu mempertahankan keindahannya dengan flora dan fauna yang masih dijaga kelestariannya oleh masyarakat sekitar. Apabila berkunjung ke Taman Panorama Ngarai Sianok, kita akan dihampiri oleh monyet-monyet liar yang hidup di ngarai tersebut. Meskipun lucu, pengunjung harus berhati-hati karena terkadang monyet-monyet ini suka merebut makanan pengunjung. Patahan Cimangko sendiri hingga kini masih menjadi ciri khas Ngarai Sianok yang memisahkan Bukittinggi dengan daerah sekitarnya. Di dalam patahan tersebut, terdapat aliran sungai-sungai kecil yang juga sering dipenuhi pengunjung yang ingin berenang atau hanya sekadar bermain air. Hutan-hutan lebat yang mengelilingi patahan tersebut masih menjadi pesona tersendiri bagi para pecinta alam yang mengeksplorasi flora-fauna Nagari Minang.

3. Nasi Kapau
Nasi kapau sedikit berbeda dari nasi padang yang sering kali kita nikmati. Masakan yang dinamai sesuai dengan daerah asalnya ini, memiliki kekhasan tersendiri. Di pusat kota Bukittinggi, tepatnya di area pasar atas, terdapat sebuah lokasi khusus yang menyediakan ragam masakan kapau. Tempat ini dikenal masyarakat sebagai “Los Lambuang” (los lambung), dinamakan sesuai dengan fungsinya, yaitu tempat untuk mengisi perut. Belasan pedagang di los lambung menyediakan masakan khas, mulai dari gulai kapau hingga gulai usus sapi yang disebut tambunsu. Setiap hari, apalagi pada jam makan siang, los lambung dipenuhi oleh pengunjung yang ingin merasakan masakan yang tentunya sedap. Dengan porsi super besar, satu bungkus nasi kapau bisa dinikmati oleh dua sampai tiga orang. Seperti masakan padang lainnya, nasi kapau juga kaya akan rempah-rempah dan santan. Namun, masakan kapau ini mengandung lebih banyak santan kental. Perbedaan lainnya, tambunsu yang biasanya diisi dengan campuran tahu dan telur, kini diisi dengan telur ditambah rempah-rempah yang menambah kenikmatan rasanya.

3. Kampung Cina
Rasanya tidak aneh kalau setiap kota di Indonesia bahkan di dunia memiliki sebuah daerah berpenduduk keturunan Tiongkok yang sering disebut Kampung Cina atau Pecinan. Namun, di Kampung Cina versi Bukittinggi ini, selain merupakan tempat aglomerasi kelompok warga keturunan Tiongkok, juga merupakan pusat Cafe dan tempat singgah para turis asing. Cafe yang berjejer di sepanjang Jalan Ahmad Yani ini menawarkan suasana Bukittinggi yang tidak terlalu bising, meskipun berada dekat dengan pusat kota. Bagi turis, lokasi Kampung Cina ini memang strategis. Selain dekat dengan berbagai tujuan wisata, terdapat pula berbagai penginapan murah untuk backpacker. Karena itu, apabila berjalan-jalan di daerah ini, tidak jarang kita akan sering berpapasan dengan turis asing yang berkunjung ke Bukittinggi.

Masih banyak hal-hal menarik tentang Bukittinggi yang akan membuat kamu berdecak kagum. Meskipun hanya seluas 25 km persegi, kota kecil ini mampu menyedot perhatian jutaan manusia dengan pesonanya. Oleh karena itu, bagi yang belum pernah menginjakkan kaki di ranah minang ini, jangan lupa masukkan Kota Bukittinggi ke wish list-mu. Dan bagi yang berkeinginan untuk kembali kesini, jangan ragu-ragu lagi. (mbul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *