Sebuah Pesan dari Mereka yang Direndahkan

HighwayClean_2_2014
Foto: www.sitzmark.org

Sabtu pagi ini (2/4), saya berkesempatan meliput kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Padjadjaran (Unpad). Kegiatan itu sendiri ditujukan pada civitas Unpad dengan sasaran utamanya ialah petugas Kebersihan, Kerapian, dan Kenyamanan Lingkungan (K3L) dan petugas keamanan (lazimnya disebut satpam) yang berada di lingkungan Unpad.

Awalnya, saya agak ragu-ragu harus mewawancari petugas K3L yang mana. Takut kalau mereka tak mau diajak bicara. Akhirnya saya duduk di antrean pemeriksaan gula darah dan memulai pembicaraan bersama salah seorang ibu petugas K3L yang berusia sekitar 30 tahunan. Niat saya hanya mewawancarai satu orang ibu ini saja. Tapi ternyata, ketika sedang asyik mengobrol, ibu-ibu lain yang mendengarkan ikut bergabung hingga obrolan itu lebih tepat disebut ajang curhat daripada wawancara.

Pada kesempatan tersebut, saya menanyakan bagaimana perilaku mahasiswa dalam menyikapi sampah: apakah sudah mulai membuang sampah pada tempatnya atau malah sebaliknya, masih sembarangan? Namun, jawaban ibu-ibu ini lari ke mana-mana hingga akhirnya membuat saya merasa tersindir sekali dan merasa bersalah atas jawaban yang dilontarkannya.

“Waktu itu saya sama yang lain lagi istirahat, Neng. Saya makan siang ngeleseh (lesehan), saya simpan air minum di dekat tempat saya duduk. Eh, tiba-tiba ada mahasiswa lewat dan membuat air minum saya kejatoh (tersenggol) olehnya. Itu si mahasiswa nggak minta maaf, malah jalan terus.”

“Seringnya itu, kita lagi nyapu. Itu yang bilang ‘Punten, Bu.’ atau ‘Permisi, Bu.’ atau ‘Numpang lewat ya, Bu,’ itu nggak seberapa. Kadang cuma satu dua saja. Masih terhitung jari, lah. Heran saja, Neng, mahasiswa kok perilakunya begitu. Apa susah hanya sekadar bilang punten? Sopan santunnya itu terkadang agak gimana gitu. Padahal mereka mahasiswa. Kita juga tahu kok, kita hanya K3L. Tapi setidaknya dihargai juga atuh.

“Kalau sampah mah masih dibuang sembarangan, Neng. Yah, sepertinya tahu kalau ada kita yang bakal membersihkannya. Jadi seolah sengaja dibuang begitu saja.”

Saya kehilangan kata-kata mendengar pernyataan demikian. Sedih sekaligus malu karena yang menjadi objek pembicaraan adalah mahasiswa, teman-teman seperjuangan saya. Saya ingin menyampaikan pesan dari mereka yang seringkali direndahkan ini. Tak semua orang mau dan mampu bekerja menjadi K3L yang sehari-hari berkubang dengan segala yang kotor.

Beruntungnya, masih ada segelintir manusia yang mengikhlaskan dirinya menjadi petugas K3L. Semestinya, hal yang kita berikan kepada mereka ialah apresiasi, bukan sikap merendahkan dan tak menghargai. Bayangkan saja kalau tak ada satupun di dunia ini yang mau mengambil kontribusi sebagai K3L, maka akan menjadi seperti apa lingkungan kita? Apa mahasiswa mau menyapu dedaunan dan sampah di kampus yang begitu luas ini?

Saya kira sekadar mengatakan ‘Punten‘ atau ‘Permisi’ saat ada K3L yang menyapu bukanlah hal yang sulit. “Ah malas. Omong permisi juga kadang tidak ditanggapi. K3L-nya hanya diam saja.” Mungkin ada yang beralasan demikian. Lalu apa? Apa perlunya permisi kita ditanggapi atau tidak? Bukankah hal itu hanya sebuah kata yang tak memerlukan jawaban, balasan, atau apapun itu? Permisi adalah bentuk sopan santun yang bahkan sejak kecil kita sudah diajarkan mengucapkannya. Tak peduli ditanggapi atau tidak, bukan?

Toh ketika kita ada di tempat publik lain, di mal misalnya. Kemudian ada orang yang menghalangi jalan kita, kita akan mengatakan ‘permisi’, tanpa peduli si orang itu merespon atau tidak. Jadi, bedanya di mana? Nah?!

Soal membuang sampah sembarangan dengan sengaja juga demikian. Orang-orang mungkin juga berdalih, “Ya, mereka kan sudah digaji untuk tugas itu. Kalau kita buang sampah di tempatnya, mereka berarti makan gaji buta, dong?” Duh, saya heran dengan teman-teman mahasiswa yang berpendapat demikian.

Membuang sampah pada tempatnya itu bukan soal ada yang membersihkan atau tidak. Ini adalah urusan lingkungan kita sendiri. Soal kenyamanan pribadi kita juga. Pernah merasakan ingin duduk di suatu tempat, tapi jadi urung karena melihat sampah bertumpuk di sana atau tempatnya tak bersih karena ada sampah berserakan? Nah, itu akibatnya kalau kita terus-menerus berpikiran demikian. Kenyamanan kita sendiri yang justru terganggu.

Setuju atau tidak, semuanya kembali pada pribadi masing-masing. Toh, tulisan ini sekadar opini saya dari curahan hati mereka yang mungkin selama ini kita anggap rendah. Berhentilah menjadi mahasiswa yang apatis karena Tri Dharma Perguruan Tinggi sendiri menyebutkan bahwa sebagai kalangan intelektual yang disebut mahasiswa kita punya peran pengabdian pada masyarakat. Jangan remehkan orang-orang yang posisinya rendah di bawah kita, karena sadar atau tidak mereka adalah bagian yang ikut membentuk kita dan kehidupan kita. (Retno Nurul Aisyah, Jurnalistik Fikom Unpad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *