Karya: Kenji Watanabe Ilustrasi: NA
Karya: Kenji Watanabe
Ilustrasi: NA

Tanpa melepaskan realita kemarin dan hari ini maupun segala momen yang telah sirna di kejauhan
Ku’kan menahan segalanya dengan pasti
Mimpi yang bagaikan terselebung kabut
Tak’kan pernah kulepaskan lagi
Karena masa kini terus saja jatuh tertumpah dan meluap

Mengapa gerangan untaian kata sederhana terdengar seolah-olah memiliki makna?
Bergema begitu jauh hingga ke dalam lubuk hati ini melukis ulang diriku dengan goresan yang tegas

Tetap diam membisu, waktu yang penuh dengan keheningan
Musim yang kubenci pun akan segera berganti
Namun aku terlanjur terbelenggu di dalamnya hingga akhirnya, terlihat begitu menyilaukan
Kucoba mengingat kembali, peristiwa-peristiwa yang terjadi kini

Momen-momen luar biasa yang saling menyatu
Membuat ekspresi yang kaku menjadi lembut
Kucoba untuk tegar, namun aku tak bisa
Kucoba mengingat kembali, rasa ini

Di tengah keseharian kita yang mengering, musik terus mengalir bagaikan merasuk ke dalam jiwa hingga hari musim semi datang mewarnai
Sekarang kupandangi langit dan rasa ini yang akan terus berubah tanpa menyadari  tawa dan air mata yang saling berselisih

Sambil basah kuyub  di hari hujan transparan, di tengah riuh hiruk pikuk dan hari-hari ini juga pemandangan kota yang sirna di kejauhan
Janganlah sirna di langit yang kupandangi ini
Ku’kan memikirkannya masa ini lagi
kala musim sakura kembali mekar bersemi

Selamat tinggal hari-hariku yang telah hilang
Kebohongan yang terucap adalah airmata yang tak’kan sirna
Kukumpulkan kembali kata-kata yang kujatuhkan dan terus melangkah ‘kan?
Kembali melangkah ‘kan?

Kita sudah mengikhlaskan segala yang telah hilang tak mengharapkan apapun lagi, ‘kan?