IPK: Antara Mitos dan Realitas

Ilustrasi: Hana H
Ilustrasi: Hana H

Sejak lama, banyak diantara kita yang selalu mempermasalahkan IPK. Baik itu secara langsung maupun tidak. Indeks Prestasi Kumulatif atau disingkat IPK ialah hasil penilaian capaian pembelajaran lulusan pada akhir Program Studi yang dinyatakan dalam besaran yang dihitung dengan cara menjumlahkan perkalian. Perkalian tersebut antara nilai huruf setiap mata kuliah yang ditempuh dan SKS (Sistem Kredit Semester) mata kuliah bersangkutan dibagi dengan jumlah SKS mata kuliah yang diambil.

Sekarang yang menjadi bahan perbincangan adalah apakah IPK tinggi itu mudah didapatkan begitu saja atau tidak? Sebagian mahasiswa berpendapat bahwa IPK tinggi itu sangat mudah sekali didapatkan, terlebih di kampus kita Unpad. Kampus yang terbilang sangat mudah mendapatkan IPK tinggi. Namun, itu hanya sebagian pendapat orang saja. Mendapatkan IPK tinggi bukan merupakan hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Benar begitu, bukan? Karena pada dasarnya mahasiswa berpendapat untuk mendapatkan IPK tinggi itu seperti membalikkan hujan ke langit, sangat sulit. Nah, ini baru perumpamaan yang cocok.

Universitas Padjadjaran, salah satu PTN favorit di Indonesia pastinya memiliki indeks penilaian yang sangat tinggi, oleh karena itu tidak mudah untuk mendapatkan IPK yang tinggi. Sebagian besar dosen merupakan lulusan universitas ternama dalam ataupun luar negeri, sehingga mereka memiliki standar kualifikasi penilaian yang luar biasa. Selain itu, persaingan yang ketat pun akan semakin mempersulit mahasiswa untuk mendapatkan IPK yang tinggi. Seperti kita ketahui jalur masuk ke Unpad pun sangat banyak dan selektif. Sudah tentu orang yang masuk pun bukan orang-orang yang biasa saja, itu pun menjadi faktor tidak mudahnya mahasiswa untuk mendapatkan IPK tinggi di Unpad.

Lalu, bagaimana beberapa orang yang dengan mudahnya mendapatkan IPK yang tinggi begitu saja? Sudah jelas mereka berusaha dengan maksimal. Baik itu belajar dengan giat, selalu hadir setiap saat, aktif dan dekat dengan dosen. Jadi sudah jelas dapat dipatahkan bahwa mitos yang berkembang dikalangan mahasiswa Unpad, jika di universitas kita ini, mahasiswa akan mudah mendapatkan IPK tinggi.

IPK sebagai hasil penilaian capaian pembelajaran lulusan pada akhir Program Studi telah diatur dan menjadi pedoman akademik di setiap univeristas. Namun faktanya, penilaian yang dilakukan dalam proses pembelajaran yang akhirnya menghasilkan IPK tersebut adalah unsur yang paling lemah dalam proses perkuliahan. Perencanaan dan pelaksanaan perkuliahan telah berjalan efektif, tetapi sering kali tidak diikuti efektivitas penilaian. Sekalipun peraturan, pedoman dan Standar Operasional Prosedur (SOP) akademik sudah dibuat untuk diikuti. Tetap saja dalam praktiknya cara penilaian dalam proses perkuliahan dilakukan tidak sama.

Jangankan antarperguruan tinggi, antarfakultas, dan antarprogram studi. Antara satu dosen dengan dosen lainnya di satu program studi seringkali ditemukan cara penilaian yang berbeda. Ada dosen yang pelit dalam memberikan penilaian, sebaliknya ada pula dosen yang suka mengobral nilai, terutama dosen yang malas melaksanakan tugas mengajarnya sebagai modus menutup kekurangannya atau menghindari dirinya dari kritik atau protes mahasiswanya, dan tidak jarang penilaian dipengaruhi persepsi keliru dosen terhadap mahasiswanya. Misalnya jika seorang dosen awalnya sudah senang dan berpikir positif terhadap salah satu mahasiswa, maka mahasiswa tersebut selalu positif dalam pikiran dan keyakinannya, demikian sebaliknya. Serta ada pula dosen yang memberikan nilai tidak sesuai dengan perkiraan, atau bisa dibilang dosen random. Mahasiswa pun tidak mengerti indeks penilaian apa yang dosen tersebut titik beratkan. Pernah ada suatu kejadian, mahasiswa dengan rajinnya selalu mengerjakan tugas, aktif di kelas, serta pandai, hanya mendapatkan predikat IPK ‘B’. Sebaliknya, mahasiswa yang tidak aktif sama sekali, justru mendapat IPK dengan predikat ‘A’.

Namun, diluar itu semua IPK bukanlah segalanya. Fakta membuktikan bahwa di dunia kerja ada beberapa faktor yang menyebabkan setiap orang bisa sukses menjalankan pekerjaannya, seperti: leadership, communication skill, sales skill, conflict management skill, teamwork, attitude dan kemampuan membawa diri, kejujuran, kemampuan membangun network dan pertemanan, presentation skill, serta Project Management Skill. Itu semua jauh dibutuhkan di dunia kerja nantinya.

Realitasnya di dunia, suatu perusahaan selalu mencari seseorang dengan keterampilan dan pengalaman yang terampil. Karena itu, pengalaman akan memberi kita bekal ketika memasuki dunia kerja. Terlebih lagi, saat ini banyak perusahaan mensyaratkan nilai IPK minimal 3,0 bagi mereka yang akan melamar pekerjaan. Satu hal yang perlu kita ingat, penting untuk mencantumkan nilai IPK dalam Curriculum Vitae (CV). Sering kali, pihak perusahaan akan berasumsi bahwa jika kita tidak mencantumkan nilai IPK, mungkin saja di bawah 3,0. Namun, jika IPK masih belum tinggi atau jatuh sedikit, jangan putus asa, kita masih bisa memperbaikinya.

Pada akhirnya, kita memang tidak perlu menjadi seseorang yang jenius untuk menggapai sukses. Bahkan, mahasiswa yang biasa-biasa saja juga bisa mendapatkan pekerjaan impian mereka. Tetapi, sekali lagi, kunci sukses dimulai dari kampus dengan bekerja keras dan tekun.

Selama IPK masih menjadi tanda tanya antara mitos dan realitas, maka usaha meningkatkan efektifitas proses perkuliahan, seperti kualitas pembelajaran di universitas harus terjaga dengan baik dan berjalan efektif. Jika walaupun nantinya IPK menjadi persyaratan dalam rekrutmen kerja, maka cukup sebatas persyaratan administratif semata, kemudian kelulusan rekrutmen tersebut disempurnakan melalui seleksi yang lebih selektif dan objektif. Karena IPK bukan segala-galanya.(MR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *