Ilustrasi: Hana H Editor: Abdulrizaalll

Ilustrasi: Hana H
Editor: abdulrizaalll

“Eh, by the way lu kuliah di jurusan apa sekarang?”

“Di Sastra Arab. Emang kenapa?”

“Widiiih, barokah banget sih jurusannya. Kayaknya terobsesi pengen banget jadi ustadz atau pendakwah gitu ya?”

“Ah, gak juga. Bisa aja lu”

Mungkin Anda pernah menemui percakapan yang kurang lebih seperti itu. Atau mungkin ini adalah pengalaman pribadi. Khususnya di Indonesia, sudah tak asing lagi dengan stereotip bahwa ‘hal yang serba Arab sudah pasti Islam’. Sehingga bila menemui orang yang mempelajari hal serba Arab termasuk sastranya, secara alamiah akan muncul anggapan bahwa orang tersebut pasti sangat religius. Terlebih universitas dengan jurusan Sastra Arab sudah sangat banyak di Indonesia. Serta di antara sembilan jurusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, salah satu di antaranya adalah Sastra Arab. Meskipun saling memengaruhi, baik Sastra Arab maupun ajaran Islam merupakan unsur yang berbeda.

Oleh karena melihat dari Al-Qur’an dan Sunnah yang berbahasa Arab, banyak orang yang salah kaprah mengaitkan Sastra Arab sebagai Sastra Islam. Padahal tak semua kesusastraan Arab bernapaskan Islam. Sebenarnya, Sastra Islam memiliki tempatnya tersendiri dengan unsur ajaran Islam yang bertujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dengan kata lain, Sastra Islam digunakan sebagai salah satu media dakwah, atau pun hal lain yang berkaitan dengan keagamaan. Berbeda halnya dengan Sastra Arab yang lebih universal dengan aliran yang beragam.

Mahasiswa Sastra Arab kerap kali dianggap sebagai orang yang begitu Islami dengan keilmuannya, serta selalu dianggap orang yang mengerti banyak tentang ajaran Agama Islam. Meskipun sebagian besar dari mereka merupakan lulusan pesantren, namun kita tak bisa langsung mencap bahwa jurusan Sastra Arab itu mahasiswanya “Islam banget”, sehingga terkesan eksklusif hanya untuk mahasiswa Muslim saja. Padahal, sebenarnya tidak demikian. Walaupun memang jika dilihat dari penampilannya, mahasiswa Sasta Arab lebih sering atau bisa dibilang selalu berpenampilan dengan budaya Timur Tengah yang selalu rapih dan tertutup. Seperti kata pepatah “don’t judge by it’s cover”, kita tak bisa langsung menilai bahwa mahasiswa Sastra Arab hanya termotivasi dan tertarik karena ajaran Islam saja. Pada kenyataannya di antara mereka banyak juga yang murni tertarik dengan budaya dan kesusastraannya yang secara historis sudah muncul sebelum adanya ajaran Islam.

Dalam Sastra Arab pula, hal yang dipelajari tidak hanya tentang pengaruh ajaran Islam dalam kesusastraannya saja. Para pembelajar Sastra Arab diharuskan untuk menghafal Jurumiyyah, Imrithy, ataupun Alfiyah. Sekali lagi, jangan mengaitkan istilah tersebut dengan potongan doa-doa dalam Al Qur’an, karena itu murni istilah keilmuan saja. Selain kaidah bahasa, unsur lain seperti filsafat, sosial, politik, sejarah, keadaan geografis, dan kebudayaan Arab pun wajib dikuasai oleh para mahasiswanya. Karena bagi mahasiswa Sastra Arab, mempelajari segala yang berkaitan dengan Arab merupakan suatu kebutuhan yang tak terpisahkan dari kehidupan studi mereka. Sastra Arab juga mempunyai bidang atau tendesi seperti linguistik, Sastra, penerjemahan, dan kebudayaan. Tak berbeda jauh dengan jurusan Sastra yang lain bukan?

Cecep Taufik, mahasiswa Sastra Arab angkatan 2014, mengakui bahwa motivasinya mempelajari Sastra Timur Tengah tersebut karena tertarik dengan kaidah kebahasaannya. Unsur-unsur yang dipelajari selama berkutat di Sastra Arab cenderung mengarah pada kaidah dan keindahan bahasanya, dan tentu saja tak memperdalam agama Islam secara khusus. Menurutnya, ajaran Islam hanya sebatas pengaruh pada kesusastraan saja. Ketika ditanya soal stereotip mahasiswa Sastra Arab di lingkungannya, ia mengakui bahwa ada beberapa celotehan ringan dari teman-teman di luar lingkup jurusannya yang kerap mengaitkan kebiasaan mahasiswa Sastra Arab dengan unsur keagamaan. “Kata mereka sih, di Sastra Arab tuh salaman sama lawan jenis aja enggak boleh sampe sentuhan. Padahal kenyataannya boleh-boleh aja kok”, ungkapnya. Hal tersebut membuktikan bahwa mahasiswa Sastra Arab memang tak berbeda jauh dengan mahasiswa sastra lainnya, rutinitas perkuliahan mereka tak sepenuhnya terpengaruh oleh stereotip agamis yang selalu melekat pada mereka.

Perlu diketahui bahwa ilmu yang berkaitan dengan Sastra tidak tertutup hanya untuk umat agama atau bangsa tertentu saja. Selama ini tak pernah ada anggapan bahwa orang yang mempelajari Sastra Eropa yang kental dengan pengaruh Kristen pasti memeluk Agama Kristen, atau pembelajar Sastra Asia Timur pasti menganut ajaran Buddha atau Konfusianisme. Namun, mengapa anggapan tersebut seolah tak berlaku untuk Sastra Arab? Padahal tentu ada orang-orang di luar sana yang tertarik mempelajari bahasa dan Sastra Arab meskipun bukan bagian dari umat Muslim.

Sebenarnya tidak salah ketika banyak yang menyalahartikan Sastra Arab sebagai Sastra Islam, mengingat kitab suci umat Muslim merupakan salah satu sumbangsih terbesar dalam sejarah perkembangan Sastra Arab. Indonesia pula sudah menjadi negara dengan pemeluk ajaran Islam terbanyak di dunia. Mahasiswa Sastra Arab yang tidak “Islam banget” mengaku tidak masalah dengan stereotip yang berlaku di masyarakat atau pun di kalangan mahasiswa sekalipun. Hal itu memang sudah biasa, karena sudah sewajarnya anggapan itu terjadi. Namun, hanya saja perlu diketahui di Sastra Arab tidak belajar keseluruhan tentang Islam. Begitulah, sangat sederhana bukan? (KAI)