DIBALIK ARUS MUDIK YANG PELIK

 

Pemudik yang melintas di jalan Cilamaya Wetan, Karawang. Foto: Nj
Pemudik yang melintas di jalan Cilamaya Wetan, Karawang.
Foto: Nj

Mudik merupakan suatu kegiatan yang sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia yang pada umumnya dilakukan beberapa hari sebelum hari lebaran tiba. Kata mudik sendiri berasal dari kata “udik” yang berarti kampung, sehingga mudik diartikan sebagai kembali ke kampung halaman. Alasan utama dari orang yang melakukan mudik (pemudik), tentunya untuk bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman pada hari raya lebaran, mengingat hari lebaran merupakan momen terbaik untuk menjalin silaturahmi dan berkumpul bersama sanak saudara.

Memang tidak mudah melakukan mudik di bulan ramadan terlebih jika menggunakan kendaraan pribadi, selain harus memperhatikan kondisi kendaraan, kondisi fisik dan mental pemudik pun harus tidak luput dari perhatian. Karena kerasnya pacuan pemudik sering kali mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. Untuk itu sangat diperlukan adanya kesiapan fisik dan mental dalam melakukan perjalanan mudik. Keselamatan tetap harus menjadi prioritas utama bagi pemudik.

Beberapa hari menjelang lebaran, sebagian besar pemudik melintasi jalur utara dan jalur selatan pulau Jawa. Di sepanjang jalur yang dilalui arus mudik terdapat banyak posko pengamanan arus mudik lebaran. Mulai dari posko polisi hingga posko kesehatan banyak didirikan di sepanjang jalur perlintasan arus mudik. Namun tahukah Anda selain aparat negara dan tim medis yang disiagakan, ternyata ada juga relawan muda yang turut berkontribusi dalam melakukan pengamanan arus mudik lebaran.

Bagi Anda yang mudik melintasi jalur Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, tentunya Anda akan melewati posko PMI yang didirikan di jalan Tanjung Pasir. Menariknya, posko yang didirikan sejak Rabu lalu ini didominasi oleh pelajar SLTA. Pelajar yang tergabung dalam relawan dan PMI ini secara suka rela ikut serta dalam pengamanan arus mudik lebaran. Mereka ditugaskan untuk melakukan pertolongan pertama pada korban kecelakaan atau pemudik yang sakit, sebelum dirujuk ke Rumah Sakit jika korban parah.

Anggota PMI sedang melakukan pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas. Foto: Nj
Anggota PMI sedang melakukan pertolongan pertama pada korban kecelakaan lalu lintas.
Foto: Nj

Apakah Anda meragukan kemampuan para pelajar ini dalam melakukan pertolongan pertama? Jangan khawatir, karena PMR (Palang Merah Remaja) dan TSR (Tenaga Suka Rela) di posko PMI ini telah melakukan persiapan dan berbagai pelatihan sebelum diturunkan ke lapangan untuk bertugas. Selain melakukan pelatihan P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan), persiapan fisik dan mental pun lebih diutamakan.

“Persiapan fisik dan mental sangat diutamakan, mengingat situasi dan cuaca yang akan dihadapi, disinilah tantangan untuk menjaga badan agar tetap fit. Selain itu juga harus mempersiapkan mental yang baik agar saat terjadi kecelakaan tidak panik dalam melakukan pertolongan.” Ujar Raswan Setiawan, selaku penanggungjawab saat ditemui reporter Pena Budaya di posko PMI hari Sabtu lalu.

Saat terjadi kecelakaan lalu lintas, mereka akan langsung berlari ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk memberikan pertolongan pertama pada korban kecelakaan yang pada umumnya dialami pemudik. Kemudian korban dibawa ke posko untuk diistirahatkan. Namun jika korban dalam kondisi parah, PMI akan langsung menghubungi ambulan Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat untuk selanjutnya dirujuk ke UGD. Sebagian dari mereka ada yang melakukan pendataan dan dokumentasi sebagai laporan yang nantinya akan diserahkan kepada PMI Ranting, PMI Kabupaten, hingga PMI Pusat.

Tim yang bertugas dibagi ke dalam dua shift sesuai dengan jadwal yang telah disepakati. Shift pagi dimulai dari pukul 07.30-17.00 WIB dan shift malam mulai pukul 17.00-07.30 WIB. Pada waktu sore hari tiba, sebagian pelajar ini memulai piket masak untuk menyiapkan hidangan berbuka puasa. Dengan mengandalkan bahan makanan seadanya yang dibawa dari rumah masing-masing, tampaknya mereka menikmati berbuka puasa dengan indahnya kesederhanaan dalam kebersamaan ditengah tugas yang mulia.

Meskipun tidak digaji, secara suka rela mereka bertugas dibawah terik panas matahari dan dinginnya terpaan angin malam. Jika pada umumnya pelajar yang tengah berpuasa dan libur sekolah lebih sering menghabiskan waktu beristirahat di rumah atau bermain, tapi tidak untuk para pelajar di posko ini. Mereka sangat bersemangat dalam menjalankan tugas pengamanan arus mudik lebaran ini.

Seperti Yaya Tarbiyah, siswi SMK Iptek Cilamaya Wetan ini mengungkapkan alasan ikut bergabung di posko PMI adalah untuk menambah wawasan dan pengalaman, serta memperbanyak teman. Dengan memiliki pengalaman di Ekskul PMR, ini adalah tahun kedua bagi Yaya dalam ikut serta melakukan pengamanan arus mudik di posko ini. Cuaca panas dan dingin sudah tidak lagi menjadi kendala baginya. Tapi justru kendala itu muncul dari izin orang tua. Menurutnya, ia tidak diizinkan melakukan kegiatan di malam hari. Namun hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk berkontribusi dalam melakukan pertolongan pertama pada pemudik yang membutuhkan pertolongan. Karena Yaya masih bisa mengambil shift pagi dalam melakukan tugasnya.

Para pelajar ini juga mengaku ada banyak hal yang diperoleh selama ikut serta dalam pengamanan arus mudik lebaran ini. Selain dilatih untuk selalu siap siaga dan keterampilan dalam melakukan pertolongan pertama, tentunya para pelajar ini juga secara langsung dapat berinteraksi dengan masyarakat.

Ternyata ada banyak hal positif yang bisa diraih dalam mengikuti kegiatan relawan dan kegiatan kemanusiaan, seperti pengamanan arus mudik lebaran ini. Di balik kerasnya pacuan arus mudik, ternyata banyak anak muda bangsa yang peduli terhadap keselamatan pemudik. Untuk itu, mari kita utamakan keselamatan dalam melakukan perjalanan mudik. Mudik aman, lebaran lancar.(FSR/Nj)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *